| dc.description.abstract | Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian secara keseluruhan, di mana sub-sektor ini memiliki nilai strategis dalam pemenuhan kebutuhan manusia yang terus mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan penduduk Indonesia, peningkatan pendapatan per kapita serta taraf hidup masyarakat.
Berlangsungnya era Otonomi Daerah sebagai salah satu wujud tuntutan reformasi, diawali dengan Ketetapan MPR No, XV/MPR/1998 dan Undang-Undang No, 22 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan Kewenangan Pemerintah Pusat, Kewenangan Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Otonom Kabupaten/Kota, yang kemudian diikuti oleh Peraturan Pemerintah No,25 tahun 2000 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah menuntut tanggung jawab Pemerintah Daerah dalam pengembangan seluruh sektor. Di antaranya adalah sektor pertanian yang di dalamnya mencakup sub sektor peternakan.
Selama ini Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat menerapkan strategi pengembangan peternakan yang berlaku menyeluruh untuk semua jenis ternak, sehingga perlu dirumuskan suatu strategi khusus untuk pengembangan ternak sapi potong.
Berangkat dari kondisi tersebut, maka permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini meliputi : 1) bagaimana strategi operasional yang digunakan dalam pengembangan peternakan di Propinsi Sumatera Barat saat ini, 2) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan menentukan pengembangan ternak sapi potong berwawasan agribisnis di propinsi Sumatera Barat, 3) alternatif strategi apa saja yang kemungkinan dapat digunakan untuk pengembangan ternak sapi potong berwawasan agribisnis di propinsi Sumatera Barat, serta 4) bagaimana prioritas strategi yang dapat direkomendasikan kepada Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat dalam pengembangan ternak sapi potong berwawasan agribisnis. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1) menganalisis strategi pengembangan peternakan yang diterapkan di Propinsi Sumatera Barat saat ini, 2) mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi serta yang merupakan penentu pengembangan ternak sapi potong berwawasan agribisnis di propinsi Sumatera Barat, 3) menyusun alternatif strategi pengembangan ternak sapi potong berwawasan agribisnis di propinsi Sumatera Barat, dan 4) merekomendasikan prioritas strategi pengembangan ternak sapi potong berwawasan agribisnis kepada Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang ada dan dilakukan dalam bentuk survei, pengampilan contoh menggunakan teknik tanpa peluang dengan sampel sengaja. Jenis data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder, sedangkan sumber data berasal dari internal dan eksternal dinas. Data tersebut diperoleh melalui observasi langsung, wawancara, kuesioner dan studi pustaka. Tahapan yang dilakukan dalam analisis data adalah : (1) analisis Internal Factor Evaluation dan External Factor Evaluation (IFE-EFE), yang digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh, (2) matriks Threats-Opportunities-Weaknesses-Strengths (TOWS), digunakan untuk merumuskan alternatif strategi, dan (4) analisis Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM).
Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal, diperoleh faktor-faktor strategis yang merupakan kekuatan dan kelemahan. Faktor-faktor kekuatan terdiri dari : (1) komitmen pimpinan dalam pengembangan ternak sapi potong, (2) adanya dukungan kebijakan Pemda, (3) penguasaan bioteknologi (IB dan TE), (4) tersedianya tenaga pelayanan/SDM (IB, TE, Keswan, dan sebagainya), (5) tersedianya infrastruktur dan kelembagaan (pos IB, Laboratorium Keswan dan Kesmavet, BIB, dan sebagainya), dan (6) potensi meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sedangkan faktor-faktor kelemahan terdiri dari : (1) anggaran dan permodalan, (2) ketersediaan bibit ternak sapi potong, (3) skala usaha dan kepemilikan ternak, (4) kelompok ternak yang belum berfungsi optimal, (5) penggunaan sistem informasi manajemen, serta (6) sistem pemasaran dan distribusi yang belum transparan.
Dari hasil analisis lingkungan eksternal diperoleh faktor strategis yang dapat menjadi peluang dan ancaman. Faktor-faktor peluang terdiri dari : (1) budaya, pengalaman serta filosofi masyarakat Minangkabau, (2) daya dukung lahan untuk ternak sapi potong, (3) permintaan daging sapi (domestik dan regional), (4) adanya dukungan kebijakan Pemerintah Pusat, (5) perkembangan teknologi informasi, dan (6) investasi perantau Minang (IKM). Sedangkan faktor-faktor ancaman terdiri dari : (1) kondisi politik, keamanan dan hukum yang kurang kondusif, (2) berlakunya era perdagangan bebas (AFTA dan APEC), (3) penyakit reproduksi ternak sapi potong dan penyakit menular lainnya, (4) pemotongan sapi betina produktif, (5) produk substitusi daging sapi (telur, daging ayam dan sebagainya), serta (6) ketersediaan pakan konsentrat.
Berdasarkan hasil analisis matriks IFE diperoleh total skor tertimbang 2,5922 yang berarti bahwa secara realita kekuatan Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat sudah berada di atas rata-rata, sehingga diharapkan mampu mengatasi kelemahan yang dimiliki dalam rangka pengembangan ternak sapi potong. Dari hasil analisis matriks EFE diperoleh total skor tertimbang 2,6868, yang berarti bahwa Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat akan mampu di atas rata-rata dalam merespon faktor-faktor lingkungan eksternal (peluang dan ancaman).
Berdasarkan analisis matriks TOWS diperoleh 8 (delapan) alternatif strategi yang dapat digunakan dalam pengembangan ternak sapi potong, yaitu : (1) pengembangan usaha ternak sapi potong melalui penerapan konsep kawasan, (2) pemberdayaan infrastruktur dan kelembagaan petani/peternak sapi potong, (3) memanfaatkan dan mengembangkan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan, (4) mengintensifkan pengembangan SDM dan pemanfaatan serta perlindungan SDA lokal guna pengembangan ternak sapi potong, (5) optimalisasi peranan sistem informasi guna memperbaiki sistem pemasaran dan distribusi ternak sapi potong, (6) meningkatkan kerjasama dengan Perbankan dan IKM dalam pengadaan sapi bakalan dan permodalan, (7) peningkatan skala usaha dan industri ternak sapi potong dan (8) mengintensifkan pemanfaatan Sikhnas (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional).
Dalam rangka pengembangan usaha ternak sapi potong melalui penerapan konsep kawasan, maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut :
(a) Perlu diperkuat koordinasi dengan berbagai instansi di luar Dinas Peternakan, seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Daerah, Penanaman Modal dan Pengelolaan Pasar, Dinas Koperasi, Kantor Humas dan Informatika, Bappeda, serta instansi atau pihak lain yang terkait; (b) Perlu dibentuk suatu forum yang bertugas melakukan sinkronisasi kegiatan pengembangan kawasan peternakan dan usaha-usaha agribisnis dengan melibatkan setiap pelaku agribisnis, sehingga dalam proses penyusunan master plan hendaknya mengikutsertakan instansi lain dan mengacu kepada rencana yang telah ada di Kabupaten/Kota setempat; (c) perlu dilakukan sosialisasi program dan identifikasi lokasi, identifikasi pasar, identifikasi peternak, identifikasi ternak dan membuat monografi kawasan; dan (d) Dinas Peternakan harus melakukan integrasi vertikal dengan Pemda Propinsi dan DPRD Sumatera Barat untuk melakukan upaya bagaimana supaya Pemerintah Daerah dapat menciptakan iklim investasi yang bergairah, sehingga merangsang perkembangan dunia usaha, khususnya dalam menciptakan iklim investasi bidang peternakan di daerah Sumatera Barat.
Dalam rangka meningkatkan kerjasama dengan Perbankan dan IKM untuk pengadaan sapi bakalan dan permodalan, maka dinas dapat menjadi mediator dalam penyaluran hubungan langsung antara perbankan dengan kelompok-kelompok ternak yang dapat bersumber dari Bank Umum (Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, BNI, BRI, dan lain-lain) dan BPD/Bank Nagari. Kerjasama dengan Ikatan Keluarga Minang (IKM) yang telah mulai berjalan sebaiknya selain diprioritaskan untuk daerah-daerah kawasan sentra pengembangan ternak sapi potong, juga dapat diterapkan pada daerah lain yang potensial untuk pengembangan ternak sapi potong (on-farm) serta daerah–daerah yang berpotensi sebagai pusat industri ternak sapi potong (off-farm). | |