| dc.description.abstract | Industri makanan dan minuman merupakan salah satu sub sektor industri pengolahan yang potensial untuk dikembangkan. Pertumbuhan industri minuman ini dipengaruhi oleh semakin banyaknya produk minuman yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan. Hal ini disebabkan minuman merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia sehingga berbagai usaha dikembangkan seperti menyediakan minuman instan, minuman dengan berbagai variasi rasa dan minuman yang hanya diseduh baik dalam bentuk serbuk maupun sirup. Seiring dengan perkembangan tren back to nature, maka bisnis minuman instan berbahan baku biofarmaka mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Produk minuman instan ini bukan hanya sebagai minuman penyegar melainkan juga sebagai minuman yang memiliki aspek fungsional bagi kesehatan serta menjaga kebugaran tubuh. Kepadatan penduduk yang semakin meningkat, pola konsumsi masyarakat yang memilih hal-hal yang lebih praktis dan siap pakai, serta adanya tren back to nature menyebabkan bisnis minuman instan berbahan baku biofarmaka menjadi bisnis yang sangat prospektif. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis minuman instan berbahan baku biofarmaka dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam industri makanan dan minuman serta peningkatan perekonomian Indonesia.
Lisna Agung (LA) merupakan Home Industry (industri rumah tangga) agribisnis yang bergerak di bidang minuman instan berbahan baku biofarmaka. Dalam menjalankan bisnis ini, LA masih menghadapi berbagai kendala dalam pengembangan usaha baik internal maupun eksternal. Oleh karena itu, LA harus merumuskan strategi yang mampu menjawab permasalahan yang dihadapi untuk dapat survive (bertahan) dan berkembang di pasar persaingan minuman instan berbahan baku biofarmaka. Hal ini memerlukan serangkaian proses analisis internal maupun eksternal untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan erat dengan pengembangan usaha ini secara berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman yang berpengaruh terhadap aktivitas LA; (2) mengidentifikasi faktor internal yang menjadi kekuatan serta kelemahan LA dalam mencapai tujuannya serta (3) menganalisis alternatif strategi dan menentukan prioritas strategi pengembangan usaha yang tepat serta dapat diterapkan LA dalam pengembangan usaha minuman instan berbahan baku biofarmaka.
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan langsung (observasi), dan wawancara Data sekunder diperoleh dari dari laporan- laporan LA, Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen perindustrian (Deprin), Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Diperindagkop) Bogor, dan pihak terkait serta berbagai literatur kepustakaan yang relevan. Metode perumusan dan pemilihan strategi dilakukan berdasarkan analisis lingkungan eksternal dan internal, matriks IE, matriks SWOT, dan QSPM.
Berdasarkan analisis terhadap lingkungan eksternal perusahaan, maka diperoleh sejumlah peluang dan ancaman yang terkait dengan situasi persaingan serta kondisi eksternal perusahaan saat ini. Peluang terbesar berasal dari pola hidup masyarakat back to nature, sedangkan ancaman utama yang dihadapi perusahaan dalam menjalankan roda bisnisnya adalah budaya masyarakat yang cenderung mengobati daripada memelihara kesehatan.
Berdasarkan analisis terhadap lingkungan internal yang mengacu pada aktivitas (fungsional) perusahaan, maka diperoleh variabel kekuatan dan kelemahan utama yang terkait pada setiap aktivitas tersebut. Hasil analisis internal dan matriks IFE menunjukkan bahwa kemampuan internal dari LA adalah dalam kondisi menengah dengan kekuatan terbesar adalah kualitas produk minuman instan yang bermutu, berkhasiat, tanpa bahan pengawet dan praktis, sedangkan kelemahan utama perusahaan adalah pemasaran dan promosi cenderung pasif.
Analisis matriks IE menempatkan LA berada dalam kuadran V, kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan saat ini berada dalam posisi pertahankan dan pelihara (hold and maintain). Strategi yang dapat diterapkan pada kuadran ini adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Analisis SWOT menghasilkan tujuh alternatif strategi yang dapat dijalankan LA, yaitu: (1) mempertahankan kualitas dan mutu produk minuman instan berbahan baku biofarmaka serta mengusahakan sertifikat halal; (2) memperluas jaringan distribusi dan pemasaran; (3) memperbaiki sistem manajemen perusahaan, meningkatkan kemampuan manajerial dan kemampuan teknis serta pengetahuan mengenai minuman instan berbahan baku biofarmaka para pekerja; (4) meningkatkan upaya promosi produk untuk meningkatkan dan mempertahankan loyalitas konsumen; (5) mempertahankan strategi penetapan harga yang sama untuk setiap produk; (6) meningkatkan diversifikasi produk minuman instan berbahan baku biofarmaka yang alami, bermutu, berkhasiat, tanpa bahan pengawet dan praktis dan (7) melakukan riset pasar untuk memantau perkembangan pemasaran produk dan tingkat persaingan. Proses pengambilan keputusan dalam penentuan alternatif strategi terbaik dilakukan melalui analisis QSPM. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa strategi terbaik yang harus dilakukan saat ini adalah memperluas jaringan distribusi dan pemasaran.
LA dapat mengimplementasikan strategi yang direkomendasikan dengan terlebih dahulu melakukan penyesuaian terhadap kondisi internalnya, meliputi perbaikan sistem manajemen, kemampuan perusahaan dalam mencari sumber pendanaan, serta ketersediaan SDM. Selain itu, LA disarankan untuk membuat pernyataan tertulis mengenai visi, misi dan tujuan sehingga dapat membantu dalam pembenahan strategi. Upaya promosi melalui periklanan dapat dilakukan LA dengan membuat brosur produk-produk yang dapat disebarkan ketika pameran berlangsung atau melalui lembaga perantara seperti distributor atau pengecer. Hal ini merupakan salah satu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan brand awareness konsumen terhadap produk LA. Upaya promosi melalui e-commerce dapat dilakukan LA dengan cara bekerjasama dengan pesaingnya seperti yang dilakukan oleh pengusaha jamur tiram di Bandung agar pembebanan biaya dapat diminimalisir. Hal ini dilakukan dalam rangka memperluas distribusi dan pemasaran. Peran dari pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan usaha minuman instan berbahan baku biofarmaka, seperti pihak pemerintahan dan akademisi lebih ditingkatkan dan disinergiskan. | id |