| dc.description.abstract | Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 mengakibatkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US$. Hal ini mengakibatkan harga SAPRONAK (Sarana Produksi Ternak) meningkat tajam karena sebagian besar bahan bakunya masih harus diimpor dari luar negeri. Kondisi ini sangat mengganggu kestabilan industri peternakan ayam ras. Akibat dari krisis moneter, banyak peternak yang tidak bisa meneruskan usahanya (bangkrut) dan mengakibatkan industri penetasan DOC (Day Old Chicks) mengurangi jumlah produksi atau bahkan menutup usahanya.
Pesatnya perkembangan pariwisata di Bali merupakan salah satu hal penting yang mempengaruhi permintaan daging ayam di Bali. Pada pertengahan tahun 1998 jumlah wisatawan yang datang ke Bali mengalami peningkatan yang sangat pesat mengakibatkan harga daging melambung tinggi, jauh di atas harga pokok produksinya.
Pada tahun 1999 peternakan ayam ras pedaging, khususnya di Bali perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Sebagian peternak memilih menjadi peternak kemitraan untuk mengurangi resiko kerugian dan sebagian lagi tetap menjadi peternak mandiri.
Pada saat ini harga DOC pedaging sangat berfluktuasi yang disebabkan oleh berfluktuasinya permintaan dan nilai tukar rupiah terhadap US$. Pada saat permintaan DOC tinggi, maka DOC yang dihasilkan oleh perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan pasar. Hal ini mengakibatkan DOC yang masuk dari Jawa Timur ke Bali semakin banyak. DOC yang dihasilkan perusahaan harus terjual seluruhnya dalam waktu satu hari (maksimal 36 jam) setelah menetas. Hal ini mengakibatkan pada saat permintaan DOC rendah, maka perusahaan akan “mengobral” DOC yang dihasilkan untuk mengurangi kerugian.
Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mengidentifikasikan strategi dan kinerja pemasaran yang dilakukan perusahaan, 2) Menganalisis kondisi persaingan industri produk DOC pedaging yang dihadapi oleh PT X di Bali, 3) Menganalisis kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi dalam pemasaran produk DOC perusahaan, 4) Menyusun dan merekomendasikan rencana serta strategi pemasaran yang tepat bagi pemasaran DOC PT X di Bali.
Penelitian ini dilaksanakan di PT X unit Bali yang berlokasi di Denpasar dari bulan September – November 2002. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu dilakukan pengumpulan data untuk menjawab permasalahan yang ada dan bentuk penelitian adalah studi kasus. Data yang diperoleh diperoleh diolah dengan menggunakan alat analsis yang sesuai, yaitu : analisis kinerja pemasaran, analisis persaingan industri, analisis internal dan eksternal, matriks IE, matriks BCG dan matriks SWOT.
Berdasarkan analisis kinerja pemasaran yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa kondisi kinerja perusahaan secara umum cukup baik dilihat dari jumlah produksi yang semakin meningkat pasca krisis moneter dan perusahaan mampu menjual seluruh DOC yang diproduksi..
Berdasarkan analisis persaingan industri diperoleh skor tingkat persaingan industri 3.00, ancaman pendatang baru 2.16, kekuatan tawar-menawar pemasok 2.43, kekuatan tawar-menawar pembeli 2.68 dan ancaman produk pengganti 2.89, sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan berada di dalam industri dengan tingkat persaingan yang tinggi.
Berdasarkan matriks IFE diperoleh skor perusahaan sebesar 3.27, yang berarti perusahaan memiliki kekuatan yang dominan dibandingkan dengan kelemahan yang dimiliki. Berdasarkan matriks EFE diperoleh skor perusahaaan 2.73, yang berarti perusahan memiliki kemampuan yang cukup dalam merespon peluang yang ada. Akan tetapi dilihat dari rating dalam faktor ancaman yang berkisar antara 1-3 berarti bahwa perusahaan belum mampu menghindari ancaman yang dihadapi. Perusahaan berada pada kuadran IV di dalam matriks Internal-Eksternal, yang berarti perusahaan berada pada kuadran tumbuh dan bina dengan alternatif strategi yang disarankan adalah: strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar dan pengembangan produk) dan strategi integratif (integrasi ke depan, integrasi ke belakang dan integrasi horisontal).
Di dalam matriks BCG perusahaan berada pada posisi Tanda Tanya (The Question Mark), yang artinya PT X belum mempunyai peranan yang signifikan dalam pasar DOC di Bali. Industri DOC di Bali memiliki peluang-peluang yang menarik yang belum dimanfaatkan oleh perusahaan. Strategi yang tepat dalam divisi ini adalah strategi intensif yaitu: penetrasi pasar, pengembangan pasar dan pengembangan produk.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan (Matriks IE, Matriks BCG dan Matriks SWOT) terhadap faktor-faktor kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan, maka dalam rangka pengembangan usaha dan memperkuat posisi PT X dalam industri penetasan DOC diberikan formulasi strategi meliputi:1) Meningkatkan pangsa pasar DOC dengan cara membuka cabang pemasaran di daerah potensial di Bali dan NTB. Dengan adanya cabang di seluruh daaerah di Bali dan NTB akan memudahkan konsumen dalam memperoleh informasi mengenai produk yang dihasilkan oleh perusahaan, lebih mudah berkonsultasi dan perusahaan akan lebih dekat dengan konsumen. 2) Selama ini konsumen memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kualitas DOC serta pelayanan purna jual yang diberikan oleh perusahaan. Dalam upaya untuk menjaga kepercayaan konsumen, maka perusahaan harus selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas produk dan pelayanan yang diberikan. 3) Dalam upaya untuk menghadapi fluktuasi permintaan DOC yang sangat tinggi, maka perusahaan perlu melakukan perbaikan-perbaikan dan inovasi di dalam pola kerjasama kemitraan dengan peternak. 4) Diferensiasi SDM dilakukan dengan memberikan pelatihan yang bersifat teknis produksi dan juga pelatihan mengenai pelayanan kepada konsumen. 5) Dalam upaya untuk meningkatkan penjualan, maka perusahaan perlu melakukan promosi dengan menjadi sponsor dalam acara-acara yang berhubungan dengan peternakan ayam broiler, bekerjasama dengan Dinas Peternakan dalam memberikan penyuluhan ke desa-desa potensial serta menjadi sponsor dalam pembentukan kelompok-kelompok peternak. 6) Selama ini perusahaan selalu mengimpor DOC GPS (Grand Parent Stock) dari luar negeri (Jerman). Dalam upaya untuk melepaskan ketergantungan dari pihak luar, maka perusahaan perlu meningkatkan pengetahuan tentang produksi DOC GPS (Grand Parent Stock) dengan cara memberikan pendidikan khusus kepada karyawan yang berpotensi untuk menciptakan DOC GPS. 7) Perusahaan perlu mengadakan kerjasama dengan Pinsar Unggas (Pusat Informasi Pasar Unggas) untuk memberikan informasi mengenai trend permintaan konsumen. | |