Show simple item record

dc.contributor.advisorMulatsih, Sri
dc.contributor.advisorAsmara, Alla
dc.contributor.authorSudrajat, Galih
dc.date.accessioned2019-06-24T04:27:33Z
dc.date.available2019-06-24T04:27:33Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/98006
dc.description.abstractDefisit produksi untuk memenuhi permintaan daging sapi berhubungan dengan kinerja usaha ternak sapi potong nasional. Kinerja usaha ternak sapi potong dicerminkan oleh tingkat efisiensinya. Peningkatan efisiensi usaha ternak sapi potong secara berkesinambungan dapat meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri. Efisiensi produksi terkait dengan penggunaan input produksi mulai dari ketersediaan pakan, penggunaan bibit unggul, manajemen dan kesehatan hewan, serta inovasi teknologi dan faktor-faktor eksternal lainnya (Yusdja et al. 2003). Petani/peternak dari wilayah berbeda, pulau berbeda ataupun negara yang berbeda akan menghadapi oportunitas produksi yang berbeda pula (O’Donnell et al. 2008). Lokasi pemeliharaan merupakan salah satu hal yang harus dipertimbangkan agar usaha peternakan dapat beroperasi secara efektif dan efisien. Lokasi pemeliharaan juga mempunyai implikasi terhadap teknologi pemeliharaan yang digunakan pada usaha ternak sapi potong. Berdasarkan BPS (2017), usaha ternak sapi potong di wilayah barat Indonesia sebagian besar peternak memelihara ternak sapi dengan dikandangkan. Sedangkan di wilayah timur Indonesia, sebagian besar peternak memelihara sapi potong dengan cara dilepas atau dikandangkan dan dilepas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi dan kesenjangan teknologi usaha ternak sapi potong di Indonesia dengan pendekatan fungsi produksi meta-frontier. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat produksi dan menganalisis efisiensi teknis usaha ternak sapi potong di Indonesia, dan menganalisis kesenjangan teknologi usaha ternak sapi potong di Indonesia. Penggunaan analisis meta-frontier dapat digunakan oleh pengambil kebijakan untuk menilai potensi hasil yang akan diperoleh dari suatu kebijakan ataupun program yang diimplementasikan secara lebih baik (O’Donnell et al. 2008). Penelitian ini menggunakan data cross section yang diambil dari hasil Survei Rumah Tangga Usaha Peternakan (ST2013-STU) tahun 2014 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik. Jumlah sampel dalam survei untuk keperluan penelitian ini sebanyak 32,867 rumah tangga peternakan sapi potong. Berdasarkan sebarannya, sampel berasal dari sepuluh Provinsi yang merupakan sentra pengembangan peternakan sapi potong di Indonesia, yaitu Lampung (2,448), Jawa Barat (1,193), Jawa Tengah (4,865), Daerah Istimewa Yogyakarta (2,267), Jawa Timur (10,367), Banten (143), Bali (3,748), Nusa Tenggara Barat (2,808), Nusa Tenggara Timur (1,681), dan Sulawesi Selatan (3,347). Hasil estimasi membuktikan bahwa produktivitas usaha ternak sapi potong sangat ditentukan oleh faktor-faktor produksi yang digunakan. Pada penelitian ini, variabel jumlah ternak yang dipelihara berpengaruh paling dominan dalam memengaruhi produksi sapi potong dibandingkan variabel input produksi lainnya (pakan hijauan, pakan konsentrat, tenaga kerja, dan input pemeliharaan kesehatan hewan) di seluruh provinsi. v Efisiensi teknis usaha ternak sapi potong sangat juga ditentukan oleh berbagai faktor manajerial atau faktor sosial ekonomi peternak. Berbagai variabel tersebut yang digunakan dalam penelitian ini memberikan pengaruh yang beragam pada inefisiensi teknis di masing-masing provinsi. Variabel pengalaman beternak memberikan pengaruh negatif pada nilai inefisiensi usaha ternak sapi potong di semua provinsi. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin lama pengalaman beternak maka usaha ternak sapi potong semakin efisien. Peternak sapi potong di provinsi Jabar dan Sulsel mempunyai rata-rata nilai efisiensi teknis meta-frontier sekitar 50 persen atau belum efisien. Peternak di kedua provinsi tersebut disarankan untuk mengoptimalkan penggunaan input produksi di daerah tersebut yang pengaruhnya positif (pakan hijauan, pakan konsentrat, tenaga kerja, input pemeliharaan kesehatan ternak, dan jumlah ternak yang dipelihara) agar mencapai tingkat produksi maksimum (frontier). Nilai rata-rata efisiensi teknis meta-frontier peternak sapi potong di provinsi Jatim, Banten, dan Lampung di atas 80 persen atau sudah efisien. Peternak di Provinsi-provinsi tersebut sudah mampu menggunakan input-input produksi yang ada untuk mencapai produksi maksimum (frontier). Oleh karena itu perlu dikenalkan penggunaan input-input produksi yang lebih inovatif dan mutakhir seperti penggunaan pakan konsentrat dengan kandungan gizi berimbang, feed additive, feed supplement, dan input produksi mutakhir lainnya yang belum tersedia di Provinsi tersebut.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomicsid
dc.subject.ddcTechnology gapid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcIndonesiaid
dc.titleEfisiensi Teknis dan Kesenjangan Teknologi Usaha Ternak Sapi Potong di Indonesiaid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordefisiensi teknisid
dc.subject.keywordkesenjangan teknologiid
dc.subject.keywordmeta-frontierid
dc.subject.keywordproduksi sapi potongid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record