| dc.description.abstract | Salah satu jenis udang yang sering dibudidayakan di Indonesia adalah
udang windu. Udang windu. banyak dibudidayakan karena memiliki nilai
ekonomis tinggi. Dalam pemeliharaan udang windu, terutama pada masa larva
diperlukan kualitas air yang baik.
Alkyl Sulfate (AS) merupakan salah satu jenis surfaktan anionik yang
menjadi salah satl.L bahan aktif untuk. produk-produk seperti shampo, pasta gigi,
dan kosmetik. Pembuangan limbah ke perairan bebas yang akan bermuara ke laut
menyebabkan surfaktan AS akan banyak terakumulasi di perairan laut. Limbah
surfaktan AS ini berpotensi untuk menjadi salah satu pencemar yang dapat
menurunkan kualitas air laut secara umum dan secara khusus air media budidaya
ikan dan udang di kawasan laut dan pantai. Penurunan kualitas air secara langsung
dapat berpengaruh negatifterhadap produksi ikan dan udang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai toksisitas akut AS terhadap
post larva udang windu yang ditunjukan oleh nilai LC50 pada jam ke 24; 48; dan
96, serta mengetahui pengaruh AS terhadap post larva udang windu meliputi
mortalitas, pertumbuhan, tingkah laku, dan_kerusakan organ pada tingkat akut dan
sub kronis.
Penelitian dilakukan pada bulan September 2004 sampai dengan Januari
2005, yang dilaksanakan di Laboratorium Lingkungan, Laboratorium Kesehatan
Ikan, dan Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Departemen BDP,
FPIK, IPB. Dalam penelitian ini digunakan post larva udang windu sebagai hewan
uji. Sedangkan tahapan dalam penelitian adalah (1) pembuatan kurva standar; (2)
uji kestabilan AS; (3) range finding test; ( 4) uji akut; dan (5) uji sub kronis.
Pada uji akut, digunakan 4 macam konsentrasi AS dan 1 kontrol dengan
pengamatan dilakukan terhadap: (1) mortalitas; (2) tingkah laku; (3) histopatologi,
dan (4) kualitas air. Sedangkan pada uji sub kronis, digunakan 3 macam
konsentrasi AS dan 1 kontrol dengan pengamatan dilakukan terhadap: (1)
mortalitas; (2) tingkah laku; (3) pertumbuhan, (4) histopatologi, dan (5) kualitas
air. Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak 2 ulangan dengan pergantian
air sebanyak 100% setiap 12 jam_
Untuk menentukan nilai LC50 digunakan metode analisis probit.
Sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah RAL dengan 2 ulangan,
dan uji anova yang dilanjutkan dengan uji BNJ.
Pada uji akut diperoleh nilai LC5o-24; 48; dan 96 jam berturut-turut adalah
sebesar 36,56; 29,37; dan 24,44 mg/I. Hal ini menunjukkan bahwa pada
konsentrasi-konsentrasi tersebut AS dapat mematikan setengah dari populasi post
larva udang windu berukuran PL10 selama waktu pemaparan tersebut.
Pada konsentrasi akut yaitu 13,68; 18,71; 25,58; dan 34,99 mg AS/I, AS
menyebabkan kematian dan perubahan tingkah laku, serta kerusakan pada insang
dan hepatopankreas. Kerusakan pada insang berupa fusi, kondensasi, nekrosis dan
hipertropi pada sel-sel filamen insang, sedangkan pada hepatopankreas kerusakan
yang terjadi berupa nekrosis, degenerasi lemak, dan hipertropi pada sel-sel
hepatopankreas. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa konsentrasi akut surfaktan
AS berpengaruh nyata terhadap mortalitas (P<0,05).
Pada uji sub kronis, mortalitas pada akuarium kontrol terjadi karena
adanya kanibalisme pada post larva udang. Sedangkan pada akuarium perlakuan,
AS menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, perubahan tingkah laku, dan
kerusakan pada insang dan hepatopankreas yaitu dengan terjadinya hipertropi,
hiperplasia dan atropi pada sel-sel filamen insang serta nekrosis, hipertropi dan
degenerasi lemak pada sel-sel hepatopankreas. Hasil uji statistik menunjukkan
bahwa konsentrasi kronis yaitu 17, 11 mg/1 berpengaruh nyata terhadap mortalitas
dan pertwnbuhan post larva udang windu (P<0,05).
Parameter kualitas air yang terukur dalam penelitian menunjukkan kualitas
yang cukup baik untuk pemeliharaan udang windu sehingga tidak mempengaruhi
perlakuan. | id |