Show simple item record

dc.contributor.advisorGiriwono, Puspo Edi
dc.contributor.advisorHerawati, Dian
dc.contributor.authorLiguori, Christian
dc.date.accessioned2023-08-07T00:33:48Z
dc.date.available2023-08-07T00:33:48Z
dc.date.issued2023
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/123132
dc.description.abstractIndonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di dunia. Sebagian besar kopi yang dihasilkan adalah kopi robusta, namun produktivitas kopi arabika kian meningkat seiring dengan besarnya permintaan ekspor dan adanya tren penyeduhan manual kopi lokal (manual brewing) yang umumnya menggunakan bahan baku kopi arabika. Dataran tinggi Gayo di Aceh merupakan penghasil kopi arabika terbesar Indonesia dan menyumbang produktivitas lebih dari 25% kapasitas nasional. Citarasa kopi arabika Gayo telah banyak dieksplorasi dan dikenal oleh pecinta kopi, namun penelitian mengenai sifat fungsionalnya masih terbatas. Kopi sering dikaitkan dengan kafein, meskipun dewasa ini semakin banyak ditemukan kandungan senyawa bioaktif lain yang berpotensi memberikan efek positif bagi kesehatan seperti kelompok asam fenolat, diterpen, dan alkaloid. Proses penyeduhan mengekstrak kandungan dalam biji kopi. Perbedaan metode penyeduhan berpotensi menyebabkan adanya perbedaan jenis dan jumlah senyawa yang terekstrak, tak terkecuali senyawa bioaktifnya. Penyeduhan langsung seperti kopi tubruk, penyeduhan dengan corong dan kertas saring seperti V60, serta penyeduhan dengan kantong kertas yang digantungkan pada cangkir atau dikenal sebagai drip bag menghasilkan kandungan asam fenolat dan diterpen yang berbeda pada hasil akhir. Asam fenolat dalam bentuk isomer caffeoylquinic acid (CQA) yang dominan, yaitu 3-CQA, 4-CQA, dan 5-CQA, terdeteksi pada seduhan tubruk berturut-turut 0,38; 0,45; dan 1,11 mg/mL dan pada V60 berturut-turut 0,39; 0,45; dan 1,18 mg/mL. Seduhan drip bag secara nyata lebih rendah dengan kandungan CQA berturut-turut 0,25; 0,33; dan 0,85 mg/mL. Diterpen dalam bentuk kafestol dan kahweol terdeteksi paling tinggi dalam seduhan tubruk, berturut-turut sebesar 3,03 dan 7,86 mg/L. Kadar kedua diterpen tersebut dalam seduhan V60 berturutturut 0,40 dan 1,02 mg/L, sedangkan dalam seduhan drip bag 0,46 dan 0,85 mg/L. Uji aktivitas antioksidan metode DPPH menunjukkan tidak ada beda nyata antar sampel yang berbeda proses penyeduhan, namun uji FRAP menunjukkan aktivitas tertinggi dimiliki seduhan tubruk sebesar 635,12 mg EAG/L, diikuti V60 sebesar 560,91 dan drip bag 551,10 mg EAG/L. Variasi metode penyeduhan menyebabkan adanya perbedaan prinsip ekstraksi, lama kontak bubuk kopi dengan air, serta laju alir dan durasi proses penyeduhan. Keseluruhan faktor tersebut mempengaruhi efisiensi ekstraksi sehingga menghasilkan perbedaan pada kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidan hasil seduhan.id
dc.description.sponsorshipOrang Tua Groupid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleKadar Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Antioksidan Seduhan Kopi Arabika dengan Variasi Metode Penyeduhanid
dc.title.alternativeBioactive Content and Antioxidant Activity of Arabica Coffee Brew with Various Brewing Methodsid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordantioxidant activityid
dc.subject.keywordphenolic acidsid
dc.subject.keywordditerpenesid
dc.subject.keywordarabica coffeeid
dc.subject.keywordand manual brewingid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record