Analisis Pengaruh Foreign Direct Investment (FDI) terhadap Industri Besi Baja di Indonesia
View/ Open
Date
2011Author
Hilman, Muhammad Rafili
Hakim, Dedi Budiman
Metadata
Show full item recordAbstract
Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) menganalisis faktor-faktor yang
memengaruhi output PDB industri besi baja di Indonesia, (2) menganalisis
pengaruh shock FDI sektor industri besi baja terhadap output PDB industri besi
baja di Indonesia, (3) menganalisis pengaruh shock FDI sektor industri besi baja
terhadap variabel nilai tukar, ekspor neto, PMDN, suku bunga internasional
(LIBOR), suku bunga pinjaman investasi (4) menganalisis kontribusi variabel
nilai tukar, ekspor neto, PMDN, LIBOR, suku bunga terhadap FDI sektor industri
besi baja.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Granger
Causality (Kausalitas Granger), Vector Auto Regression (VAR) dan Vector Error
Correction Model (VECM) dalam mengolah beberapa data time series. Metode
yang akan digunakan untuk melakukan analisis pengaruh guncangan FDI sektor
industri besi baja terhadap output PDB industri besi baja di Indonesia dan variabel
makroekonomi seperti yang telah disebutkan adalah analisis impuls respon (IRF)
dan analisis peramalan dekomposisi ragam galat (FEVD). Data utama yang
digunakan dalam studi ini adalah data sekunder dan jenis data yang dikumpulkan
diantaranya data nilai tukar USD/Rp, PDB sektor industri besi baja, suku bunga
internasional (LIBOR), suku bunga pinjaman investasi, Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN) sektor industri besi baja, Foreign Direct Investment (FDI) sektor
industri besi baja, dan ekspor neto logam dasar besi baja.
Hasil estimasi VECM model penelitian menunjukkan faktor-faktor yang
memengaruhi output PDB industri besi baja di Indonesia terbagi dalam dua
periode. Periode jangka pendek menunjukkan bahwa variabel PDB industri besi
baja lag kedua berpengaruh signifikan positif, LIBOR lag pertama dan lag kedua
berpengaruh signifikan negatif terhadap output PDB industri besi baja di
Indonesia. Periode jangka panjang menunjukkan bahwa variabel nilai tukar dan
ekspor neto besi baja berpengaruh signifikan yang negatif, FDI sektor industri
besi baja, PMDN sektor industri besi baja, LIBOR, dan suku bunga pinjaman
investasi berpengaruh signifikan yang positif terhadap output PDB industri besi
baja di Indonesia.
Pengaruh guncangan FDI sektor industri besi baja terhadap output PDB
industri besi baja dan variabel makroekonomi (PMDN, suku bunga pinjaman
investasi, LIBOR, nilai tukar, eskpor neto) menunjukkan fakta bahwa FDI sektor
industri besi baja memengaruhi fluktuasi output PDB industri besi baja hingga
kuartal ke-12, sedangkan variabel makroekonomi rata-rata sampai pada kisaran
kuartal ke-20 hingga kuartal ke-50.
Kesimpulan lain yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu berdasarkan
hasil FEVD secara keseluruhan menunjukkan bahwa variabel PMDN, suku
bunga, output PDB besi baja, nilai tukar, LIBOR, serta ekspor neto memberikan
proporsi yang relatif lebih tinggi terhadap FDI sektor industri besi baja dalam
kuartal yang lebih panjang, sedangkan FDI yang dipengaruhi oleh shock FDI
sendiri memberikan proporsi yang relatif lebih tinggi dalam kuartal awal dan
pertengahan.
Volume impor besi baja yang masih sangat besar dapat dikurangi dengan
meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan industri besi baja di Indonesia.
Kondisi ini dapat ditunjang salah satunya dengan peningkatan realisasi investasi
baik investasi asing seperti Foreign Direct Investment (FDI) ataupun investasi
dalam negeri (PMDN). Hal ini memberikan rekomendasi kepada pemerintah
untuk dapat meningkatkan realisasi FDI yang masuk juga ke sektor sekunder
seperti industri pengolahan besi baja salah satunya dengan memberikan insentif
suku bunga bagi para investor baik investor dalam negeri maupun investor asing.
Otoritas moneter selain itu harus memiliki mekanisme yang tepat untuk
memelihara kestabilan kurs Rupiah baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang karena ketidakstabilan kurs akan memicu fluktuasi harga barang tradable
(ekspor-impor) besi baja di Indonesia. Pemerintah juga dapat memberikan insentif
ekspor bagi eksportir besi baja domestik dalam bentuk pajak ekspor yang ringan
untuk memacu peningkatan produksi output besi baja di Indonesia
