View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Economics and Management
      • UT - Economics and Development Studies
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Economics and Management
      • UT - Economics and Development Studies
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Analisis pola integrasi perdagangan komoditas kakao Indonesia dengan negara ASEAN+3 (periode 2001 - 2010)

      Thumbnail
      View/Open
      Fulltext (1.664Mb)
      Date
      2012
      Author
      Abimanyu, Niken Larasati
      Fahmi, Idqan
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis dayasaing bilateral komoditas kakao Indonesia dengan negara ASEAN+3 dengan menggunakan analisis Revealed Comparative Advantage Bilateral (RCAB). Kedua, untuk mengidentifikasi dan menganalisis integrasi perdagangan bilateral komoditas kakao Indonesia dengan negara ASEAN+3 dengan menggunakan analisis Intra Industry Trade (IIT). Ketiga, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perdagangan ekspor komoditas kakao Indonesia dengan negara ASEAN+3 secara bilateral dengan menggunakan analisis gravity model. Dayasaing kakao bilateral Indonesia dengan negara ASEAN+3 masih sangat rendah, bahkan kakao HS 180500 (powder, unsweetened) Indonesia tidak memiliki dayasaing bilateral dengan Malaysia dan Singapura. Sebagian besar perdagangan kakao bilateral Indonesia dengan negara ASEAN+3 berlangsung secara dua arah dengan derajat integrasi lemah. Faktor-faktor yang memengaruhi perdagangan ekspor kakao HS 180100 (beans, whole or broken, raw or roasted) bilateral Indonesia dengan ASEAN+3 diantaranya produk domestik bruto (PDB) riil negara ASEAN+3, populasi negara ASEAN+3, harga riil kakao internasional, dummy bea keluar kakao HS 180100 yang bernilai positif serta jarak ekonomi Indonesia dengan negara ASEAN+3 yang bernilai negatif. Untuk aliran ekspor kakao HS 180400 (butter, fat, oil) Indonesia, faktor-faktor yang memengaruhinya adalah PDB riil negara ASEAN+3, populasi negara ASEAN+3, dan dummy krisis ekonomi yang bernilai positif, serta jarak ekonomi Indonesia dengan negara ASEAN+3 dan harga riil kakao internasional yang bernilai negatif. Faktor-faktor yang memengaruhi aliran ekspor kakao HS 180500 (powder, unsweetened) Indonesia adalah PDB riil negara ASEAN+3, populasi negara ASEAN+3, dan nilai tukar riil negara ASEAN+3 terhadap Indonesia yang bernilai negatif, serta jarak ekonomi Indonesia dengan negara ASEAN+3 dan harga riil kakao internasional yang bernilai positif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dayasaing bilateral kakao Indonesia ke sebagian besar negara ASEAN+3 masih sangat rendah, bahkan kakao HS 180500 Indonesia tidak memiliki dayasaing di negara Malaysia dan Singapura. Sebagian besar perdagangan kakao bilateral Indonesia dengan negara ASEAN+3 berlangsung secara dua arah dengan derajat integrasi lemah. Secara umum, faktorfaktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap aliran perdagangan ekspor kakao Indonesia dengan negara ASEAN+3 adalah PDB riil negara ASEAN+3, populasi negara ASEAN+3, jarak ekonomi Indonesia dengan negara ASEAN+3, dan harga riil kakao internasional. Nilai tukar negara ASEAN+3 terhadap Indonesia hanya memengaruhi aliran ekspor kakao HS 180500. Dummy bea keluar kakao HS 180100 memengaruhi aliran ekspor kakao HS 180100. Dummy krisis ekonomi hanya memengaruhi aliran ekspor kakao HS 180400. Implikasi kebijakan selanjutnya dapat diperoleh berdasarkan hasil analisis. Dalam rangka meningkatkan aliran ekspor produk kakao antara (lemak/kakao HS 180400 dan bubuk kakao/kakao HS 180500), diperlukan adanya regulasi khusus dalam peningkatan mutu biji kakao tidak terfermentasi menjadi terfermentasi sehingga dihasilkan produk berkualitas dan banyak diminati oleh masyarakat maupun kalangan industri di negara ASEAN+3. Penetapan bea keluar dan bea masuk (kebijakan fiskal) perlu disesuaikan apabila terjadi overload ekspor biji kakao ataupun menurunnya kegiatan ekspor produk antara. Adanya sinkronisasi dan konektivitas antara kebijakan moneter (melalui nilai tukar dan harga kakao internasional) dengan perdagangan perlu disesuaikan dengan kondisi perkakaoan nasional dari hulu hingga hilir. Secara domestik, perlu adanya penyadaran melalui bimbingan secara kontinu kepada para petani untuk mengubah mindset dalam mengelola biji kakao dari tidak terfermentasi menjadi terfermentasi agar terciptanya nilai tambah produk kakao Indonesia.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/130524
      Collections
      • UT - Economics and Development Studies [3213]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository