Show simple item record

dc.contributor.advisorPalupi, Endah Retno
dc.contributor.advisorPalupi, Endah Retno
dc.contributor.authorWidiastuti, Alfin
dc.contributor.authorHaryani, Novie
dc.date.accessioned2023-11-01T08:34:19Z
dc.date.available2023-11-01T08:34:19Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129754
dc.description.abstractPercobaan ini dilakukan untuk menjajaki kemungkinan penggunaan metode uji cepat viabilitas dalam mengevaluasi viabilitas benih kelapa sawit, mengetahui pengaruh periode konservasi terhadap penurunan viabilitas benih dan mencari perlakuan pematahan dormansi yang efektif pada benih kelapa sawit yang dilaksanakan di Kebun Benih PT Dami Mas Sejahtera, PT .SMART Tbk. Riau pada bulan Februari - September 2004. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan. Percobaan 1 tentang pengaruh periode konservasi terhadap viabilitas benih kelapa sawit yang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu konservasi 0, 1, 2, 3, dan 4 bulan dengan tolok ukur pengamatan kadar air (KA) dan benih viable (BV) dari uji TTZ dan uji pemisahan embrio. Percobaan II tentang perlakuan pematahan dormansi benil\ yang terdiri atas dua percobaan. Percobaan Ila adalah percobaan satu faktor dengan perlakuan: 1) stratifikasi suhu tinggi selama 60 hari, 2) perendaman H2 SO4 20 N, 10 rnenit, 3) H2SO4 20 N, 20 menit, 4) H2SO4 20 N, 30 menit, 5) perendaman H2O2 1 %, 24 jam, 6) H2O2 1 %, 48 jam, 7) H2O2 1 %, 72 jam, 8) perendaman-pengeringan 2 minggu. Perlakuan tersebut memberikan hasil yang kurang memuaskan sehingga dilakukan percobaan lanjutan (percobaan IIb). Perlakuan pada percobaan Ilb terdiri atas 19 taraf perlakuan pematahan dormansi yaitu 1) stratifikasi suhu tinggi selama 60 hari sebagai kontrol, 2) perendaman H2SO4 1 N, 10 menit, 3) H2SO4 1 N, 15 menit, 4) H2SO4 3 N, 10 menit, 5) H2SO4 3 N, 15 menit, 6) H2SO4 6 N, 10 menit, 7) H2SO4 6 N, 15 menit, 8) H2SO4 9 N, 10 menit, 9) H2SO4 9 N, 15 menit, 10) perendaman H2O2 3 %, 24 jam, 11) H2O2 3 %, 48 jam, 12) H2O2 9 %, 24 jam, 13) H2O2 9 %, 48 jam, 14) H2O2 18 %, 24 jam, 15) H2O2 18 %, 48 jam, 16) H2O2 27 %, 24 jam, 17) H2O2 27 %, 48 jam, 18) perendaman-pengeringan 3 minggu, dan 19) perendaman-pengeringan 4 minggu. Rancangan yang digunakan adalah RAL dengan tolok ukur yang diamati adalah DB, PTM, BKKN dan KeT. Penentuan viabilitas pada percobaan I dilakukan dengan mengamati pola pewarnaan yang terjadi pada embrio dengan uji TTZ. Dari uji TTZ diperoleh 30 pola pewamaan selama periode konservasi, 10 pola diantaranya dikategorikan sebagai benih viabel, sedangkan 20 pola lainnya dikategorikan sebagai benih nonviabel. Selama periode konservasi terjadi penurunan viabilitas. Untuk mempertahankan benih viabel ≥ 90 % maka konservasi sebaiknya dilakukan selama 2 - 11 minggu. Pengujian dengan pemisahan embrio memberikan pengaruh tidak nyata terhadap persentase BV. Nilai persentase BV yang rendah disebabkan oleh kontaminasi selama pengecambahan. Perlakuan pada percobaan IIa belum mampu rnematahkan dormansi benih kelapa sawit sebagaimana ditunjukkan dari nilai daya berkecambah yang rendah bahkan perlakuan H2SO4 20 N menyebabkan semua benih mati. Perlakuan perendaman H2 02 dengan konsentrasi 1 % tidak menghasilkan perkecambahan. Untuk itu diberi perlakuan lanjutan, yaitu stratifikasi suhu tinggi. Perkecambahan tertinggi dari kombinasi kedua perlakuan dihasilkan oleh perendaman H2O2 1 % selama 48 jam diikuti dengan stratifikasi selama 60 hari. Perlakuan stratifi.kasi suhu tinggi 60 hari merupakan perlakuan yang biasa dilakukan untuk pematahan dormansi. Percobaan IIb menunjukkan bahwa perlakuan stratifikasi suhu tinggi 60 hari yang merupakan kontrol menghasilkan DB (55.5 %), PTM (86.5 %); BKKN (1.21 gr) dan Kc-r (3.30 %KN/etmal) tertinggi. Perlakuan perendaman dengan larutan asam sulfat (H2 S04), hydrogen peroksida (H2O2) dan perendamanpengeringan tidak efektif untuk mematahkan dormansi. Dari percobaan I diperoleh 30 pola pewarnaan untuk mengevaluasi viabilitas benih. Sepuluh pola pewarnaan dikategorikan sebagai indikator benih viabel. Sedangkan 20 pola pewarnaan dikategorikan sebagai indikator benih non viabel. Periode konservasi sebaiknya dilakukan antara 2 - 11 minggu untuk mendapatkan benih viabel ≥90 %. Pada percobaan II perlakuan pematahan dormansi yang efektif adalah perlakuan stratifikasi pada suhu 39 - 40 °C selama 60 hari.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcKelapa sawitid
dc.subject.ddcBenihid
dc.subject.ddcDormansiid
dc.titlePengujian Viabilitas Benih selama Periode Konservasi Benih dan Upaya Pematahan Dormansi untuk Mempercepat Pengecambahan Benih Kelapa Sawit (Elaeis guilleensis Jacq.)id
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record