Show simple item record

dc.contributor.advisorKusnandar, Feri
dc.contributor.advisorBudijanto, Slamet
dc.contributor.authorAndika, Ari
dc.date.accessioned2021-01-08T13:17:26Z
dc.date.available2021-01-08T13:17:26Z
dc.date.issued2020
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105148
dc.description.abstractProtein dari sumber pangan nabati umumnya memiliki kandungan asam amino esensial yang kurang lengkap. Komposisi asam amino dapat diperbaiki dengan mencampurkan beberapa jenis bahan pangan tertentu seperti serealia dan kacang-kacangan sehingga dihasilkan komposisi asam amino yang saling melengkapi (komplementasi). Salah satu bentuk produk olahan yang dapat dijadikan sebagai model pangan komplementasi adalah beras analog. Proses pembuatan beras analog memungkinkan untuk memo-difikasi zat gizi yang terkandung di dalamnya, di antaranya dengan mengatur kandungan protein. Jewawut (millet), jagung, wijen dan kacang-kacangan mempunyai prospek jika dijadikan formula untuk mendapatkan komposisi asam amino esensial yang baik. Jewawut mengandung metionina dan sisteina yang cukup tinggi, sedangkan kacang-kacangan kaya lisina namun kurang metionina. Saat ini, penggunaan jewawut dalam produk ekstrusi masih terbatas. Perbandingan yang tepat antara jagung dan jewawut, serta biji-bijian dan kacang-kacangan lainnya (kacang merah, kacang hijau, kedelai, jagung, wijen) berpengaruh terhadap kualitas protein beras analog yang dihasilkan. Penelitian beras analog telah dikembangkan sebelumnya dengan menggunakan teknologi ekstrusi dan memanfaatkan bahan baku non beras seperti sorgum, campuran jagung, sorgum dan sagu aren, jagung putih dan sagu campuran jagung putih, sorgum dan kedelai, campuran jagung, kedelai, pati sagu. Pemanfaatan kacang-kacangan dalam pembuatan beras analog sebelumnya sangat mendukung peningkatan jumlah protein produk. Penelitian ini berfokus pada pengembangan mutu beras analog dengan peningkatan kualitas dengan tujuan untuk mendapatkan formulasi beras analog yang memiliki kuantitas protein yang cukup dan kualitas protein yang baik dengan mutu fisik dan organoleptik yang dapat diterima. Penelitian terdiri dari tahapan persiapan bahan baku, formulasi, pembuatan beras analog, karakterisasi kimia dan fisik, analisis in vitro daya cerna protein dan analisis kandungan asam amino. Dalam penelitian ini, sebanyak empat formulasi (F1, F2, F3, dan F4) beras analog yang mengandung serealia dan kacangkacangan diujikan. Pada penelitian ini diperoleh beras analog dengan kadar protein 18,19-19,09% yang memenuhi persyaratan sebagai pangan “sumber protein” berdasarkan ketetapan FAO (2013), yaitu ≥10 % kandungan protein (makanan padat). Beras analog yang dihasilkan juga memiliki karbohidrat yang lebih rendah dibandingkan beras padi. Beras analog memiliki mutu protein yang sangat baik dengan daya cerna protein yang tinggi yaitu F1 (88,86±0,17%), F2 (88,00±0,23%), F3 (86,77±0,72 %) dan F4 (81,27±1,38%). Formula terbaik berdasarkan uji hedonik adalah F3 dengan perbandingan jagung dan jewawut (40:10). Formula F3 memiliki skor asam amino 42,48% dan nilai PDCAAS 36,53%.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcFood Scienceid
dc.titleKarakteristik Fisikokimia dan Sensori Beras Analog Multigrain Berprotein Tinggi.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordasam amino esensialid
dc.subject.keywordberas analogid
dc.subject.keywordformulasiid
dc.subject.keywordkualitas proteinid
dc.subject.keywordjewawutid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record