| dc.description.abstract | Program Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan populasi ternak sapi, produksi baik kuantitas dan kualitasnya. Walaupun program ini sudah lama dikenalkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Kota Padang, namun hasilnya melum memuaskan.
Berdasarkan perkembangan jumlah ternak sapi yang dilayani oleh Pos IB selama 6 (enam) tahun terakhir hanya sekitar 13 - 32% dari keseluruhan jumlah populasi ternak sapi yang ada. Dengan kata lain jumlah akseptor IB rata-rata 41% dari betina dewasa. Selain itu tingkat keberhasilan inseminasi buatan terlihat masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Service per Conception (S/C) yang masih tinggi yaitu 2,7 dan Conception Rate (CR) yang rendah yaitu 57,8%. Target yang ditetapkan oleh Ditjen Peternakan (1991) untuk S/C dibawah 1,6 dan CR lebih besar dari 62,5%.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: a). bagaimana karakteristik, persepsi dan sikap peternak dalam pemanfaatan Pos IB serta variabel pelayanan Pos IB yang diinginkan oleh peternak, b). faktor-faktor apa saja yang menyebabkan peternak memanfaatkan/tidak memanfaatkan pelayanan Pos IB, c). apa yang harus dilakukan Pos IB dalam meningkatkan kepuasan peternak, dan d). bagaimana meningkatkan jumlah peternak dalam memanfaatkan pelayanan Pos IB.
Adapun tujuannya untuk: a). mengidentifikasi karakteristik, persepsi dan sikap peternak dalam pemanfaatan Pos IB, b). mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan peternak memanfaatkan/tidak memanfaatkan pelayanan Pos IB, c). menganalisis variabel-variabel pelayanan Pos IB untuk meningkatkan kepuasan peternak dalam memanfaatkan Pos IB, dan d). merumuskan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan jumlah peternak dalam pemanfaatan pelayanan Pos IB.
Data diperoleh dari 83 orang peternak di Kota Padang. Metode analisis data meliputi: analisis deskriptif, uji t-test, chi-square (X2), Mann-Whitney dan model regresi logistik untuk mendapatkan gambaran mengenai karakterisrik, persepsi dan sikap peternak. Metode ServQual untuk mengukur tingkat kepuasan peternak terhadap pelayanan Pos IB. Penilaian kepuasan peternak dilakukan terhadap 5 (lima) dimensi kualitas pelayanan Pos IB yang diinginkan yaitu sarana fisik (tangibles), kehandalan (reliability), kesigapan (resposiveness), meyakinkan (assurance) dan menaruh perhatian (empathy). Setiap dimensi dijabarkan dalam beberapa variabel dengan jumlah 14 variabel yang dinilai tingkat pelaksanaan (kepuasan) dan tingkat kepentingannya (harapan).
Berdasarkan hasil analisa data ternyata karakteristik peternak Kota Padang berumur 15 – 55 tahun, berpendidikan rendah (SD dan tidak tamat SD), mata pencaharian pokok bertani dan beternak merupakan cabang usaha dengan tujuan mengisi waktu luang/sambilan dan sebagai tabungan dengan jumlah tanggungan keluarga lebih 3 orang. Sebagian besar peternak belum menjadikan beternak sebagai pekerjaan utama mengingat skala kepemilikan ternak kecil yaitu 1 – 4 ekor, lama beternak di atas 6 tahun, pola pemeliharaan sederhana (ekstensif) dan semi intensif menyebabkan tingkat produktivitas ternak masih rendah.
Faktor yang mempengaruhi peternak menggunakan sistem perkawinan IB atau kawin alam adalah pendidikan, lama beternak dan skala kepemilikan ternak. Persepsi peternak terhadap pelayanan Pos IB baik peternak yang menggunakan sistem IB maupun kawin alam adalah: tidak perlu memelihara ternak jantan, pemeliharaan ternak harus lebih baik, biaya pelayanan relatif mahal dan anak sapi yang dihasilkan bagus. Sikap peternak yang belum memanfaatkan pelayanan Pos IB baru dalam tahap mengetahui (kognitif) dan berkeinginan menggunakan (afektif). Dengan kata lain peternak sudah melalui proses adopsi pada tahap kesadaran dan berminat. Dilain pihak peternak yang sudah memanfaatkan pelayanan Pos IB menunjukkan sikap yang berbeda dalam menilai pelayanan yang diterima.
Secara keseluruhan kualitas pelayanan Pos IB memuaskan peternak karena median kenyataan dan harapannya sama, yaitu 4. Hasil ini juga diperkuat oleh hasil uji Mann-Whitney (U-test) yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata antara kenyataan dan harapan responden. Namun beberapa variabel yang menjadi prioritas Pos IB untuk ditingkatkan adalah: pemberian kartu akseptor, keberhasilan IB, keaktifan petugas, ketersediaan semen beku, jenisnya dan pengarahan petugas. Langkah yang harus dilakukan Pos IB adalah menerapkan strategi bauran pemasaran (promotion, product, price, place) yaitu lebih intensif memberikan penyuluhan/ pengarahan, menyediakan semen beku secara tepat waktu, menetapkan biaya pelayanan berdasarkan jenis semen beku yang tersedia dan membangun Posyandu ternak. | |