| dc.description.abstract | Dunia usaha di Indonesia digerakkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN),
sektor swasta dan sektor koperasi. Walaupun memiliki perbedaan, tidak menghalangi
kerjasama lintas sektoral untuk bersama-sama melakukan kegiatan pengembangan
usaha. Salah satu bentuk sinergi kerja sama antar pelaku usaha adalah melalui
kemitraan. Kemitraan antara badan usaha menjadi semakin penting karena terjadinya
kecenderungan globalisasi ekonomi yang mendorong semakin kompetitifnya tingkat
persaingan.
Tepung terigu merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki banyak
produk diversifikasi dalam pengolahan lanjutannya. Dalam profil industri pengguna
terigu nasional, 59,6 persen didominasi oleh Usaha Kecil Menengah (UKM). PT ISM
Bogasari Flour Mills selaku produsen terigu terbesar di dunia, juga merniliki konsumen
terbesar berasal dari UKM. Karena itu, perusahaan melaksanakan kemitraan dalam
pemberdayakan mitra UKM guna menghadapi persaingan bisnis yaag semakin
kompetitif. Koperasi Pedagang Mi Bakso Jakarta Utara (KPMB-JU), merupakan salah
satu mitra binaan perusahaan yang beranggotakan pengusaha dan pedagang mi basah.
KPMB-JU telah dijadikan proyek percontohan oleh perusahaan dalam mengembangkan
pelaksanaan kemitraan.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan
membentuk kernitraan antara perusahaan dengan KPMB-JU, mengetahui manfaat
pelaksanaan kemitraan bagi kedua pelaku dan menentukan pola _kemitraan yang sesuai
menurut kedua pelaku. Ruang Iingkup penelitian dibatasi untuk KPMB-JU wilayah
usaha DKI Jakarta dengan produk mi basah.
Data yang digunakan adalah data primer melalui wawancara terstruktur dan
penyebaran kuisioener. Data sekunder diperoleh dari literatur perusahaan, perpustakaan
Magister Manajemen Agribisnis, perpustakaan LSI-IPB, situs perusahaan, dan bahan
pustaka lain yang relevan dengan penelitian. Penentuan responden ditentukan
berdasarkan kualitas responden yang mengetahui keseluruhan permasalahan dan
memiliki wewenang strategis dalam pelaksanaan kemitraan. Dari perusahaan dipilih dua
responden yaitu CEO Support Office dan Manager SME (Small Medium Enterprise).
Sedangkan dari koperasi, dipilih Ketua KPMB-JU yang juga merupakan salah satu
pendirinya. Kuisioner digunakan dalam membantu memberikan penilaian kepentingan
elemen berdasarkan fokus permasalahan yang dianalisis. Alat analisis yang digunakan
adalah menggunakan metode Proses Hirarki Analitik (PHA) dengan bantuan program
Expert Chioce version 9.87. PHA digunakan dalam menstruktur elemen penyusun
hirarki yang terkait dengan fokus permasalahan, membandingkannya antar elemen
dengan pengolahan horisontal dan vertikal, kemudian melakukan sintesis terhadap fokus
agar diperoleh prioritas kepentingan.
Menurut perusahaan, urutan prioritas berdasarkan bobot faktor yang mendorong
kemitraan adalah jaminan kualitas yang bisa dinikmati konsumen akhir (0,544),
perluasan pasar (0,200), pengembangan usaha (0,157), transfer teknologi (0,053) dan
transfer manajemen (0,046). Sedangkan menurut KPMB-JU, urutan prioritas
berdasarkan bobot faktor yang mendorong kemitraan adalah jaminan kualitas yang bisa
dinikmati konsumen akhir (0,322), transfer manajemen (0,280), perluasan pasar (0,220),
pengembangan usaha (0, 131 ), dan transfer teknologi (0,04 7).
Manfaat kemitraan bagi kedua pe]aku berbeda. Karena menurut perusahaan
sebagai pihak yang memiliki kepentingan terbesar, manfaat harus lebih banyak
dirasakan anggota KPMB-JU yang memiliki banyak keterbatasan. Manfaat bagi
perusahaan dapat dirasakan mengikuti manfaat KPMB-JU. Berdasarkan jangka waktu,
perusahaan menilai periode jangka panjang (>5tahun) menjadi prioritas utama dengan
bobot 0,641, prioritas kedua periode jangka menengah (1-5 tahun) dengan bobot 0,254,
dan prioritas terakhir adalah jangka pendek dengan bobot 0,104. Manfaat jangka
panjang yang teridentifikasi adalah efisiensi usaha, kelangsungan usaha, pertumbuhan
perusahaan, dan pembentukan citra perusahaan. Sedangkan pada manfaat persaingan
usaha, periode jangka menengah menjadi perhatian utarna.
Manfaat kemitraan menurut KPMB-nJ dapat dibagi dalarn tujuh aspek. Urutan
prioritas berqasarkan bobot yaitu aspek hukurn dan legal (0,393.), aspek keuangan
(0, 145), aspek produksi (0, 125), aspek pemasaran (0, 122), aspek strategi usaha (0, 120),
aspek keamanan pangan (0,073) dan aspek sosial budaya (0,023). Sedangkan menurut
periode jangka waktu, prioritas pertama adalah periode jangka panjang (0,606), jangka
menengah (0,231) dan jangka pendek (0,163). Penjabaran sub manfaat menurut jangka
panjang adalah pendampingan hukum, sumber permodalan, kelancaran dan ketersediaan
pasokan terigu, cara pembayaran, pemberian merek, distribusi, informasi pasar, mitra
dalam mengatasi hambatan usaha, pengelolaan resiko ekstemal, infonnasi keamanan
pangan, sertifikasi mutu dan halal, dan keterikatan dengan kampung halaman.
Periode kemitraan dalam jangka menengah menghasil.kan manfaat pengelolaan
keuangan, pengembangan produk, dan dukungan keluarga. Sedangkan dalam jangka
pendek, sub manfaat kemitraan menurut KPMB-JU adalah pembenahan hukum dan
pajak, promosi dan penentuan strategi usaha.
Dalam evaluasi bentuk kemitraan yang ideal menurut kedua pelaku, dihasilkan
prioritas berdasarkan bobot Pola Keagenan (0,418), Pola Bentuk Lain (0,317), Pola Sub
Kontrak (0,073), Pola Waralaba ( 0,067), Pola Inti Plasma (0,063) dan prioritas terakhir
Pola Dagang Umum (0,062). Bentuk pola keagenan merupakan bentuk yang paling
ideal dalam menjelaskan hubungan kemitraan antara kedua pelaku. Ciri utama yang
mendasar rnenurut KPMB-ru adalah diberikannya hak khusus untuk mengambil dan
rnemasarkan terigu langsung kepada anggota dan non anggota. Bagi perusahaan, pola
keagenan bisa menjadi alternatif dalam peciptaan manfaat lebih banyak bagi KP MB-JU
melalui pemberdayaan dengan kemitraan.
Ada lima hal yang disarankan berdasarkan hasil penelitian ini. Pertama,
perusahaan sebaiknya melakukan kerja sama dengan pihak ketiga dalam memberikan
pendampingan bagi KPMB-JU. Selain berfungsi sebagai evaluator pelaksanaan
kemitraan yang lebih obyektif, juga mampu membantu perusahaan mengingat
keterbatasan perusahaan dalarn memperhatikan mitra UKM yang sangat banyak.
Kedua, perusahaan sebaiknya menyiapkan strategi khusus dalam upaya membina
anggota keluarga mitra yang terlibat usaha, terutama generasi mudanya. Hal ini terkait
dengan eksistensi usaha mitra UKM yang akan mempengaruhi pelaksanaan kemitraan
karena sebagian besar usaha anggota KPMB-JU merupakan usaha rumah tangga.
Ketiga, KPMB-JU harus selalu memprioritaskan kepentingan anggota dan menjaga
persatuan sesama anggota. Keempat, perusahaan sebaiknya mulai memperhatikan pola
hubungan kemitraan yang tepat untuk pemantapan hubungan kemitraan. Kelima,
diperlukan penelitian lebih lanjut dalam mengetahui dan mengevaluasi tingkat
partisipasi dan pemahaman anggota KPMB-JU terhadap kemitraan. | id |