Show simple item record

dc.contributor.advisorRifin, Amzul
dc.contributor.authorMumpuni, Metta Prameswari
dc.date.accessioned2023-11-01T06:47:31Z
dc.date.available2023-11-01T06:47:31Z
dc.date.issued2007
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129719
dc.description.abstractSalah satu hasil perkebunan yang diolah oleh sektor industri adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Hasil perkebunan ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan rokok. Industri rokok merupakan sumber pendapatan yang sangat penting artinya bagi pemerintah. Jumlah cukai rokok yang setiap tahun diterima negara semakin meningkat dan sangat besar. Di Indonesia, terdapat dua jenis rokok yang dikenal secara umum, yaitu rokok kretek dan rokok putih. (Indocomercial CIC, 2006). Jumlah konsumsi rokok baik rokok kretek maupun rokok putih mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Pada tahun 2005, konsumsi rokok kretek di Indonesia tercatat telah mencapai jumlah 203.060 juta batang sedangkan konsumsi rokok putih di Indonesia memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan rokok kretek. Pada tahun 2005, konsumsi rokok putih kembali mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya menjadi 16.940 juta batang. Menurut data Departemen Kesehatan berdasarkan Susenas 2003, jumlah penduduk berumur 10 tahun ke atas yang merokok terbanyak berdasarkan propinsi ditempati oleh propinsi Jawa Barat dengan persentase 31,57 persen. Berdasarkan data konsumsi, jenis rokok dengan konsumsi terbanyak adalah jenis rokok kretek. Keluarnya PP No. 81 Tahun 1999 yang mengatur kadar maksimum tar dan nikotin pada setiap batang rokok mempengaruhi produsen rokok untuk lebih mengembangkan rokok kretek jenis mild (ringan), sehingga banyak perusahaan rokok yang mulai memasuki pasar rokok mild. Sampoerna A Mild adalah perintis rokok mild di Indonesia yang muncul pada tahun 1989. Persaingan yang semakin tajam dalam industri rokok kretek jenis mild di Indonesia dan tidak terdeferensiasinya produk rokok menuntut setiap perusahaan rokok banyak melakukan kegiatan promosi untuk merebut dan mempertahankan posisi pasar. Strategi promosi bertujuan untuk mengkomunikasikan dan menyampaikan produknya ke pasar sasaran. PT. HM Sampoerna melakukan kegiatan promosi ke seluruh wilayah Indonesia. Salah satu wilayah propinsi yang menjadi target promosi adalah propinsi Jawa Barat, karena jumlah perokok aktif di wilayah tersebut adalah terbanyak jika dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia. Kota Bandung merupakan kota dengan penduduk terbanyak di propinsi Jawa Barat yaitu 2.270.970 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2005). Jumlah ini merupakan jumlah yang potensial untuk menjadi target promosi perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis segmen pasar Sampoerna A Mild di Kota Bandung dan mengetahui bentuk strategi promosi yang sesuai dengan segmen pasar yang terbentuk. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan Kota Bandung merupakan lokasi dengan jumlah penduduk yang potensial untuk menjadi target promosi Sampoema A Mild oleh PT. HM Sampoera. Penentuan sampel dilakukan dengan nonprobability judgement sampling. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 120 orang...id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcRokokid
dc.titleAnalisis segmen pasar dan implikasinya terhadap strategi promosi sampoerna a mild di Kota Bandungid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record