| dc.description.abstract | Setelah krisis terjadi perubahan pola cara mengkonsumsi obat dimana masyarakat cenderung melakukan self medication dengan membeli obat di pasaran bebas dari pada membeli dengan resep dokter yang biayanya jauh lebih mahal. Sehingga tidak heran jika obat OTC (over the counter) yang umumnya adalah obat untuk penyakit ringan seperti: obat sakit kepala, obat maag, obat anti mabuk, obat flu, dan sebagainya, dengan berbagai merek semakin memperketat persaingan di pasar obat. Hal ini menyebabkan konsumen memi!iki banyak pilihan terhadap obat OTC yang akan dikonsumsi. Pengetahuan yang jelas dan kemampuan mengamati harapan konsumen terhadap produk yang akan dibeli secara jeli merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh produsen agar produknya dapat bersaing di pasar. Atribut yang melekat pun menjadi penting untuk dikaji dan diketahui agar produsen mampu membuat dan menyediakan produk obat yang diinginkan oleh konsumen serta menerapkan strategi pemasaran produknya dengan tepat.
PT.Phapros sebagai salah satu perusahaan farmasi yang mengandalkan obat anti mabuk di pasar dengan merek Antimo pun turut bersaing dengan merek-merek obat anti mabuk lainnya. Meskipun merupakan pemimpin pasar, Antimo tidak bisa mengabaikan adanya potensi-potensi ancaman dari pesaing-pesaing lainnya yang m·enyerang dari segi harga, pangsa pasar dan kemasan atau bahkan potensi munculnya - pesaing baru. Potensi ancaman tersebut merupakan alasan produsen untuk mempelajari perilaku konsumen terutama berkaitan dengan atribut ideal di mata konsumen sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui; (1) Bagaimana perilaku terhadap penggunaan produk obat anti mabuk, (2) Dari atribut yang ada manakah yang menjadi perhatian konsumen, dan (3) Bagaimana implikasinya pada strategi pemasaran PT.Phapros.
Dari perumusan masalah tersebut, maka tujuan penulisan thesis ini dirangkum sebagai berikut; (1) Menganalisis tingkat pengenalan dan kesadaran konsumen terhadap produk anti mabuk, merek serta cara pemakaian (2) Mengidentifikasi perilaku konsumen terhadap penggunaan produk obat Antimo(3) Mengidentifikasi atribut-atribut yang menjadi perhatian utama konsumen (4) Memformulasikan alternatif strategi pemasaran produk berdasarkan hasil analisa perilaku konsumen.
Pengumpulan -data dilakukan di terminal Kampung Rambutan dan Pulo Gadung pada bulan Juni tahun 2001 hingga bulan Agustus tahun 2001. Data primer diperoleh dengan melakukan survey konsumen terhadap 60 orang konsumen, dimana sampel dipilih dengan purposive (non-probability sampling) yaitu responden terdiri dari konsumen yang menggunakan produk Antimo dan konsumen yang mengetahui produk Antimo namun tidak menggunakannya. Data yang dikumpulkan dengan cara penyebaran kuisioner yang meliputi data demografi Genis kelamin, usia, status, pendidikan, pekerjaan, jumlah anggota keluarga dan pengeluaran), perilaku konsumen obat anti mabuk (awareness), persepsi, perilaku, manfaat yang diinginkan, saat mengkonsumsi, pengambilan keputusan dalam pembelian, tempat membeli, jumlah yang dikonsumsi, penilaian atribut obat anti mabuk, penilaian dan pengetahuan tentang merek Antimo, penilaian dan pengetahuan tentang merek lain dan kepercayaan terhadap produk). Model yang digunakan adalah analisa Fishbein dan analisa B-Plot.
Hasil analisa demografi konsumen menunjukkan bahwa karakteristik konsumen adalah lbu rumah tangga usia muda antara 20-30 tahun,umumnya telah menikah, bekerja di swasta, dengan pendidikan D3 & S1 serta melakukan pembelian untuk keluarga, baik untuk anak ataupun suami. Konsumen adalah sebagai pengambil keputusan pembelian, pembeli sekaligus pengkonsumsi. Analisa terhadap tingkat pengenalan produk menunjukkan bahwa konsumen menyebutkan merek Antimo sebagai Top of Mind, konsumen mengetahui 4 dari 6 merek obat anti mabuk yang beredar serta menganggap Antangin dapat digunakan sebagai obat anti mabuk selain sebagai obat masuk angin. Konsumen telah mempersepsikan Antimo sebagai obat anti mabuk namun salah mempersepsikan obat masuk angin Antangin. Kesalahan tersebut disebabkan oleh informasi yang dicantumkan dimuka kemasan Antangin.
Analisa terhadap perilaku konsumen menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen minimal melakukan bepergian keluar kota satu bulan sekali. Pengenalan pertama konsumen terhadap produk adalah melalui . keluarga baru melalui media baik cetak maupun elektronik. Mayoritas menyukai pembelian bentuk strip, dengan type Impulse Purchase serta tidak _ selalu dan sengaja menyediakan obat anti mabuk, pembelian dilakukan di warung dan supermarket, dan keputusan pembelian dilakukan oleh diri sendiri. Konsumen mengharapkan manfaat lebih pada obat anti mabuk, lebih dari sekedar menghilangkan mual namun juga dapat menambah vitalitas, menyebabkan tidur, menjaga stamina dan menghilangkan lelah. Uniknya meskipun menginginkan seluruh informasi tercantum pada kemasan namun konsumen cenderung mengabaikan cara pemakaian komposisi produk.
Analisa terhadap atribut obat anti mabuk dengan Model MultiAtribut Fishbein menunjukkan atribut yang diinginkan ada dalam obat anti mabuk adalah atribut kemudahan memperoleh dan manfaat yang langsung terasa. Terdapat 2 merek obat anti mabuk yang tidak mendapat respons dari konsumen yaitu Wisatamex dan Antimob serta 1 merek diketahui konsumen namun tidak ada respons pembelian yaitu Amocabs. Dibandingkan pesaingnya Contramo dan Antangin maka Antimo unggul dari segi kemudahan memperoleh, manfaat langsung terasa dan kemasan praktis namun lemah dari segi komunikasi pemasaran, harga, kandungan tambahan, kemasan menarik, serta rasa. Dengan analisa B-Plot maka gambaran pesaing dan posisi relatif atribut secara jelas terlihat dalam bentuk peta. ...dst. | |