| dc.description.abstract | Budaya pemakaian pestisida sebagai alternatif penanggulangan harna penyakit tanaman di Indonesia telah dirnulai sejak awal program intensifikasi, yaitu tahun 1970-1980. Pada tahun 1984, 20% dari produksi pestisida dunia diserap Indonesia. Dalam periode 1982-1987 pemakaian pestisida di Indonesia meningkat 236 % dibanding periode sebelumnya. Khusus insektisida peningkatannya mencapai 710%. Hingga saat ini ketergantungan pengusaha tani akan pestisida masih sangat tinggi.
Perkembangan industri pestisida terns mengalami peningkatan. Komisi Pestisida mencatat pada tahun 2003 terdapat 152 perusahaan produsen formula pestisida. Peningkatan juga terjadi pada jumlah merek dagang pestisida yang beredar. Pada tahun 2000 yang tadinya terdapat "hanya" 594 merek dagang, di tahun 2003 telah meningkat menjadi 813 merek dagang. Kornisi Pestisida RI melaporkan juga, bahwa 97% dari 813 merek dagang yang beredar ini merupakan jenis pestisida sintetis, yaitu sejumlah 784 merek dagang. Dan sisanya 3%, sejumlah 29 merek dagang "saja" yang merupakan jenis pestisida alami.
PT. lntaran Indonesia, sebuah perusahaan pupuk dan pestisida telah mengembangkan NeemBa Oil, formula pestisida alami dari nimba (Azadirachta indica A. Juss) sejak tahun 2001. PT. Intaran Indonesia menyadari perlunya suatu strategi pemasaran bagi produk pestisida alami yang tergolong baru ini, untuk mendapatkan posisi dalam pasar pestisida yang sekarang banyak didominasi oleh pestisida jenis sintetis.
Strategi pemasaran sebagai kunci keberhasilan penjualan suatu produk, biasanya disusun dalam suatu marketing plan. Dalam proses penyusunan marketing plan yang efektif, sebagai langkah awal perencanaan pemasaran, perusahaan terlebih dahulu harus mengetahui posisi unit bisnisnya.
Hal yang biasanya perlu diketahui untuk mendapatkan gambaran mengenai posisi unit bisnis suatu perusahaan, yaitu: Pertama, bagaimana kondisi persaingan, dalam hal ini kondisi pelanggan, pesaing, dan perubahan dalam lingkungan bisnis yang dihadapi; Kedua, apakah strategi, taktik dan nilai pemasaran yang diterapkan perusahaan cukup sesuai dengan kondisi persaingan yang dihadapinya; Dan yang ketiga, apakah potensi sumberdaya yang dimiliki perusahaan didayagunakan dengan efektif, guna menghadapi persaingan dalam lingkungan bisnis tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa atau melakukan audit terhadap haihal yang perlu diketahui diatas, lewat dua model audit pemasaran. Model pertama Competitive audit berdasarkan kerangka kerja The Strategic Marketing Plus 2000, yang terdiri dari dua instrumen. Instrumen pertama Competitive Setting Profile (CSP) akan menjawab pertanyaan pertarna, dan pertanyaan kedua diaudit dengan instrumen Company Alignment Profile (CAP). Untuk pertanyaan ketiga, akan diaudit dengan instrument Marketing Effectiveness Review (MER), dari model
Strategic Control. Hasil audit ini diharapkan dapat rnemberikan gambaran dan rekornendasi bagi pihak perusahaan sehingga dapat merumuskan strategi-strategi pemasaran yang jitu dan efektif.
Audit Company Alignment Profile pada PT. Intaran Indonesia tahun 2004 menghasilkan index 2,46. Index yang disebut CAI ini, menunjukkan posisi orientasi pemasaran yang dijalankan perusahaan sekarang berada pada selling orientedmarketing oriented. Orientasi ini cocok untuk menghadapi persaingan bisnis di tingkat 2.5C - 3C.
Audit Competitive Setting Profile menghasilkan index 4,01. Index yang disebut CSI ini, menunjukkan bahwa persaingan bisnis yang dihadapi perusahaan dalam masa lima tahun ke depan berada pada tingkat 3.SC atau diistilahkan dengan situasi persaingan yang sophisticated.
Secara kuantitatif dari hasil analisa kesenjangan (gap) diketahui terdapat kesenjangan negatif sebesar 1,55 oleh karena CSI (4,01) > CAI (2,46). Hasil audit ini menunjukakan bahwa PT. Intaran Indonesia perlu melakukan perubahan atau transformasi dalarn strategi, taktik dan nilai pemasaran yang akan dijalankan, sesuai dengan kondisi persaingan yang dihadapi untuk masa lima tahun ke depan. Adapun orientasi pemasaran yang cocok untuk diterapkan PT. lntaran Indonesia ialah menjadi market-driven company.
Analisa Marketing Effectiveness Review rnenghasilkan index sebesar 14,67. Index ini menunjukkan bahwa dalam mendukung strategi pemasarannya menghadapi persaingan bisnis, potensi sumber daya yang dimiliki PT. Intaran Indonesia belum optimal. Berdasarkan standar efektivitas pemasaran, index 14,67 rnenunjukkan bahwa perusahaan berada pada kriteria sedang. Perusahaan perlu mengoptimalkan seluruh potensi yang dimilikinya. | id |