Show simple item record

dc.contributor.advisorSanim, Bunasor
dc.contributor.advisorWahyudi
dc.contributor.authorHermawan, Dedih
dc.date.accessioned2024-08-06T06:44:27Z
dc.date.available2024-08-06T06:44:27Z
dc.date.issued2002
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/156003
dc.description.abstractPengembangan peternakan khususnya ternak sapi di Propinsi Riau, diprioritaskan pada wilayah potensial dan strategis yang sementara ini telah ditetapkan wilayah-wilayah sentra produksi ternak sapi, yaitu di Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kepulauan Riau dan Natuna. Namun, hingga kini hasilnya berupa produksi daging belum dapat mencukupi kebutuhan konsumen masyarakat Riau, sehingga kekurangannya lebih kurang 30% masih didatangkan dari luar, baik dari propinsi tetangga maupun impor dari negara sahabat. Peranan subsektor peternakan terhadap PDRB sektor pertanian dalam kurun waktu 1996 hingga 1999 hanya 6,6% dan merupakan yang terkecil dibandingkan dengan subsektor lainnya seperti tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan kehutanan. Namun demikian, berdasarkan hasil studi yang pernah dilakukan, subsektor peternakan memiliki potensi besar yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan ternak sapi. Potensi tersebut berupa areal atau lahan potensial sebesar 1.200.000 Ha yang dapat menampung ternak sebanyak 1.826.000 ST atau setara dengan 2.408.018 ekor sapi dan baru dimanfaatkan 12,64% atau seluas 146.153 Ha. Disamping itu, dorongan untuk mengembangkan ternak sapi semakin bertambah besar dengan adanya permintaan daging dan konsumsi daging per kapita yang semakin meningkat setiap tahunnya serta pasar yang terbuka luas baik pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Untuk meningkatkan pendapatan para peternak yang menguntung- kan, hendaknya pengembangan ternak sapi tersebut berdasarkan kepada sistem agribisnis yang meliputi (1) Subsistem agribisnis hulu, yakni kegiatan ekonomi yang menghasilkan sapronak, seperti bibit, pakan, obat, vaksin; (2) Subsistem agribisnis budidaya, yakni kegiatan yang menggunakan sapronak untuk menghasilkan komoditi peternakan primer, seperti: bibit sapi dan sapi potong; (3) Subsistem agribisnis hilir, yakni kegiatan yang mengolah komoditas peternakan primer menjadi produk olahan, seperti daging segar, daging beku, kerupuk kulit; (4) Subsistem pemasaran yang meliputi pasar, mata rantai pemasaran, informasi harga pasar, sarana prasarana milsalnya Rumah Potong Hewan; (5) Subsistem penunjang, yakni kegiatan yang diperlukan oleh keempat subsistem agribisnis, seperti: kebijakan pemerintah, permodalan, pelatihan. Apabila hal ini tercapai, maka diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan dari komoditas peternakan, artinya komoditas tersebut tersedia cukup, mudah diperoleh dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Berdasarkan konsep pengembangan ternak sapi yang hendak dikembangkan tersebut, maka perlu dilakukan pembenahan dan peren- canaan mendasar sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing...dst.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleStrategi Pengembangan Ternak Sapi Berorientasi Agribisnis Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Pangan Di Propinsi Riauid
dc.subject.keywordManajamen Strategi
dc.subject.keywordTernak sapi
dc.subject.keywordAgribisnis
dc.subject.keywordKetahanan Pangan
dc.subject.keywordAnalisis IFE
dc.subject.keywordAnalisis EFE
dc.subject.keywordAnalisis Matriks SWOT
dc.subject.keywordAnalisis QSPM dan Analisis Kelembagaan teknik ISM
dc.subject.keywordData Primer dan Sekunder
dc.subject.keywordPropinsi Riau


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record