Pertumbuhan Aspergillus ochraceus dan Produksi Okratoksin A pada Jagung dan Kedelai serta Pengendalian Pertumbuhannya oleh Saccharomyces cerevisiae.
View/ Open
Date
2014Author
Simatupang, Sinta Adelina
Rahayu, Winiati P
Lioe, Hanifah N
Metadata
Show full item recordAbstract
Aspergillus ochraceus merupakan kapang toksigenik penghasil okratoksin A (OTA) yang dapat tumbuh pada berbagai produk hasil pertanian, seperti jagung, kacang-kacangan, kedelai, sorgum, kopi, kakao (Cabrera et al. 2005; Bayman & Baker 2006; WHO 2008). Keberadaan kapang tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya kontaminasi OTA pada produk pertanian. Pertumbuhan dan produksi OTA oleh A. ochraceus dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban (Astoreca et al. 2010). Kontaminasi OTA pada pangan tidak hanya dapat menurunkan kualitas pangan tetapi juga dapat memberi pengaruh buruk terhadap kesehatan manusia dan hewan yang mengonsumsi produk pangan yang mengandung OTA. Pencegahan kontaminasi OTA pada bahan pangan dapat dilakukan melalui pengendalian pertumbuhan A. ochraceus dengan menggunakan mikroba antagonis. Salah satu mikroba yang banyak digunakan dalam pengendalian pertumbuhan kapang toksigenik adalah Saccharomyces cerevisiae yang dikenal aman.
Penelitian ini bertujuan : (1) mengetahui pola pertumbuhan A. ochraceus dan produksi OTA yang dihasilkan akibat perubahan suhu dan kelembaban pada jagung dan kedelai, (2) memperoleh metode pengendalian pertumbuhan A. ochraceus secara biologis dengan menggunakan mikroba S. cerevisiae. Manfaat dari penelitian ini adalah dengan mengetahui pola pertumbuhan A. ochraceus dan produksi OTA maka dapat direkomendasikan upaya pencegahan pertumbuhan kapang toksigenik dan produksi toksinnya sehingga dapat meningkatkan kualitas pangan dan dapat mengurangi risiko bahaya kimia pangan.
Penelitian yang dilakukan terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah pengujian pengaruh suhu (20, 30, 40 oC) dan kelembaban (70, 80, 90%) terhadap pertumbuhan A. ochraceus BIO 220 yang diisolasi dari biji kakao pada media laboratorium dan media pangan (jagung dan kedelai). Tahap kedua dilakukan pengujian pengaruh suhu (20, 30, 40 oC) dan kelembaban (70, 80, 90%) terhadap pembentukan OTA pada media pangan (jagung dan kedelai). Tahap ketiga dilakukan pengujian pengendalian pertumbuhan A. ochraceus BIO 220 dengan menggunakan mikroba antagonis S. cerevisiae ATCC 9376.
Pertumbuhan kapang toksigenik A. ochraceus BIO 220 pada media laboratorium PDA, jagung dan kedelai paling tinggi terjadi pada kondisi suhu 30 oC dan kelembaban 90%. Pembentukan OTA paling tinggi pada jagung dan kedelai yang dikontaminasi dengan A. ochraceus BIO 220 dengan kondisi suhu 20 oC dan kelembaban 80% masing-masing menghasilkan OTA sebanyak 93 dan 45 ng/g. Kapang A. ochraceus BIO 220 tidak dapat tumbuh pada jagung dan kedelai bila kondisinya ekstrim yaitu pada suhu 40 °C dengan kelembaban 70, 80 dan 90%. Presentase penghambatan pertumbuhan A. ochraceus BIO 220 oleh S. cerevisiae ATCC 9376 pada jagung, kedelai dan PDA masing-masing sebesar 59, 49,dan 43%.
Collections
- MT - Agriculture Technology [2427]
