| dc.description.abstract | Salah satu dampak yang merugikan dari impor benihjagung ialah masuknya patogen baru yang terbawa benih ke Indonesia. Di antara berbagai patogen tular benih pada jagung, bakteri Pantoea stewartii subsp. stewartii (Pnss) penyebab penyakit layu stewart, merupakan patogen penting yang sangat merugikan. Patogen ini mampu menurunkan hasil 40-100%. Berdasarkan Pennentan Nomor 93/Permentan/Ot.140/12/2011 tentang Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, bakteri Pnss termasuk Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang tergolong kategori A I, yaitu OPTK yang belum terdapat di wilayah Indonesia.
Diagnosis suatu penyakit baru pada suatu tempat/negara dapat dilakukan dengan pendugaan (presumptive diagnosis). Pengamatan berdasarkan gejala dan karakteristik koloni patogen pada media isolasi, dan identifikasi dengan kunci identifikasi termasuk cara diagnosis cepat. Diagnosis dengan berbagai cara perlu dilakukan untuk identifikasi penyakit yang lebih akurat sehingga dapat diterima oleh komunitas keilmuan yang ada. Diagnosis penyakit yang akurat diperluk:an untuk menetapkan strategi pengendalian yang tepat. Sampai saat ini upaya pengendalian penyakit layu stewart di luar negeri adalah perlakuan benih menggunakan pestisida sintetis yang mengandung imidachloprid untuk mengendalikan serangga vektor Chaetocnema pulicaria dan penggunaan antibiotik untuk menek:an perkembangan bakteri Pnss. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu altematif pengendalian yang ditujukan pada benih untuk dan bersifat ramah lingkungan. Aplik:asi bakteri endofit dan kitosan dapat mengurangi efek negatif penggunaan senyawa kimia seperti resistensi baru terhadap organisme target dan non target, serta meminimalkan dampak. negatif terhadap produk pangan dan kesehatan manusia. ..dst | id |