Show simple item record

dc.contributor.authorSupriatna, Adnan
dc.date.accessioned2010-05-07T12:31:53Z
dc.date.available2010-05-07T12:31:53Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/15807
dc.description.abstractProduksi udang windu secara nasional sejak 1994 tidak menunjukkan peningkatan bahkan terjadi penurunan yang tajam sekitar lebih dari 100.000 ton/tahun menjadi dibawah 80.000 ton/tahun sejak 1995 sampai tahun 2000. Berbagai kendala telah diketahui sebagai penghambat peningkatan produksi udang windu di tambak, namun penyakit dikenal sebagai penyebab utama, salah satunya adalah serangan penyakit virus. Salah satu jenis virus yang menginfeksi udang penaeid adalah White Spot Syndrome Virus (WSSV). Serangan WSSV dapat mematikan seluruh udang dalam waktu kurang satu minggu dari gejala serangan pertama terdeteksi. Upaya pengobatan sarnpai saat ini belum berhasil karena belum diteinukan bahan kimia atau antibiotik yang secara efektif dapat ~nembunuh virus White Spot. Upaya untuk inengatasi serangan virus dapat dilakukan dengan cara merangsang respon imun melalui vaksinasi. Tujuan dari penelitian ini adalah lnengetahui pengaruh perendaman &lam ekstrak biji mangrove X~)locarpus granatunz teihadap patogenisitas WSSV pada udang windu. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret sampai dengan Juli 2003. Percobaan penularan serta pengamatan perubahan gejala klilnis (perubahan patologis dan morfologis) udang uji dilakukan di Laboratoriuln Hama dan Penyakit Udang dan Ikan, Eafai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Preparasi dm pengamatan histologis udang uji difakukan di Laboratorium Kesehatan &an, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, hstitut Pertanian Bogor, Bogor. Tahapan penelitian terdiri dari screening dan adaptasi terhadap udang uji, kemudian pembuatan inokulum virus white spot, percobaan inaktifasi virus, penularan virus perlakuan terhadap udang uji dan uji tantang udang uji dengan virus tanpa perlakuan. Penelitian diawali dengan screening formalin (100 ppm) terhadap udang uji, berasaf dari Jepara, dan mengadaptasikannya seiama seminggu. Kemudian dilakukan pembuatan inokulum virus berdasarkan metode Hameed et al. (1997), yaitu dengan membuat suspensi organ udang terinfeksi pada konsentrasi 10% (wlv), dimana 1 gram organ udang terini-kksi digems dan dilarutkan daiam I0 mi air laut sten'f kemudian disentrifugasi (3000xg, 20 menit; dan 8000xg, 30 menit) dan disaring dengan kertas Miliphore 0 . 4 5 ~ ~se1h ingga didapatkan larutan baku virus dengan konsentrasi 20 mgfml. Inokulum virus dibuat dari udang yang terinfeksi WSSV, yang berasal dari Indramayu, Jawa Barat. Percobaan perendaman virus dalam ekstrak biji mangrove (EBM) dilakukan selama 30 menit dengan dosis 25 ppm, 50 ppm dan 100 ppm, dan konsentrasi virus 2 rn-d ml (pengenceran 10-'1. Kemudian dilakukan uli penularan terhadap udang windu stadia PL 15 secara perendaman selalna 60 menit d e n ~ nko nsentrasi virus 0.02 !nsf!n(!g engemeran 10"). Pada K(-) ?id& di!&_k.ukan uji p~;n~l!.+.rarned, angkar! K ( i - ) udacg uji diinfPksi d~lngsr(v. in~sta nps per!akusr(. EEM. Udeng u;i dipe!ihln da!am z&a:i:m &-&&:a:: 60~,3Gx4G :e!ama 34 ha:i, kcnu.';aZ &!&&a:: :;: &r.%ng menggunakan virus aktif, yang dinokulasi dengan metode dan asal virus yang sa~na, lalu dipelihara selama 14 hari. Sela~nap emeliharaan dilakukan pengamatan gejala klinis pada udang uji yang meliputi pembahan patologis (respon makan dan aktivitas berenang, tubuh kemerahan, perubahan warna hepatopankreas dan mata, serta bintik putih pada karapas) dan morfologi (kemsakan alat gerak dan perubahan warna tubuh, hepatopankreas dan rnata, serta munculnya bintik putih pada karapas) serta pengarnatan histologis: hepatopankreas, insang, limfoid, usus dan kulit untuk mengetahui patogenitas WSSV pasca penularan I dan uji tantang, mortalitas dan pengukuran parameter kualitas air pada awal dan akhir pemeliharaan. Pada pasca penularan I, SR K(+) dan kelolnpok perlakuan lebih rendah daripada K(-). Pasca uji tantang, pada K(+) terjadi penurunan SR dan kematian total pada K(-). Sedangkan pada kelolnpok perlakuan mengalami peningkatan, dimana yang tertinggi terjadi pada perlakuan virus dengan ekstrak biji mangrove 100 ppm. Penggunaan ekstrak biji mangrove Xj~Locurpus grunulunz dapat rneningkatkan kelangsungan hidup udang uji yang diinfeksi WSSV inaktif sebelwn uji tantang. Tingkat kelayakan WSSV inaklif pada dosis ekstrak biji mangrove adalah sebesar 87.41%.id
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titlePengaruh Perendaman White Spot Syndrom Virus (WSSV) dalam Ekstrak Biji Mangrove (Xylocarpus granatum) Terhadap Patogenitasnya pada Wang Windu (Penaeus monodon Fabr.).id


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record