Show simple item record

dc.contributor.advisorAmrullah, Ibnu Katsir
dc.contributor.advisorAhmad, Baihaqi H.
dc.contributor.authorAsmar, Wahyudi
dc.date.accessioned2024-04-19T02:19:17Z
dc.date.available2024-04-19T02:19:17Z
dc.date.issued1984
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/146427
dc.description.abstractPenelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu Makanan ternak Unggas Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, dari tanggal 22 Mei sampai dengan 25 Juni 1984. Tujuan pe- nelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sistim pemberian ransum secara kafetaria dapat digunakan sebagai sistim pem- berian ransum secara kafetaria dapat digunakan sebagai sistim pemberian ransum yang baik ditinjau dari segi kecukupan protein. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan 10 ulangan. Untuk mengetahui hubungan antara peubah yang diuji dengan uji tingkat nyata digunakan uji Jarak Duncan. Selain itu dilakukan pengujian korelasi untuk mengetahui hubungan antara konsum- si bahan kering ransum, serat kasar dan BETN dengan koefisi- en ekskreta, antara persentase konsumsi bahan kering bahan ransum dengan protein metabolis perlakuan kafetaria. Berdasarkan hasil analisa statistik sistim pemberian ransum berpengaruh sangat nyata (P/ 0.01) terhadap koefisi- en ekskreta, protein metabolis dan pertambahan bobot badan. Hasil uji Jarak Duncan menunjukkan koefisien ekskreta ayam yang diberi ransum kafetaria nyata (P/ 0.05) lebih rendah dari komplit dan komersial. komersial nyata (P/ 0.05) lebih rendah dari komplit. Protein metabolis ayam yang diberi ransum kafetaria nyata (P/ 0.05) lebih tinggi dari kom- plit dan komersial. Komersial tidak berbeda nyata (P/ 0.05) dengan komplit. Pertambahan bobot badanayam yang diberi ransum komersial nyata (P/ 0.05) lebih tinggi dari kafetaria dan komplit, kafetaria nyata (P/ 0.05) lebih tinggi dari kom- plit. Dari uji korelasi diperoleh koefisien korelasi untuk konsumsi bahan kering ransum (r=-0.88), BETN (r = -0.83) dan serat kasar (r = 0.92). Korelasi yang negatif didapat antara persentase konsumsi jagung, dedak dan tepung daun s singkong dengan koefisien korelasi (r) masing-masing adalah -0.71, -0.68 dan -0.79, dengan protein metabolis perlakuan kafetaria. Sedangkan korelasi yang positif didapat dari bungkil kedele dengan r = 0.94. Pola konsumsi rpotein bruto dari tepung ikan, bungkil kedele, kacang hijau, jagung, dedak, bungkil kelapa, tepung lamtoro, daun gamal dan daun singkong masing-masing adalah 33.44%, 27,88%, 15.23%, 13.98%, 4.39 %,2.95%, 0.99%, 0.63% dan 0.59% dari konsumsi protein bruto ransum kafetaria…dstid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcPengaruh Pemberian Ransum Secara Kafetaria Terhadap Pola Konsumsi Protein Pada Ayam Pedagingid
dc.titlePengaruh Pemberian Ransum Secara Kafetaria Terhadap Pola Konsumsi Protein Pada Ayam Pedagingid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record