| dc.description.abstract | Masalah pergulaan di Indonesia hingga saat ini masih terus menjadi polemik yang belum dapat diatasi. Masalah tersebut menjadi suatu hal yang sangat mendasar mengingat gula pasir adalah komoditas yang penting di Indonesia dikaji dari berbagai sisi kepentingan yaitu dari sisi konsumsi masyarakat, industri pengolahan pangan, petani tebu sebagai pemasok bahan baku dan pabrik gula. Campur tangan pemerintah dalam menangani masalah gula dimulai pada tahun 1969 dan berakhir pada tahun 1999, setahun sejak ditandatanganinya letter of intent antara Pemerintah Indonesia dengan International Monetary Fund (IMF). Sejak awal tahun 1999 tersebut, industri gula Indonesia praktis telah mengikuti rejim liberalisasi pasar dengan adanya kebebasan petani untuk tidak menanam tebu, penghapusan tarif impor, dan penghentian monopoli Bulog dalam distribusi dan pemasaran gula. Sejak saat itu gula impor mulai memasuki Indonesia dan mengakibatkan industri pergulaan di Indonesia mengalami masa- masa yang suram, sehingga mengakibatkan banyak pabrik gula yang tutup karena tidak efisien dan petani tebu yang menderita karena tidak dapat memasarkan tebunya. Harga gula impor yang lebih rendah dari harga gula produksi dalam negeri telah mengakibatkan pabrik gula menjual harga gulanya dibawah harga produksi. Walaupun bea masuk impor gula kemudian dinaikkan menjadi 25%, namun hal tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan, dan tidak begitu berpengaruh bagi upaya mengurangi impor gula dan mengamankan posisi gula produksi lokal. Sebagian besar pabrik gula yang berada di Indonesia adalah milik Pemerintah (BUMN). Akhir-akhir ini banyak komentar dari berbagai kalangan yang menyatakan bahwa pabrik gula milik Pemerintah (BUMN) sudah tidak efisien dan dipertanyakan kelaikannya. Hal ini dapat diamati dari dua hal yaitu ketidakmampuan bersaing yang tercermin dari biaya untuk memproduksi gula sudah melebihi harga jual (provenue) dan perkembangan produktivitas tanaman tebu yang cenderung menurun sehingga pasokan bahan baku menurun. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh pabrik gula agar dapat terus bertahan. dst..... | |