| dc.description.abstract | Pembangunan pertanian khususnya sub sektor non pangan utama seperti hortikultura buah-buahan pada dewasa ini atau masa yang akan datang akan dihadapkan pada persaingan yang ketat antara negara-negara produsen, bahkan bisa jadi produsen agribisnis Indonesia akan menjadi penonton di rumahnya sendiri. Tanda-tanda kearah tersebut telah dirasakan seperti membanjirnya buah impor di pasar lokal. Namun suatu hal yang cukup menggembirakan adalah adanya komitmen pemerintah dengan kebijakannya untuk membendung membanjirnya komoditas impor, serta terus mendorong peningkatan nilai ekspor komoditas pertanian yang bernilai ekonomis tinggi.
Pembangunan sub sektor tanaman pangan (termasuk hortikultura) di Propinsi Jambi,memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian daerah. Peran tersebut tergambar pada stuktur ekonomi dalam PDRB atas harga berlalu yaitu sebesar 27,14 % pada tahun 1996 naik menjadi 31,36 % pada tahun 2000.
Perhatian pemerintah terhadap pengembangan komoditas hortikultura buah-buahan baru mulai diarahkan sejak tahun 1990-an dengan dikembangkannya program pengembangan sentra produksi buah-buahan. Dengan demikian tidaklah heran pengembangan komoditas buah-buahan di daerah dirasakan agak ketinggalan bila dibandingkan dengan komoditas lainnya.
Jenis tanaman buah-buahan dominan yang diusahakan di propinsi Jambi yaitu : durian, rambutan, melinjo, duku/langsat, pisang, nangka/cempedak, pepaya, jeruk, manggis dan sawo. Pola pengembangan tanaman buah-buahan tersebut lebih banyak dilaksnakan oleh petani dan hanya sedikit melalui perkebunan swasta. Kebun buah-buahan milik petani dilaksanakan secara sederhana atau secara tradisional, sehingga produktivitasnya relatif rendah bila dibandingkan dengan produktivitas secara nasional. Namun demikian, pengembangan tanaman buah-buahan dari kebun petani cukup penting peranannya bagi perekonomian daerah.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendukung pengembangan tanaman buah-buahan, Walaupun demikian pengembangan komoditi ini masih menghadapi berbagai macam permasalahan. Untuk itu perlu segera dirumuskan strategi pengembangan sistem agribisnis tanaman buah-buahan unggulan derah yang tangguh dan berdayasaing tinggi, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani yang pada akhirnya dapat memeberikan kontribusi bagi pembangunan daerah.
Penelitian ini bertujuan untuk memilih komoditas buah-buahan yang menjadi unggulan derah Jambi dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan agribisnis hortikultura buah-buahan. Setelah mengetahui faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan agribisnis hortikultura unggulan tersebut, selanjutnya dirumuskan strategi pengembangan yang tepat, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah bagi pembangunan derah.
Penelitian menggunakan metode deskriptif melalui survei, wawancara dan pengisian kuesioner kepada responden yang dipilih secara sengaja (purposive). Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada formulasi strategi pengembangan agribisnis hortikultura buah-buahan unggulan, yaitu mencakup penetapan komoditas buah-buahan unggulan dengan Metode Perbandingan Eksponensial, mengkajian faktor-faktor strategik internal, dan eksternal dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan (Paire Waise Comparison), dan dilakukan rating untuk menentukan peringkat dari masing-masing faktor strategik, merumuskan alternatif strategi melalui analisis matriks Threats, Opportunities, Weaknesses, Strengths (TOWS), serta menetapkan prioritas strategi yang tepat dengan menggunakan analisis Quantitative Strategic Planning Matriks (QSPM).
Hasil inventarisasi faktor-faktor strategik penentuan komoditas hortikultura unggulan berdasarkan urutan bobot yaitu : teknologi, potensi pasar, motivasi petani, SDM petani, dukungan pemda, infrastruktur, sarana produksi, ketersediaan lahan, kesesuaian lahan, produktivitas lahan, lingkungan alam/iklim, dan kelembagaan. Peringkat komoditas sepuluh jenis buah-buahan yang dinilai berdasarkan faktor penentu tersebut dengan menggunakan MPE ditetapkan peringkat pertama adalah duku, kedua adalah jeruk dan ketiga adalah durian.
Faktor strategik internal yang merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis hortikultura unggulan tersebut di atas, berdasarkan urutan skor yaitu : (1) perhatian dan dukungan pemda untuk mengembangkan komoditas hortikultura, (2) bantuan alat dan mesin pertanian, (3) motivasi petani berusahatani hortikultura buah-buahan, (4) tersedianya bibit unggul, (5) luasnya lahan garapan petani, (6) berdirinya asosiasi pedagang hortikultura, dan (7) adanya juknis bagi petugas. Sedangkan yang menjadi faktor kelemahan adalah : (1) infrastruktur belum memadai, (2) kualitas SDM (petani/ petugas) masih kurang, (3) penguasaan teknologi usahatani, panen dan pasca panen, (4) masih lemahnya kemampuan dan akses permodalan petani, (5) ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan secara berkesinambungan, (6) petani belum memahami keunggulan berusahatani hortikultura buah-buahan, (7) entrepreneurship, (8) industri pengolahan masih merupakan skala kecil/rumah tangga yang masih rendah dalam penguasaan teknologi, dan (9) sebaran usahatani.
Faktor strategik eksternal yang merupakan peluang dalam pengembangan agribisnis hortikultura unggulan berdasarkan urutan bobot yaitu : (1) permintaan produk hortikultura semakin meningkat, (2) ketersediaan teknologi dan alsin untuk industri skala rumah tangga, (3) berkembangnya perusahaan swasta di bidang hortikultura, (4) berdirinya JTC dan JIC, (5) geoekonomi yang strategis untuk pemasaran ekspor, dan (6) berkembangnya pasar swalayan di derah. Sedangkan yang menjadi faktor ancaman yaitu : (1) adanya kendala (mafia) dalam pemasaran produk terutama keluar daerah, (2) gangguan alam/musim yang tidak menentu, (3) sistem distribusi sarana produksi, (4) persaingan mutu dengan produk ekspor dan industri besar di bidang makanan olahan, (5) tingkat harga sarana produksi, (6) belum adanya kemitraan/bapak angkat dibidang hortikultura, (7) bergulirnya AFTA 2003, (8) tingginya suku bunga bank, dan (9) kemitraan dengan perbankan/BUMN.
Hasil analisis menggunakan matriks TOWS, diperoleh delapan alternatif strategi pengembangan hortikultura unggulan yaitu : (1) Pengembangan intensifikasi, ekstensifikasi, rehabilitasi dan pola tumpang sari dalam rangka penumbuhan kawasan hortikultura, (2) Pengembangan dan pembinaan industri pengolahan, (3) mendorong penumbuhan investasi dan fasilitasi kemitraan antara petani dengan pengusaha/lembaga penunjang lainnya, (4) Peningkatan SDM pelaku agribisnis (petani dan petugas) melalui pelatihan, magang dan studi banding, (5) mendorong peningkatan mutu hasil melalui penyediaan sarana produksi, dan penerapan teknologi usahatani dan produksi, (6) Optimalisasi koordinasi antara instansi terkait dalam pengembangan hortikultura, (7) pemberdayaan kelembagaan petani dan mendorong peran serta institusi penunjang yang ada di daerah dan (8) memacu peningkatan sarana dan prasarana di pedesaan untuk menunjang industri pengolahan hasil.
Penetapan strategi yang dianalisis dengan menggunakan QSPM terhadap kedelapan set alternatif strategi, berdasarkan nilai Total Attractiveness Score (TAS), maka diperoleh tiga prioritas strategi utama yaitu : (1) Mendorong penumbuhan investasi dan fasilitasi kemitraan antara petani dengan pengusaha/lembaga penunjang lainnya (Nilai TAS = 4,744), (2) Mendorong peningkatan mutu hasil melalui penyediaan sarana produksi dan penerapan teknologi usahatani dan produksi (Nilai TAS =4,606), (3) Pengembangan intensifikasi, ekstensifikasi, rehabilitasi dan pola tumpang sari dalam rangka penumbuhan kawasan hortikultura (Nilai TAS = 4,213). | |