Show simple item record

dc.contributor.advisorTanopruwito, Djoni
dc.contributor.advisorHartoyo, Sri
dc.contributor.authorPriyambodo, Ahmad Jamhari
dc.date.accessioned2024-08-06T06:51:00Z
dc.date.available2024-08-06T06:51:00Z
dc.date.issued2003
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/156248
dc.description.abstractMasih besamya kesenjangan antara konsumsi susu dan produksi susu secara nasional, mengindikasikan besarnya ketergantungan industri susu nasional terhadap impor bahan baku. Di sisi lain konsumsi susu penduduk Indonesia perkapita pertahun masih sangatlah rendah, yaitu sekitar 4,16 kg/kapita/tahun, sedangkan di Korea sekitar 6,67 kg/kapita/tahun dan Kamboja sekitar 12,97 kg/kapita pertahun. Seiring dengan pertumbuhan penduduk. Maka akan terjadi pertambahan konsumsi susu dan apabila industri peternakan sapi perah tidak dapat meningkatkan produksi susu segamya, maka kesenjangan antara konsumsi dan produksi susus nasional akan semakin melebar. Total produk susu yang dipasarkan di Indonesia mencapai 1.000 juta liter yang didominasi oleh susu dalam bentuk Sweetened and Condensed Milk (susu kental manis) sebesar 500 juta liter atau 50 % dan dalam bentuk powder (susu bubuk) sebesar 450 juta liter atau 45 %. Sedangkan sisanya sebesar 50 juta liter atau 5 % dalam bentuk liquid (susu cair). Masih kecilnya porsi susu cair menunjukkan masyarakat Indonesia masih belum terbiasa mengkonsumsi susu cair, karena susu cair lebih banyak dikonsumsi oleh golongan menengah ke atas. Dalam industri pengolahan susu yang integrated dengan perusahaan petemakan sapi perah, produktivitas susu yang dihasilkan oleh sapi merupakan faktor yang penting, karena sebenamya pada sapi tersebut telah tertanam biaya investasi yang relatif mahal. Untuk membeli sapi impor dari Australia siap perah dibutuhkan dana mencapai Rp. 8,2 juta per ekor. Mahalnya biaya investasi tersebut harus diikuti dengan produktifitas yang memadai, sehingga dari susu yang dihasilkan, investasi yang telah tertanam dapat kembali. Faktor penting lain yang berpengaruh adalah manajemen pakan. Dalam hubungan kemitraan akan terjadi alokasi biaya bagi masing-masing pihak yang bermitra. Dengan adanya alokasi biaya tersebut, ada biaya yang menjadi tanggungjawab perusahaan inti, misalnya pakan, obat obatan, semen untuk inseminasi buatan dan ada biaya yang akan menjadi beban petemak plasma, misalnya biaya investasi sapi perah. Sebagai sebuah industri pengolahan susu yang relatif baru, PT. XYZ dalam mengembangkan usahanya, mempunyai 2 pilihan apakah dalam upaya mencapai target produksi dan penjualan akan mengusahakan sendiri pasokan bahan baku susu segar atau melalui pola kemitraan dengan petemak sapi perah. Dari uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan, yaitu (a) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kelayakan pola kemitraan antara industri pengolahan susu dengan petemak, (b) berapa besar pengaruh kemitraan terhadap struktur biaya perusahaan dan keuntungan dan kerugian apa yang diperoleh peternak dan perusahaan dengan adanya pola kemitraan, (c) apakah pola kemitraan antara ...dst.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleAnalisis Kelayakan Pola Kemitraan Sapi Perah Pada Industri Susu Integrated : Studi Kasus Pada Pt Xyzid
dc.subject.keywordSusuid
dc.subject.keywordPt Xyzid
dc.subject.keywordMalangid
dc.subject.keywordJawa Timurid
dc.subject.keywordManajemen Keuanganid
dc.subject.keywordPilihan Pengembangan Usahaid
dc.subject.keywordKriteria Investasiid
dc.subject.keywordStudi Kasusid
dc.subject.keywordSusu, PT. XYZ
dc.subject.keywordMalang
dc.subject.keywordManajemen Keuangan
dc.subject.keywordPilihan Pengembangan Usaha
dc.subject.keywordKriteria Investasi
dc.subject.keywordStudi Kasus


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record