Show simple item record

dc.contributor.advisorSuroso, Arif Imam
dc.contributor.authorSulaksana, Made
dc.date.accessioned2023-10-25T11:46:14Z
dc.date.available2023-10-25T11:46:14Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/128418
dc.description.abstractDunia usaha di Indonesia digerakkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor swasta dan sektor koperasi. Walaupun memiliki perbedaan, tidak menghalangi kerjasama lintas sektoral untuk bersama-sama melakukan kegiatan pengembangan usaha. Salah satu bentuk sinergi kerja sama antar pelaku usaha adalah melalui kemitraan. Kemitraan antara badan usaha menjadi semakin penting karena terjadinya kecenderungan globalisasi ekonomi yang mendorong semakin kompetitifnya tingkat persaingan. Tepung terigu merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki banyak produk diversifikasi dalam pengolahan lanjutannya. Dalam profil industri pengguna terigu nasional, 59,6 persen didominasi oleh Usaha Kecil Menengah (UKM). PT ISM Bogasari Flour Mills selaku produsen terigu terbesar di dunia, juga merniliki konsumen terbesar berasal dari UKM. Karena itu, perusahaan melaksanakan kemitraan dalam pemberdayakan mitra UKM guna menghadapi persaingan bisnis yaag semakin kompetitif. Koperasi Pedagang Mi Bakso Jakarta Utara (KPMB-JU), merupakan salah satu mitra binaan perusahaan yang beranggotakan pengusaha dan pedagang mi basah. KPMB-JU telah dijadikan proyek percontohan oleh perusahaan dalam mengembangkan pelaksanaan kemitraan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan membentuk kernitraan antara perusahaan dengan KPMB-JU, mengetahui manfaat pelaksanaan kemitraan bagi kedua pelaku dan menentukan pola _kemitraan yang sesuai menurut kedua pelaku. Ruang Iingkup penelitian dibatasi untuk KPMB-JU wilayah usaha DKI Jakarta dengan produk mi basah. Data yang digunakan adalah data primer melalui wawancara terstruktur dan penyebaran kuisioener. Data sekunder diperoleh dari literatur perusahaan, perpustakaan Magister Manajemen Agribisnis, perpustakaan LSI-IPB, situs perusahaan, dan bahan pustaka lain yang relevan dengan penelitian. Penentuan responden ditentukan berdasarkan kualitas responden yang mengetahui keseluruhan permasalahan dan memiliki wewenang strategis dalam pelaksanaan kemitraan. Dari perusahaan dipilih dua responden yaitu CEO Support Office dan Manager SME (Small Medium Enterprise). Sedangkan dari koperasi, dipilih Ketua KPMB-JU yang juga merupakan salah satu pendirinya. Kuisioner digunakan dalam membantu memberikan penilaian kepentingan elemen berdasarkan fokus permasalahan yang dianalisis. Alat analisis yang digunakan adalah menggunakan metode Proses Hirarki Analitik (PHA) dengan bantuan program Expert Chioce version 9.87. PHA digunakan dalam menstruktur elemen penyusun hirarki yang terkait dengan fokus permasalahan, membandingkannya antar elemen dengan pengolahan horisontal dan vertikal, kemudian melakukan sintesis terhadap fokus agar diperoleh prioritas kepentingan. Menurut perusahaan, urutan prioritas berdasarkan bobot faktor yang mendorong kemitraan adalah jaminan kualitas yang bisa dinikmati konsumen akhir (0,544), perluasan pasar (0,200), pengembangan usaha (0,157), transfer teknologi (0,053) dan transfer manajemen (0,046). Sedangkan menurut KPMB-JU, urutan prioritas berdasarkan bobot faktor yang mendorong kemitraan adalah jaminan kualitas yang bisa dinikmati konsumen akhir (0,322), transfer manajemen (0,280), perluasan pasar (0,220), pengembangan usaha (0, 131 ), dan transfer teknologi (0,04 7). Manfaat kemitraan bagi kedua pe]aku berbeda. Karena menurut perusahaan sebagai pihak yang memiliki kepentingan terbesar, manfaat harus lebih banyak dirasakan anggota KPMB-JU yang memiliki banyak keterbatasan. Manfaat bagi perusahaan dapat dirasakan mengikuti manfaat KPMB-JU. Berdasarkan jangka waktu, perusahaan menilai periode jangka panjang (>5tahun) menjadi prioritas utama dengan bobot 0,641, prioritas kedua periode jangka menengah (1-5 tahun) dengan bobot 0,254, dan prioritas terakhir adalah jangka pendek dengan bobot 0,104. Manfaat jangka panjang yang teridentifikasi adalah efisiensi usaha, kelangsungan usaha, pertumbuhan perusahaan, dan pembentukan citra perusahaan. Sedangkan pada manfaat persaingan usaha, periode jangka menengah menjadi perhatian utarna. Manfaat kemitraan menurut KPMB-nJ dapat dibagi dalarn tujuh aspek. Urutan prioritas berqasarkan bobot yaitu aspek hukurn dan legal (0,393.), aspek keuangan (0, 145), aspek produksi (0, 125), aspek pemasaran (0, 122), aspek strategi usaha (0, 120), aspek keamanan pangan (0,073) dan aspek sosial budaya (0,023). Sedangkan menurut periode jangka waktu, prioritas pertama adalah periode jangka panjang (0,606), jangka menengah (0,231) dan jangka pendek (0,163). Penjabaran sub manfaat menurut jangka panjang adalah pendampingan hukum, sumber permodalan, kelancaran dan ketersediaan pasokan terigu, cara pembayaran, pemberian merek, distribusi, informasi pasar, mitra dalam mengatasi hambatan usaha, pengelolaan resiko ekstemal, infonnasi keamanan pangan, sertifikasi mutu dan halal, dan keterikatan dengan kampung halaman. Periode kemitraan dalam jangka menengah menghasil.kan manfaat pengelolaan keuangan, pengembangan produk, dan dukungan keluarga. Sedangkan dalam jangka pendek, sub manfaat kemitraan menurut KPMB-JU adalah pembenahan hukum dan pajak, promosi dan penentuan strategi usaha. Dalam evaluasi bentuk kemitraan yang ideal menurut kedua pelaku, dihasilkan prioritas berdasarkan bobot Pola Keagenan (0,418), Pola Bentuk Lain (0,317), Pola Sub Kontrak (0,073), Pola Waralaba ( 0,067), Pola Inti Plasma (0,063) dan prioritas terakhir Pola Dagang Umum (0,062). Bentuk pola keagenan merupakan bentuk yang paling ideal dalam menjelaskan hubungan kemitraan antara kedua pelaku. Ciri utama yang mendasar rnenurut KPMB-ru adalah diberikannya hak khusus untuk mengambil dan rnemasarkan terigu langsung kepada anggota dan non anggota. Bagi perusahaan, pola keagenan bisa menjadi alternatif dalam peciptaan manfaat lebih banyak bagi KP MB-JU melalui pemberdayaan dengan kemitraan. Ada lima hal yang disarankan berdasarkan hasil penelitian ini. Pertama, perusahaan sebaiknya melakukan kerja sama dengan pihak ketiga dalam memberikan pendampingan bagi KPMB-JU. Selain berfungsi sebagai evaluator pelaksanaan kemitraan yang lebih obyektif, juga mampu membantu perusahaan mengingat keterbatasan perusahaan dalarn memperhatikan mitra UKM yang sangat banyak. Kedua, perusahaan sebaiknya menyiapkan strategi khusus dalam upaya membina anggota keluarga mitra yang terlibat usaha, terutama generasi mudanya. Hal ini terkait dengan eksistensi usaha mitra UKM yang akan mempengaruhi pelaksanaan kemitraan karena sebagian besar usaha anggota KPMB-JU merupakan usaha rumah tangga. Ketiga, KPMB-JU harus selalu memprioritaskan kepentingan anggota dan menjaga persatuan sesama anggota. Keempat, perusahaan sebaiknya mulai memperhatikan pola hubungan kemitraan yang tepat untuk pemantapan hubungan kemitraan. Kelima, diperlukan penelitian lebih lanjut dalam mengetahui dan mengevaluasi tingkat partisipasi dan pemahaman anggota KPMB-JU terhadap kemitraan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcKoperasiid
dc.subject.ddcTeriguid
dc.titleKajian Implementasi Kemitraan Antara Koperasi Usaha Berbasis Terigu Dengan Perusahaan Besar Swasta: Studi Kasus PT. ISM Bogasari Flour Mills dan Koperasi Pedagang Mi Bakso Jakarta Utara(KPMB-Jakarta Utara)id
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record