Show simple item record

dc.contributor.advisorChairun, Nisa
dc.contributor.advisorNovelina, Savitri
dc.contributor.authorHiroyuki, Andi
dc.date.accessioned2023-05-25T06:14:04Z
dc.date.available2023-05-25T06:14:04Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118000
dc.description.abstractMusang dengan genus Paradoxurus diketahui terdiri dari empat spesies yaitu musang luwak atau Asian palm civet (Paradoxurus hermaphroditus), musang coklat jerdoni (P. jerdoni), musang emas (P. zeylonensis), dan musang palem Mentawai (P. lignicolor). Musang luwak (P. hermaphroditus) merupakan hewan yang dikenal sebagai penghasil biji kopi luwak. Musang luwak termasuk kedalam kelompok hewan karnivora, namun musang luwak juga mengkonsumsi buahbuahan yang matang seperti pepaya, pisang, kopi dan sebagainya. Petani kopi tradisional masih kurang memperhatikan aspek animal welfare dalam pemanfaatan musang luwak. Musang luwak hanya diberikan pakan buah kopi selama musim panen. Kondisi ini menyebabkan banyak organisasi yang mengecam pemanfaatan musang luwak. Kementerian Pertanian mengeluarkan Permentan No. 37 tahun 2015 mengenai cara produksi kopi luwak yang memenuhi prinsip animal welfare, untuk menghentikan eksploitasi yang berlebihan terhadap musang luwak. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur umum lambung secara makro dan mikro, serta melihat komposisi karbohidrat pada kelenjar lambung musang luwak yang tidak diberi tambahan pakan buah kopi (TMk) dan yang diberi tambahan pakan buah kopi 3 kali dalam seminggu (Mk). Penelitian ini menggunakan enam ekor musang luwak yang dibagi dalam dua kelompok. Pengamatan dilakukan pada struktur makro lambung dengan mengukur panjang lambung dan juga kondisi interior lambung. Pengamatan dilanjutkan dengan melihat struktur mikro dari lambung dan intensitas persebaran karbohidrat asam dan netral pada kelenjar pencernaan. Pengamatan mikroskopik dilakukan dengan metode pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) untuk mengamati struktur umun lambung, serta pewarnaan alcian blue (AB) pH 2,5, periodic acid Schiff (PAS), dan pewarnaan histokimia lektin untuk mengamati komponen karbohidrat pada kelenjar pencernaan lambung. Hasil pengamatan makroskopik menunjukan lambung kelompok Mk berukuran relatif lebih besar dibandingkan dengan lambung kelompok TMk. Lipatan mukosa lebih banyak ditemukan pada lambung kelompok TMk. Lipatan mukosa memiliki peranan dalam proses dilatasi lambung. Hasil pengamatan secara mikroskopis kedua kelompok menunjukan jumlah sel parietal dan sel utama yang relatif sama. Sel parietal memiliki fungsi menghasilkan HCl yang menciptakan kondisi asam dalam lambung dan juga mengaktifkan pepsinogen yang dihasilkan oleh sel utama menjadi pepsin. Karbohidrat asam dan netral menunjukan sebaran dan intensitas yang relatif sama antara kedua kelompok musang. Kondisi ini menunjukan pemberian tambahan pakan buah kopi tiga kali dalam seminggu tidak mempengaruhi kondisi kelenjar lambung musang luwak. Pewarnaan lektin menunjukan hasil sebaran residu gula D-mannose, D-glucose, N-acetyl-Dglucoamine, dan N-acetyl-D-galactosamine pada kelenjar lambung musang luwak. Hasil pewarnaan histokimia lektin menunjukan aktivitas kelenjar kardia, fundus, dan pilorus musang kelompok Mk dan TMk yang relatif sama. Pola ikatan lektin dapat berubah sesuai dengan aktivitas sel dan proses maturasi sel mukus yang akan berpindah ke arah permukaan lumen.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcAnimal Scienceid
dc.titleKomparasi Morfologi Lambung Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) Berdasarkan Pola Pemberian Tambahan Buah Kopi Dalam Pakanid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAsian Palm Civetid
dc.subject.keywordacid carbohydrateid
dc.subject.keywordgastric glandid
dc.subject.keywordStomachid
dc.subject.keywordsugar residueid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record