Show simple item record

dc.contributor.advisorNirmala, Kukuh
dc.contributor.advisorEffendi, Irzal
dc.contributor.authorPanjaitan, Ellys Frida
dc.date.accessioned2023-11-13T05:54:22Z
dc.date.available2023-11-13T05:54:22Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/131884
dc.description.abstractSalah satu jenis ikan hias air tawar yang menjadi komoditas perdagangan untuk ekspor adalah ikan botia (Botia macrachantus Bleeker). Ikan botia merupakan ikan hias asli Indonesia yang dihasilkan di perairan Sungai Batanghari Jambi dan Sungai Kapuas Kalimantan. Ikan ini memiliki tubuh yang langsing, gerakan yang lincah dan memiliki kombinasi warna tubuh yang menarik. Penyediaan ikan botia masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam yang dilakukan oleh para pengumpul dan masih tergantung pada musim, sehingga harganya cenderung tidak stabil.. Pendederan merupakan salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan penyediaan ikan sepanjang tahun dan menyeragamkan serta meningkatkan ukuran sehinggga harga di pasaran akan meningkat. Masalah yang sering dihadapi dalam usaha ini adalah suhu yang bisa mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup, serta munculnya berbagai penyakit. Usaha pendederan ikan botia yang dilakukan para pengumpul secara umum menghasilkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang relatif rendah sebesar 1,4% dan 57,55% untuk ukuran 1,5 inchi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kisaran suhu optimal bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan botia ukuran 3,99 0,03 cm. Fisika-kimia air media benih ikan botia juga diukur. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 29 Maret sampai 3 Mei 2003 di Laboratorium Sistem dan Teknologi Budidaya Perairan dan Laboratorium Lingkungan Budidaya Perairan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Benih ikan botia berasal dari sungai Batanghari Jambi dengan ukuran 3,99±0,03 cm dan bobot 0,96±0,06 g dipelihara dalam akuarium (60x27x30 cm) dengan kepadatan 25 ekor/akuarium. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian suhu 24, 27 dan 30°C dengan 3 kali ulangan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pakan cacing sutera (tubifex) diberikan sebanyak 12-20 g/hari secara ad libitum pada pukul 08.00, 13.00 dan 18.00 WIB. Pergantian air sebanyak 20% dari volume total air media dilakukan pada pagi dan sore hari sebelum pemberian pakan. Tahap awal sebelum dilakukan pemeliharaan adalah proses adaptasi selama 30 hari sehingga diharapkan ikan sudah bisa beradaptasi terhadap perlakuan yang diberikan. Ikan dipelihara selama 35 hari dan setiap minggu dilakukan pengukuran seluruh ikan meliputi panjang total dan bobot tubuh ikan serta kelangsungan hidup. Pengukuran fisika-kimia air meliputi: pH, DO, alkalinitas, kesadahan, CO₂ bebas, nitrit (NO2), nitrat (NO3) dan amoniak total. Untuk menguji pengaruh fisika-kimia air terhadap pertumbuhan benih ikan botia digunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis...id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural Universityid
dc.subject.ddcPerikananid
dc.subject.ddcBudidaya Perairanid
dc.subject.ddcAquacultureid
dc.titlePengaruh suhu air yang berbeda terhadap laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan botia (Botia macracanthus Bleeker)id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordIkan botiaid
dc.subject.keywordBotia macrachantus Bleekerid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record