Show simple item record

dc.contributor.advisorNovianti, Tanti
dc.contributor.authorZarmy, Vratika
dc.date.accessioned2023-10-24T23:22:40Z
dc.date.available2023-10-24T23:22:40Z
dc.date.issued2010
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/127994
dc.description.abstractBeras merupakan salah satu tanaman pangan yang memegang peranan penting di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh kebutuhan terhadap beras sebagai salah satu makan pokok lebih dari 90 persen masyarakat Indonesia dan beras menyumbang lebih dari 50 persen kebutuhan kalori serta hampir 50 persen kebutuhan protein. Selain itu, padi merupakan tanaman utama yang diusahakan penyerapan tenaga kerja sebesar 28.79 persen dari total pengerjaan di sektor pertanian (Amang, 1995). Kondisi ini didukung oleh produksi padi domestik yang cenderung mengalami peningkatan, dimana Indonesia merupakan negara penghasil beras nomor tiga di dunia setelah Cina dan India. Akan tetapi, sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk keempat besar di dunia dan pertumbuhan populasi yang terus meningkat, Indonesia juga menjadi negara yang mengkonsumsi beras ketiga dunia. Hal inilah yang mendorong pemerintah untuk melakukan impor beras selain berbagai pertimbangan lainnya, di satu sisi volume impor ini dibutuhkan untuk memperbanyak persediaaan beras dalam negeri yang pada akhirnya bisa meningkatkan daya beli konsumen beras, dan di sisi lain adanya impor akan menyebabkan beras domestik menjadi kalah saing dengan beras impor yang harganya cenderung lebih murah di tingkat eceran. Hal ini menyebabkan konsumen beras lebih memilih beras impor sehingga petani beras akan dirugikan. Sebaliknya jika tidak ada impor beras maka persediaan beras yang ada akan sedikit dan petani beras cenderung menaikkan harga sehingga merugikan konsumen. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kontrol dari pemerintah untuk mengendalikan harga beras secara adil baik di tingkat produsen maupun konsumen. Penelitian ini difokuskan kepada beras putih yang dikonsumsi oleh rumah tangga dan harga beras domestik hanya terdiri dari harga beras domestik di tingkat eceran dan harga beras domestik di tingkat petani. Metode analisis data pada penelitian ini dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif. Analisis secara deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan perekonomian beras domestik dan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi harga beras domestik digunakan metode Two Stage Least Square (2SLS) yang diolah dengan e-views 6.1 sehingga kedua hal ini dapat dijadikan informasi dalam membuat rekomendasi kebijakan. Data yang digunakan adalah data sekunder dalam bentuk time series dengan periode waktu 26 tahun, yaitu dari tahun 1983 hingga 2008...id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomic and managementid
dc.subject.ddcEconomicid
dc.titleAnalisis faktor-faktor yang memengaruhi harga beras domestikid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordHarga berasid
dc.subject.keywordTwo Stage Least Square (2SLS)id
dc.subject.keywordBerasid
dc.subject.keywordBogor Agricultural Universityid
dc.subject.keywordInstitut Pertanian Bogorid
dc.subject.keywordIPBid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record