Show simple item record

dc.contributor.advisorFardiaz, Dedi
dc.contributor.advisorYasni, Sedarnawati
dc.contributor.authorSeptiani, Triayu
dc.date.accessioned2023-06-06T05:14:34Z
dc.date.available2023-06-06T05:14:34Z
dc.date.issued2013
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118451
dc.description.abstractJahe merupakan tanaman herbal yang berasal dari India, Cina dan Jawa, serta ditemukan juga di Afrika dan Hindia Barat. Jahe tumbuh di daerah tropis di seluruh dunia dan umum ditemukan di Asia Tenggara terutama Indonesia. Bagian rimpang jahe umum digunakan dan dikenal mengandung oleoresin dan minyak atsiri. Oleoresin adalah salah satu komponen dalam jahe yang sering diekstrak dan memberikan rasa pedas dan pahit. Sifat pedas tergantung dari umur panen, semakin tua umurnya akan semakin terasa pedas dan pahit. Oleoresin mengandung minyak atsiri 15-35%. Kandungan oleoresin dapat menentukan jenis jahe. Jahe dengan intensitas pedas yang tinggi, mengandung oleoresin yang tinggi. Oleoresin jahe berbentuk cairan kental berwarna kuning, mempunyai rasa pedas yang tajam, larut dalam alkohol dan petroleum eter, dan sedikit larut dalam air. Oleoresin jahe mengandung seskuiterpen, gingerol, shogaol, zingiberen, zingiberol, pinene, kukumen, sesquiphellandran, zingeron, 6-dehidrogingerdion, gingerglikolipid, dan asam organik (asam laurat, palmitat, oleat, linoleat, dan stearat). Komponen tersebut yang membuat oleoresin memiliki potensi sebagai antioksidan yang mampu memperlambat atau mencegah terjadinya proses oksidasi oleh radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS). Pengembangan lebih lanjut dari oleoresin atau minyak atsiri adalah dengan menggunakan teknik enkapsulasi. Pada teknik enkapsulasi, minyak atsiri atau oleoresin diperangkap dalam suatu pelapis polimer, membentuk mikrokapsul bulat berukuran antara puluhan mikron sampai beberapa milimeter. Isi atau flavor dalam mikrokapsul tersebut kemudian dapat dilepaskan dengan kecepatan terkontrol pada kondisi tertentu. Oleoresin atau minyak atsiri yang dienkapsulasi sangat efektif digunakan dalam produk makanan dan minuman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antioksidan dari oleoresin rimpang jahe selama emulsifikasi dan enkapsulasi. Berat oleoresin dalam penelitian ini adalah 0.904, indeks bias 1.4895, dan aktivitas antioksidan dari IC50 adalah 90,43 ppm. Sembilan komponen yang teridentifikasi pada kromatogram oleoresin adalah β- pinene, eugenol, α-curcumene, zingiberene, α-farnesene, β-bisabolene, β- sesquiphellandrene, camphene, dan gingerol. Viskositas dari emulsi oleoresin jahe berkisar antara 36.25-55 mPa.s dan nilai pH larutan emulsi oleoresin jahe berada pada kisaran 5.35-6.06. Pada karakteristik enkapsulat oleoresin, meliputi kadra air yang berkisar antara 0.73 – 2.28%, kelarutan 92.56-97.06%, total padatan terlarut 8.5-9.4 0Brix, dan indeks bias 1.34-1.35. Sampel enkapsulat juga dianalisis sensori menggunakan metode Quantitative Descriptive Analysis dan ukuran partikel menggunakan SEM. Formulasi enkapsulat oleoresin jahe terbaik pada penelitian ini diperoleh dari formulasi gum arab: maltodekstrin: air: oleoresin: waktu homogenisasi adalah 5: 31: 64: 3: 10 '; 5: 31: 64: 3: 15'; 5: 36: 59: 3: 10 '; 5: 36: 59: 3: 15'. Keempat formulasi menghasilkan kadar air terendah yaitu 0.73% dan kelarutan tertinggi 97.06% dan dipilih untuk aplikasi pada minuman instan oleoresin jahe. Pada enkapsulat oleoresin, nilai IC50 yang diperoleh 1128-23296 ppm. Dari keempat sampel enkapsulat, empat komponen yang masih tertinggal adalah α-curcumene, zingiberene, β-bisabolene dan β-sesquiphellandrene.id
dc.language.isoidid
dc.subject.ddcFood Sciencesid
dc.titlePotensi antioksidan dalam enkapsulat Oleoresin Jaheid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordEncapsulationid
dc.subject.keywordGingerid
dc.subject.keywordGum Arabicid
dc.subject.keywordMaltodextrinid
dc.subject.keywordOleoresin;id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record