Show simple item record

dc.contributor.advisorDewi, Febriantina
dc.contributor.authorPramono, Salysa Wijayanti
dc.date.accessioned2024-05-14T03:01:22Z
dc.date.available2024-05-14T03:01:22Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/149547
dc.description.abstractJumlah penduduk Indonesia yang semakin besar setiap tahunnya menjadikan Indonesia sebagai pasar yang potensial dalam mengembangkan berbagai macam sektor industri. Berkembangnya berbagai macam sektor industri mendorong globalisasi yang mengakibatkan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta. Salah satu perubahan gaya hidup tersebut dapat dilihat dari perubahan pola konsumsi. Karena adanya arus globalisasi yang tinggi mendorong mobilitas masyarakat menjadi lebih tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat dengan mobilitas tinggi cenderung untuk mengkonsumsi makanan instan yang kandungan gizinya tidak seimbang. Padahal makanan harus memenuhi kecukupan zat gizi berupa sumber energi, protein, vitamin, dan mineral agar dapat memenuhi gizi yang seimbang. Protein merupakan salah satu zat yang dapat menyempurnakan gizi seimbang. Salah satu sumber protein adalah biji kedelai. Tahu merupakan salah satu produk olahan biji kedelai. Kemudian tahu merupakan salah satu makanan yang menyehatkan karena kandungan proteinnya yang tinggi serta mutunya setara dengan mutu protein hewani. Tahu juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi, selain itu Tahu merupakan produk olahan kedelai yang tak kalah bergizinya dibandingkan bahan dasar tahu itu sendiri, yaitu kedelai. Diantara semua produk olahan kedelai, kandungan asam amino tahu yang paling lengkap, bahkan protein tahu lebih tinggi dibandingkan dengan protein kedelai. Pada akhir tahun 2005 dan awal tahun 2006 publikasi tentang penyalahgunaan bahan kimia yang berbahaya sangat gencar oleh media massa di Indonesia, yaitu penggunaan formalin pada produk makanan. Salah satu produk makanan yang dipublikasikan mengandung formalin tersebut adalah tahu. Berdasarkan pemantauan pemakaian formalin oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2006, diketahui bahwa 5% dari 40 sampel tahu di Jakarta yang diteliti temyata mengandung formalin. Dengan adanya kasus penyalahgunaan bahan kimia formalin untuk pengawetan produk tahu, membuat masyarakat di Indonesia khususnya di Jakarta menjadi khawatir untuk mengonsumsi tahu. Hal tersebut yang menjadikan PT Kitagama Jakarta mencoba untuk memberikan solusi atas permasalahan tahu berformalin di pasaran, yaitu dengan menciptakan produk tahu, yaitu Tahu Kita yang bebas dari bahan pengawet seperti formalin maupun jenis bahan pengawet lainnya dimana tahu tersebut mampu bertahan selama tujuh hari karena menggunakan proses pasteurisasi, serta menciptakan produk tahu dengan menggunakan teknik pengolahan secara benar dan tepat dalam proses pengolahan tahu tersebut sehingga selain bergizi juga aman untuk dikonsumsi. Kemudian tahu tersebut juga diproses dengan menggunakan mesin-mesin modem berbahan dasar stainless steel sehingga menjadikannya aman, bersih putih, higienis. Hal tersebut yang menjadikan Tahu Kita memiliki intangible value (manfaat manfaat tak berwujud)…dstid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcEconomics and Development Studiesid
dc.subject.ddcAgribusinessid
dc.subject.ddcJakarta Selatanid
dc.titleAnalisis Willingness To Pay (WTP) Konsumen Terhadap Tahu Kita (Studi Kasus di Joyo Swalayan, Jakarta Selatan)id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordWillingness to payid
dc.subject.keywordTahu kitaid
dc.subject.keywordKarakteristikid
dc.subject.keywordNilaiid
dc.subject.keywordFaktorid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record