Pemanfaatan limbah blotong sebagai bahan organik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.)
View/ Open
Date
1994Author
Sulistijorini
Abidin, A. Surkati
H. S. Partoatmodjo
F. G. Suratmo
Metadata
Show full item recordAbstract
Dalam industri gula, ada tiga jenis limbah yang dihasilkan,
yaitu : Bagase (ampas), blotong, dan melase (tetes). Ampas dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan campuran pakan ternak. Tetes
dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan alkohol, spiritus,
dan penyedap rasa. Blotong dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Di
daerah Cirebon, Jawa Barat, banyak terdapat pabrik gula yang belum
memanfaatkan blotong secara optimal. Maka sebagai salah satu cara
pemanfaatan blotong tersebut adalah menggunakannya sebagai bahan
organik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman cabai
merah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak
pemanfaatan berbagai jenis blotong sebagai bahan organik yang dikombinasikan
dengan pemberian pupuk urea, terhadap usaha peningkatan
pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah.
Penelitian dilakukan di Rumah kaca Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogar. Analisis tanah, blotong, dan jaringan tanaman
dilakukan di Laboratorium Ekofisiologi, Balai Penelitian Tanaman
Pangan (Balittan) Bogar. Penelitian berlangsung dari bulan September
1992 hingga bulan April 1993. Rancangan percobaan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Rancangan Faktorial Acak Lengkap dengan
dua faktor yang masing-masing terdiri dari sembilan taraf dan tiga
taraf, serta tiga ulangan. Faktor blotong terdiri dari Kontrol
(B-0), blotong sulfitasi lapuk dosis 15 ton/ha atau setara dengan 75
g/polibag (BSL 15), blotong sulfitasi segar dosis 15 ton/ha (BSS 15),
blotong karbonatasi lapuk dosis 15 ton/ha (BKL 15), blotong karbonatasi
segar dosis 15 ton/ha (BKS 15), blotong sulfitasi lapuk dosis 30
ton/ha atau setara dengan 150 g/polibag (BSL 30), blotong sulfitasi
segar dosis 30 ton/ha (BSS 30), blotong karbonatasi lapuk dosis 30
ton/ha (BKL 30), dan blotong karbonatasi segar dosis 30 ton/ha (BKS
30). Faktor dosis urea meliputi : Tanpa pemupukan urea (N-0), urea
dos is 100 kg/ha (N-100), dan urea dosis 200 kg/ha (N-200) . Unit
percobaan sebanyak 81 polibag, dengan dua tanaman setiap polibag.
Pengamatan dilakukan terhadap semua tanarnan. Peubah yang diamati
adalah tinggi tanarnan, jumlah daun, jumlah bunga rnekar, jurnlah buah,
jumlah dan ukuran buah, panjang dan jumlah cabang akar, bobot basah
dan kering akar, serta bobot basah dan kering brangkasan. ...
