| dc.description.abstract | Pengolahan air limbah koagulasi-flokulasi banyak digunakan karena
prosesnya yang sederhana sehingga memudahkan proses sedimentasi. Proses
koagulasi-flokulasi bertujuan untuk mengubah partikel koloid yang sangat kecil
(lebih kecil dari 10-3) menjadi partikel yang lebih besar dengan menggunakan
bahan sintetis atau alami. Bahan sintetis lebih disukai karena tidak perlu mengatur
pH media; hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil (dari 1-5 ppm), flok yang
terbentuk lebih besar, lebih kuat, dan memiliki sifat pengendapan yang lebih baik.
Namun, ia memiliki banyak kekurangan, termasuk sifat non-biodegradable,
neurotoksik, dan karsinogenik. Koagulan / flokulan memiliki kriteria spesifik
seperti tidak toxic, dapat terpresipitasi dan memiliki nilai berat molekul tertentu.
Oleh karena itu, dibutuhkan bahan alami yang aman bagi kesehatan dan
lingkungan dimana kriteria dan kemampuannya sama dengan jenis sintetis.
Gelatin merupakan bahan alami yang diperoleh dari hidrolisis kolagen pada
jaringan ikat, kulit maupun tulang hewan menggunakan asam, basa atau enzim. Ia
memiliki kemampuan dapat digunakan sebagai flokulan alternatif karena memiliki
fungsi ganda dalam proses koagulasi flokulasi. Mekanisme koagulasi flokulasi
yang dilakukan oleh gelatin adalah mampu mendestabilisasi muatan negatif koloid
dan memperbesar agregat yang terbentuk dengan kemampuan adsorbsi. Produksi
gelatin dilakukan dengan memanfaatkan limbah tulang ikan lele yang dihidrolisis
mengguanakan asam HCl, dan menguji kinerja flokulasinya.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Membuat produk flokulan gelatin dari
limbah tulang ikan lele dengan menggunakan metode asam. serta mengidentifikasi
kriteria umum flokulan gelatin berdasarkan nilai pH, berat molekul (Mv), tidak
toksik, dan terpresipitasi dalam larutan, (2) Menguji efektifitas flokulasi flokulan
gelatin dalam menjernihan air, dan (3) Menghitungan neraca massa dan biaya
penggunaan flokulan gelatin skala industri. Tahapan penelitian ini yang dilakukan
adalah membuat gelatin dari tulang ikan lele menggunakan asam HCl,
menganalisis gelatin berdasarkan kriteria flokulan, menguji kinerja flokulasi
dalam menjernihkan air, membuat neraca massa produksi, dan menghitung biaya
flokulan gelatin untuk skala industri.
Limbah tulang ikan lele terlebih dahulu dibersihkan dari sisa lemak dan
daging dan selanjutnya dikeringkan hhingga massa konstan. Selanjutnya
dihidrolisis menggunakan asam HCl konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%.
Ossein hasil hidrolisis selanjutnya dicuci pada air mengalir hinggga pH mendekati
netral. Ossein diekstraksi dengan perlakuan lama waktu 1 jam, 3 jam, 5 jam dan 7
jam dan disaring. Filtrat hasil penyaringan dikeringkan dan perlakuan yang
menghasilkan nilai rendemen gelatin tertinggi akan diproduksi ulang sehingga
gelatin terpilih ditetapkan sebagai flokulan. Flokulan gelatin selanjutnya diuji
efektifitas untuk menjernihkan air menggunakan metode jartest. Jartest
merupakan model sederhana proses koagulasi dan flokulasi, dapat digunakan
untuk mencari dosis kougulan dan flokulan serta nilai parameter-parameter proses
yang optimal melalui percobaan laboratorium.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa flokulan gelatin memenuhi kriteria
dengan pH 5,2, nilai Mv 302,648 g/mol, tidak toksik tidak larut pada pH netral.
Hasil jartest menunjukkan bahwa pemberian flokulan gelatin dosis 40mg/L pada
pH 5,5 mampu menurunkan kekeruhan limbah buatan dari 100 NTU menjadi 28
NTU dengan nilai penyisihan kekeruhan 72% dengan estimasi biaya pengolahan
sebesar Rp. 6.000/m3
. Gelatin memiliki banyak kelebihan dalam kemampuannya
saat digunakan dalam mengolah air. Gelatin dapat di produksi dengan
menggunakan bahan baku yang mudah didapatkan seperti berasal dari limbah
tulang ikan lele. Gelatin dapat dijadikan sebagai flokulan alternatif karena
memiliki kemampuan fungsi ganda yakni dapat diaplikasikan sebagai bahan
flokulasi langsung tanpa perlu membutuhkan bahan koagulan, sifatnya tidak
beracun, mudah terdegradasi, bersifat amfoter di mana dapat menyesuaikan
lingkungan asam atau basa. Pada penelitian lain, produksi gelatin digunakan
sebagai bahan penyerap untuk menghilangkan logam beracun dari air limbah. | id |