Studi peranan kayu bakar pada sektor industri kecil dan industri rumah tangga di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
View/ Open
Date
1996Author
Prasetio, Achmad Budi
Tambunan, Armansyah H.
Metadata
Show full item recordAbstract
Biomassa khususnya kayu bakar merupakan sumber energi terbarukan yang klasik. Penggunaannya oleh manusia setua kehadiran manusia di dunia. Kayu bakar sebagai sumber energi di Indonesia mempunyai peran penting dalam memasok kebutuhan energi nasional, terutama di sektor rumah tangga dan industri pedesaan. Ketimpangan dalam hal penyediaan dan permintaan dapat berdampak luas terhadap situasi perekonomian nasional.
Kayu Bakar/biomassa sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui dapat diperoleh dari sumber antara lain areal hutan (limbah tebangan dan pemeliharaan), pertanian dan perkebunan, pekarangan dan limbah industri pengolahan kayu. Ketersediaannya selain ditentukan oleh potensi masing-masing sumber, juga dipengaruhi oleh pola pemanfaatannya untuk non energi yang mempunyai nilai ekonomis relatif lebih bersaing.
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendapatkan gambaran pola penggunaan kayu bakar/biomassa dan mengetahui berbagai macam persoalannya terutama pada sektor industri kecil dan rumah tangga di kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Data yang digunakan adalah data primer, data sekunder dan hasil pengolahan keduanya. Data primer yang diperoleh meliputi jenis dan alasan pemilihan bahan bakar, tingkat konsumsi, proses produksi, identifikasi persoalan dan gangguan dalam pemenuhan kayu bakar serta biaya energi untuk produksi.
Hasil pengamatan hampir 80% responden menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utama dan sebanyak 26% menyatakan kayu bakar merupakan bahan bakar yang paling sesuai serta hampir 30% menyatakan mudah dalam penanganannya. Sebagian terbesar responden menyatakan tidak ada pemikiran untuk mengganti kayu bakar dengan bahan bakar lainnya. Karena selain terbatasnya alokasi modal untuk investasi awal juga alasan non teknis pada proses produksi (mutu, rasa dan lain-lain).
Kebanyakan diantara responden adalah industri pedesaan dengan skala produksi kecil, penambahan biaya untuk energi per satuan produk yang dihasilkan menjadi meningkat, akibatnya terjadi inefisiensi. Selain karena peralatan seperti tungku yang efisiensinya rendah dan mutu bahan bakar pun tidak seragam.
Persoalan-persoalan yang sering dihadapi sebenarnya bukan pada faktor ketersediaan kayu bakar, tetapi lebih cenderung karena faktor harga. Posisi dimana produsen kayu bakar yang terbatas jumlahnya dan permintaan yang besar menjadikan harga kayu bakar sering terjadi lonjakan. Dengan perkataan lain, keadaan pasar kayu bakar bersifat monopolistik.
Penanaman pohon-pohon untuk kayu bakar selain dapat sedikit mengatasi keadaan tersebut, juga sangat diharapkan dapat menjadi penetralisir keadaan lingkungan dengan daya serap CO₂-nya.
