Strategi Peningkatan Giro dan Tabungan pada Bank Mandiri Cabang Jakarta Kawasan Industri Pulogadung
Date
2019Author
Suci Bandarianti, Anggi Tria
Najib, Mukhamad
Maulana, Agus
Metadata
Show full item recordAbstract
Sebagai salah satu Bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri memiliki total asset tertinggi pada 2016. Namun tingginya total asset yang dimiliki tidak membuat Bank Mandiri memiliki pertumbuhan yang tinggi untuk produk dana murah, yakni giro dan tabungan. Bank Mandiri Cabang Jakarta Kawasan Industri Pulogadung merupakan salah sat cabang yang diandalkan dalam pencapaian dana murah karena terletak di Wilayah 4 yang merupakan tulang punggung Bank Mandiri yang setiap tahunya diharapkan mencapai 22 persen target Bank Mandiri secara keseluruhan dan juga karena letaknya di Kawasan Industri. Namun pencapaian dana murah Cabang KIP belum seusuai dengan harapan manajemen jika dibandingkan dengan beberapa Cabang yang juga berlokasi di Kawasan Industri di Jabodetabek. Oleh karena itu diputuskan untuk mencari alternatif strategi yang tepat agar perusahaan tetap tumbuh sesuai harapan. Penelitian ini mengevaluasi lingkungan internal dan eksternal perusahaan untuk mencari alternatif strategi bisnis yang sesuai bagi Bank Mandiri Cabang Jakarta Kawasan Industri Pulogadung. Strategi bisnis menggunakan metode analisis Internal Factor Evaluations (IFE) Matrix, External Factor Evaluation (EFE) Matrix, Five Forces Porter, Internal-External (IE) Matrix, Quantitative Strategic Planning (QSPM) Matrix. Penelitian dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan memilih panel ahli yang berkompeten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan harus menerapkan strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Strategi penetrasi pasar dipilih karena untuk pengembangan produk hanya bisa dilakukan oleh Kantor Pusat. Maka beberapa alternatif strategi yang dilakukan antara lain: (1) mengakuisisi nasabah yang belum memiliki rekening di Bank Mandiri (nasabah baru); (2) meretensi nasabah yang memiliki rekening dormant dengan saldo minimal Rp. 50 juta; (3) menambah product holding nasabah top player. Sesuai dengan strategi proiritas yang harus dilakukan oleh Cabang KIP adalah melakukan penetrasi pasar dengan cara melakukan akuisisi nasabah yang belum memiliki rekening. Sehingga implikasi manajerial berupa: (1) melakukan remapping lokasi bisnsi; (2) membuat proposal yang berisi ‘one stop solution’ bagi calon nasabah; (3) budget tahunan untuk penetrasi lebih agresif; (4) update pengetahuan/skill secara berkala.
Collections
- MT - Business [4056]
