Show simple item record

dc.contributor.advisorSyah, Hamdani M
dc.contributor.advisorHarianto
dc.contributor.authorSudarmihadi, Sidik
dc.date.accessioned2024-05-23T04:00:13Z
dc.date.available2024-05-23T04:00:13Z
dc.date.issued2000
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/151151
dc.description.abstractKeputusan melakukan investasi atau capital budgeting decision, merupakan salah satu dari keputusan strategis yang penting. Capital budgeting biasanya melibatkan pengeluaran dana dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu pengembalian yang lama. Untuk itu diperlukan perhitungan yang matang meliputi pengadaan dana, aspek manajemen, aspek produksi, aspek pemasaran dan aspek keuangan, serta aspek-aspek lain terkait yang menjadi dasar untuk estimasi terhadap proyeksi arus kas (cash flow), sehingga dapat mencegah kegagalan dalam melakukan capital budgeting PT. XYZ merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri tekstil, yang memproduksi kain jadi jenis kain tenun poliester filamen (georgette). Permasalahan yang dihadapi saat ini yaitu keterbatasan, kapasitas produksi mesin. Proses produksi dibagi ke dalam 2 unit produksi, yaitu unit weaving yang memproduksi grey dan unit finishing yang merupakan proses lanjutan untuk memproduksi kain jadi. Unit finishing memiliki kapasitas produksi sebesar 14.403.600 yard per tahun, yang membutuhkan bahan baku grey sebanyak 18.292.572 yard per tahun. Unit weaving yang dimiliki hanya mampu memproduksi grey sebanyak 13.386.816 yard per tahun, sehingga belum memenuhi kebutuhan. Kekurangan tersebut sementara dipenuhi dengan membeli grey dari perusahaan lain, tetapi sering terdapat kendala yaitu mengenai harga dan mutu yang tidak sesuai permintaan. Posisi keuangan perusahaan, terakhir (tahun 1999) sangat buruk. karena menderita rugi yang besar. Hutang terlalu besar dan margin yang diperoleh tidak sebanding dengan bunga hutangnya. Oleh karena itu harus meningkatkan, laba, yaitu melalui peningkatan volume penjualan. Untuk itu PT. XYZ merencanakan investasi penambahan kapasitas mesin weaving, yang diharapkan dapat meningkatkan volume produksi dan penjualannya, sehingga dapat meningkatkan laha. Berkenaan dengan hal-hal yang dikemukakan diatas maka dalam geladikarya ini akan dilakukan (1) analisis internal dan eksternal perusahaan dan analisis SWOT (2) peramalan penjualan di masa yang akan datang (3) analisis finansial rencana investasi tersebut, sehingga dapat mengetahui proyeksi pencapaian tingkat penjualan, laba dan kinerja perusahaan. Fokus analisis ini adalah aspek finansial berikut beberapa aspek lain terkait, atas rencana investasi tersebut. Sedangkan penilaian kelayakan investasi diukur atas dasar kriteria. Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan. Payback Period (PBP). Perhitungan kriteria kelayakan investasi ini berdasarkan proyeksi keuangan yang dibuat dengan target produksi/penjualan sebesar 95% dari kapasitas produksi, dan didukung oleh proyeksi potensi pasar serta asumsi-asumsi dasar keuangan yang berkaitan dengan rencana investasi tersebut. Berdasarkan hasil analisis SWOT, secara ringkas kondisi intermal dan eksternal perusahaan dapat dikemukakan sebagai berikut: T Manajemen perusahaan mempunyai kemampuan dan pengalaman yang tinggi dalam bidang usaha tekstil, dan dalam menjalankan aktivitas usahanya dapat berjalan dengan baik. Perusahaan telah memiliki pasar tetap. Lokasi usaha strategis.. Kontinyuitas pengadaan bahan baku terjamin. Posisi keuangan perusahaan terakhir (tahun 1999) buruk... Keterbatasan untuk meningkatkan volume produksi, karena kapasitas mesin yang dimiliki belum memenuhi kebutuhan. Perkembangan permintaan kain tenun poliester filamen (georgette) 7 cenderung meningkat Persaingan bertambah kotat. Peluang untuk investasi ke dalam industri tekstil masih terbuka. 9. Setelah dilakukan suatu perhitungan analisis kelayakan investasi atas rencana investasi penambahan kapasitas mesin di unit weaving PT. XYZ tersebut maka menghasilkan sebagai berikut: Alas dasar target penjualan sebesar 95% dari kapasitas produksi dan aquan pangsa pasar yang diproyeksikan dengan menggunakan metode time series atau trend regression menghasilkan Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp. 529 Internal Rate of Return (IRR) sebesar 5.93% dan Payback Period (discounted PBP) selama 6 tahun 4 bulan. Hal tersebut juga didukung oleh beberapa aspek positif yang dilihat dari analisis SWOT. Aspek-aspek tersebut diharapkan menjamin keberhasilan proyeksi yang disusun untuk masa yang akan datang. 1 Proyeksi arus kas: Perbandingan proyeksi arus kas antara jika melakukan investasi atau tidak, maka menunjukkan hasil yang lebih baik jika PT. XYZ melakukan investasi, yaitu sebagai berikut: a. Jika melakukan investasi: 1) Pengembalian dana kredit investasi sebesar US$ 4,815,500 selesai pada tahun ke 10, sesuai jangka waktu kreditnya. 2) Kredit investasi yang diperoleh terlebih dahulu, dapat dilunasi sesuai jangka waktunya, masing-masing tahun 2006, tahun 2008 dan tahun 2010. IPB-Uni 3) Kredit Modal. Kerja yang dipesolch terlebih dahulu sebesar Rp. 10.000.000.000,- dapat dilunasi pada tahun 2009. b. Jika tidak melakukan investasi: Kredit investasi maupun kredit yang diperoleh terlebih dahulu tidak dapat lunas sesuai jangka waktunya. Proyeksi rasio keuangan Perbandingan kinerja keuangan antara jika melakukan investasi atau tidak, berdasarkan rasio keuangannya sebagai berikut: a. Rasio likuiditas, menunjukkan perkembangan cenderung lebih likuid jika melakukan investasi. b. Rasio Aktivitas, menunjukkan lebih efisien atau lebih besar dalam menciptakan likuiditas jika melakukan investasi a. Rasio Hutang, jika melakukan investasi maka pada awal penambahan kredit investasi posisi hutang lebih besar. Namun untuk selanjutnya cenderung lebih rendah, karena adanya angsuran kredit yang bersumber dari laba perusahaan. d. Rasio keuntungan, menunjukkan pencapaian laba yang lebih berkembang untuk jangka panjang jika melakukan investasi. 3 Analisis sensitivitas dengan asumsi fluktuasi nilai kurs rupiah terhadap USS, dimana berdasarkan realisasi nilai kurs periode tahun 1999 rata-rata USS = Rp. 7.809 (skenario 1), deviasi terendah USSRp. 6.726 (skenario 2) dan deviasi tertinggi US$ Rp. 8.650 (skenario 3). Disamping asumsi fluktuasi nilai kurs, analisis sensitivitas juga dibuat berdasarkan asumsi harga jual yaitu jika harga jual turun 5% (skenario 4) dan jika harga naik 5% (skenario 5) dari harga jual sesuai skenario utama (skenario 1). Hasil skenario 1 telah diuraikan di atas, sedangkan untuk skenario 2 sampai dengan 5 sebagai berikut: a. Skenario 2, menghasilkan Net Present Value positif sebesar Rp. 1,983 juta, Internal Rate of Return sebesar 6,96% dan Payback Period, selama 6 tahun, 4 bulan, sehingga dinyatakan layak (feasible). Namun jika dikaitkan dengan proyeksi keuangan secara menyeluruh maka kredit investasi yang diperoleh tidak bisa lunas sesuai jadwalnya, karena adanya beban angsuran kredit yang lama. b. Skenario 3, menghasilkan Net Present Value positif sebesar Rp. 8.941 juta, Internal Rate of Return sebesar 10% dan Payback Period, selama 5 tahun, 11 bulan. Seluruh kreditnya dapat diselesaikan lebih cepat dan kinerja keuangan perusahaan cenderung membaik Skenario 4, menghasilkan Net Present Value positif sebesar Rp. 13.148 juta, Internal Rate of Return sebesar 11,85% dan Payback Period, selama 5 tahun, 11 bulan, sehingga dinyatakan layak (feasible). Namun jika dikaitkan dengan proyeksi keuangan secara menyeluruh maka kredit investasi yang diperoleh tidak bisa lunas sesuai jadwalnya, karena adanya beban angsuran kredit yang lama. d. Skenario 5, menghasilkan Net Present Value positif sebesar Rp. 10.363 juta, Internal Rate of Return sebesar 11,09% dan Payback Period, selama 5 tahun, 9 bulan Seluruh kreditnya dapat diselesaikan lebih cepat dan kinerja keuangan perusahaan cenderung membaik. Berdasarkan hasil analisis kelima skenario (skenario 1, 2, 3, 4 dan 5) di atas dapat disimpulkan bahwa rencana investasi penambahan kapasitas mesin oleh PT. XYZ tersebut dinyatakan layak untuk dilaksanakan (feasible). Dan solusi yang harus ditempuh oleh PT. XYZ tersebut adalah harus melakukan investasi penambahan kapasitas mesin weaving, sehingga dapat meningkatkan penjualannya dan memulihkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba untuk memperbaiki struktur keuangan secara bertahap. Memang jika skenario 2 dan 4 sesuai analisis sensitivitas tersebut terjadi, maka kredit investasi dimaksud tidak dapat dilunasi karena bila dikaitkan dengan proyeksi keuangan secara menyeluruh masih terdapat beban angsuran atas kreditnya yang lama. Namun hal ini dapat diatasi dengan cara melakukan penjadwalan kembali kreditnya (diperpanjang dengan menurunkan jumlah angsuran), dengan pertimbangan umur ekonomis mesin yang dibeli adalah berkisar 15-20 tahun.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleAnalisis Investasi Penambahan Kapasitas Mesin Di Pt. Xyzid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAnalisis investasiid
dc.subject.keywordCapital budgetingid
dc.subject.keywordAnalisi Internalid
dc.subject.keywordAnalisis Externalid
dc.subject.keywordSWOTid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record