| dc.description.abstract | Pemasaran komoclitas hortikultura, baik untuk pasar dalam
negeri maupun luar negeri, mempunyai prospek yang baik. Jeruk
merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai
permintaan pasar yang kuat clalam bentuk segarnya.
Kebijaksanaan pengembangan jeruk yang dicanangkan di Indonesia
clitujukan untuk meningkatkan produksi jeruk guna menuhi
permintaan pasar tersebut. Namun, jeruk mempunyai karakteristik
yang muclah rusak sehingga menjacli kendala untuk
pemasaran . Oleh karena itu perlu dicari teknologi pasca
panen jeruk yang dapat memperpanjang umur simpan selama pemasaran
Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
laju kerusakan komoditas yang telah dipanen. Kondisi
suhu lingkungan yang berbeda, tergantung pola suhu-waktunya,
akan memberikan pengaruh yang berbeda pula. Bila suhu lingkungan
yang dialami oleh jeruk dalam tahap pasca panen tetap,
maka perubahan mutu yang terjadi dapat diduga berdasarkan pengalaman.
Namun, selama pengangkutan jeruk tidak selalu berada
dalam lingkungan yang bersuhu tetap, karena itu perlu dilakukan
usaha untuk menduga perubahan mutu jeruk berdasarkan
data suhu-waktu.
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) menentukan indikator mutu jeruk Siem yang mempengaruhi penerimaan konsumen, (2) mengamati perkembangan perubahan indikator mutu jeruk Siem selama penyimpanan. (3) menyusun program komputer untuk menduga perubahan indikator mutu jeruk Siem selama penyimpanan, dan (4) menguji program yang disusun dengan hasil percobaan. komputer
Dalam penelitian ini, penyusunan model penduga perubahan mutu jeruk dalam penanganan pasca panen berdasarkan hipotesis toleransi waktu-suhu. Adapun indikator mutu yang dipertin- bangkan adalah sifat reologi, susut bobot, dan pH, karena ketiga faktor tersebut menunjukkan perubahan yang akumulatif selama penyimpanan berdasarkan hasil penelitian Sipayung (1976). Efendi (1986), Madawiwaha (1988), dan Waluyo (1990).
Bahan utama yang digunakan adalah jeruk Siem (Citrus no- bilis) varietas lokal yang diperoleh dari kebun jeruk di kecamatan Ciomas, kabupaten Bogor. Kriteria jeruk yang digunakan adalah jeruk matang, diameter rata-rata berkisar 5 - antara 6.5 cm, dan tidak mengalami kerusakan mekanis (secara visual).
Dalam penelitian ini jeruk dikemas dengan "styrofoam tray" dan "stretch film". Laju respirasi diukur dengan menyimpan jeruk dalam stoples gelas. | id |