Show simple item record

dc.contributor.advisorHutagaol, Manuntun Parulian
dc.contributor.authorMarini, Siti
dc.date.accessioned2023-11-01T03:08:53Z
dc.date.available2023-11-01T03:08:53Z
dc.date.issued2007
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129653
dc.description.abstractPeningkatan jumlah penduduk di Indonesia terutama di Pulau Jawa membawa konsekuensi terhadap makin tingginya tuntutan terhadap kebutuhan pangan. Program revolusi hijau dianggap telah berhasil memberikan solusi dengan adanya peningkatan produksi padi secara besar-besaran. Namun demikian, program revolusi hijau ini ternyata menimbulkan dampak negatif dalam jangka panjang Pemakaian benih unggul hasil rekayasa genetika akan menghancurkan keanekaragaman hayati melalui peningkatan keseragaman genetika sehingga terjadi erosi genetika dan tanaman mudah diserang hama. Penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus mengakibatkan kandungan organik tanah (humus) menurun drastis, sehingga kemampuan tanah untuk mendukung ketersediaan air, hara, dan kehidupan biota cenderung menurun dan akhirnya mengakibatkan tanah menjadi padat dan keras. Bahaya lain adalah saat tanah mulai mencapai titik jenuh terhadap akumulasi residu pupuk kimia mengakibatkan produktivitas padi pun akan semakin menurun. Terakhir, pemakaian pestisida menyebabkan terjadinya resistensi hama terhadap pestisida dan juga bernahaya bagi kesehatan manusia karena dapat menyebabkan penyakit kanker. Dalam rangka mengatasi dampak negatif dari sistem pertanian yang menggunakan bahan kimiawi yang tinggi, maka digagaslah sistem pertanian organik (organic farming). Namun perkembangan padi organik menghadapi berbagai kendala karena adanya kesangsian mengenai kemampuan padi organik dalam memecahkan persoalan pemenuhan pangan. Hal ini terjadi karena adanya anggapan produktivitas padi organik rendah sehingga timbul kekhawatiran padi organik ini tidak menguntungkan secara ekonomi. Salah satu solusi yang ditawarkan oleh lumbung petani sehat (LPS) untuk mengatasi kekhawatiran tersebut adalah budidaya padi bebas pesisida. Tujuan dari budidaya padi bebas pestisida ini adalah membebaskan petani dari pupuk dan pestisida kimia secara perlahan-lahan. Pada proses budidayanya, padi bebas pestisida masih menggunakan pupuk kimia namun dengan dosis pemakaian dikurangi dari dosis pemakaian pupuk kimia normal. Namun pestisida kimia diganti secara total oleh pestisida nabati (organik). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan keuntungan antara usahatani padi bebas pestisida dengan padi anorganik yang dilihat dari pendapatan dan efisiensi usahatani, mengetahui saluran, lembaga dan marjin pemasaran padi bebas pestisida di berbagai lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran dan mengetahui karakteristik konsumen beras bebas pestisida. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil kasus Gapoktan Silih di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Lokasi penelitian pemasaran beras bebas pestisida bertempat di Cigombong, Ciomas, Warung jambu dan Cibinong Penelitian dilakukan pada Bulan September-Desember 2006. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data-data tersebut diolah dengan menggunakan Microsoft excell dan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcPadi anorganikid
dc.titleAnalisis perbandingan keuntungan usahatani padi bebas pestisida dengan padi anorganikid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordPestisidaid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record