Show simple item record

dc.contributor.advisorNurmalina, Rita
dc.contributor.advisorBurhanuddin
dc.contributor.authorAstutik, Maghfiroh Andriani
dc.date.accessioned2019-09-30T04:36:01Z
dc.date.available2019-09-30T04:36:01Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/98707
dc.description.abstractPulau Madura merupakan salah satu wilayah sentra garam nasional. Proses pengusahaan garam di Pulau Madura sudah dilakukan sejak dahulu secara turun temurun oleh masyarakat setempat dengan sistem pengolahan garam yang masih terbilang tradisional. Pengusahaan garam yang tradisional ini menghasilkan kualitas garam yang memiliki kadar NaCl rendah sehingga sangat sulit untuk bisa diserap oleh pasar khususnya industri-industri yang banyak membutuhkan garam sebagai bahan baku olahannya. Selain itu penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya alam yang menjadi penunjang keberlanjutan pengusahaan garam, seperti luas lahan garam yang terus mengalami penyusutan. Menyusutnya lahan garam sebagai akibat dari peralihan fungsi lahan menjadi industri dan perumahan yang berdampak pada aspek lingkungan yang memperhatinkan. Banyak lahan garam milik petani garam dialih fungsikan dan tergilas oleh kepentingan usaha lain yang dinilai mampu meningkat aspek ekonomis dari keberadaan lahan tersebut. Manakala modal sewa lahan tinggi dan harga garam kurang menjanjikan, mayoritas pemilik lahan garam kurang bergairah untuk mengelola lahan, sehingga sebagian lahan garam dialihkan menjadi kawasan usaha yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi, semisal gudang, pertokoan, perumahan dan lain sebagainya, karena usaha pegaraman tidak lagi memberikan pendapatan yang layak. Selain itu, keengganan petani garam untuk melakukan usaha garam dan memperbaiki kualitas garam yang di produksinya adalah harga garam di pasar yang tidak stabil ditambah lagi adanya permainan harga yang dilakukan oleh pedagang pengumpul ataupun pabrik garam yang justru merugikan petani garam. Jika hal itu terjadi dan apabila berlanjut akan merugikan petani garam lokal, Sehingga dihawatikan pengusahaan garam di Pulau Madura tidak berlanjut, dikarenakan tidak ada lagi petani garam yang melakukan usaha garam dan berpindah pada pekerjaan lain yang lebih mneguntungkan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, dibutuhkan kajian untuk mengetahui keberlanjutan pengusahaan garam di Pulau Madura dengan melihat lima dimensi yaitu ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi, dan kelembagaan agar tercapai pengusahaan garam yang berkelanjutan. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menilai keberlanjutan pengusahaan garam di tiga wilayah di Pulau Madura yang meliputi Kabupaten Sumenep, Pamekasan, dan Sampang. Secara spesifik penelitian ini bertujuan untuk (1) menilai indeks dan status keberlanjutan pengusahaan garam di Pulau Madura dan di tiga wilayah Pulau Madura, (2) menilai indeks keberlanjutan masing-maisng dimensi (ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi, dan kelembagaan) (3) menentukan faktor paling dominan dalam pengusahaan garam di Pulau Madura. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Madura yang dipilih secara purposive sampling. Titik penelitian tersebar di tiga wilayah yang ada di Pulau Madura yaitu Kabupaten Sumenp, Pamekasan, dan Sampang. Pengumpulan data menggunakan data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan kuisioner terhadap responden (70 petani garam) dan melalui focus group discussion (FGD) dengan informan kunci atau stakeholdres, yang bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai aspek ekologi, kelembagaan dan teknologi yang mendukung keberlanjutan pengusahaan garam. serta pengamatan di lokasi penelitian. Data sekunder berasal dari literatur, dokumen dari berbagai sumber lembaga terkait yang ada di tiga wilayah peneltian. Data diolah dengan menggunakan teknik ordinasi Rap-Salt melalui metode mutidimensional scaling (MDS) yang disebut pendekatan dari metode Rap-Salt (The Rapid Appraisal of the Status of Salt). Penentuan atribut pada setiap dimensi keberlanjutan dalam penelitian ini ada 31 atribut yang mencakup 5 dimensi yaitu 6 atribut pada dimensi ekologi, 6 atribut pada dimensi ekonomi, 6 atribut dimensi sosial budaya, 6 atribut dimensi teknologi, dan 7 atribut apada dimensi kelembagaan. Analisis ordinasi dengan MDS untuk menentukan posisi status keberlanjutan pada setiap dimensi dalam skala indeks keberlanjutan. Melakukan analisis laverage untuk menentukan peubah kunci yang memengaruhi keberlanjutan, dan Analisis Monte Carlo untuk menghitung dimensi ketidakpastian pada selang kepercayaan 95 persen. Hasil analisis Rap-Salt menghasilkan nilai indeks keberlanjutan pengusahaan garam secara multidimensi di Pulau Madura cukup berkelanjutan (60.87%) dan di tiga wilayah (Sumenep, Pamekasan, dan Sampang) cukup keberlanjutan (52.23-.53.31%). Jika dilihat pada masing-masing dimensi, dimensi kelembagaan pada keberlanjutan pengusahaan garam di Pulau Madura memiliki nilai indeks paling rendah dibandingkan lima dimensi lainnya dengan status kurang berkelanjutan, sedangkan untuk tiga wilayahnya memiliki status keberlanjutan bervariasi tiap dimensinya. Hasil analisis sensitivitas (laverage) terhadap 5 dimensi dengan 31 atribut, menghasilkan 16 Atribut yang dominan memengaruhi keberlanjutan pengusahaan garam, yaitu dari dimensi ekologi ada lama musim (11.75 %), salinitas air laut bahan baku garam (6.94 %), dan viskositas air laut bahan baku garam (6.7 %), Pada dimensi ekonomi yaitu penyerapan tenaga kerja garam (15.42 %), penyerapan pasar garam garam (13.8 %), dan efesiensi ekonomi garam (10.58 %), pada dimensi sosial budaya yaitu budaya gotong royong garam (12.77 %), pengetahuan masyarakat terhadap usahatani garam garam (7.27 %), dan usahatani garam sebagai matapencaharian turun temurun garam (8.75 %), sedangkan pada dimensi kelembagaan, yaitu ketersediaan PT Garam (8.84 %), koperasi usaha garam (5.32 %), ketersediaan penyuluh (4.47 %), dan relasi petani dengan pelaku pemasaran (4.43 %). Sementara atribut yang berperan penting sebagai pengungkit keberlanjutan garam pada dimensi teknologi adalah teknologi kristalisasi garam garam (18.75 %), (2) teknologi peralatan panen (9.49 %), dan tingkat adopsi teknologi modern (9.29 %).id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcAgribusinessid
dc.subject.ddcSustainability Statusid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcSampang, Maduraid
dc.titleAnalisis Status Keberlanjutan Pengusahaan Garam di Pulau Maduraid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordindeks keberlanjutanid
dc.subject.keyworddimensi keberlanjutanid
dc.subject.keywordanalisis Rap-Saltid
dc.subject.keywordskala multidimensiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record