Efisiensi Teknis dan Kesenjangan Teknologi Usaha Ternak Sapi Potong di Indonesia
Abstract
Defisit produksi untuk memenuhi permintaan daging sapi berhubungan
dengan kinerja usaha ternak sapi potong nasional. Kinerja usaha ternak sapi
potong dicerminkan oleh tingkat efisiensinya. Peningkatan efisiensi usaha ternak
sapi potong secara berkesinambungan dapat meningkatkan produksi daging sapi
dalam negeri. Efisiensi produksi terkait dengan penggunaan input produksi mulai
dari ketersediaan pakan, penggunaan bibit unggul, manajemen dan kesehatan
hewan, serta inovasi teknologi dan faktor-faktor eksternal lainnya (Yusdja et al.
2003).
Petani/peternak dari wilayah berbeda, pulau berbeda ataupun negara yang
berbeda akan menghadapi oportunitas produksi yang berbeda pula (O’Donnell et
al. 2008). Lokasi pemeliharaan merupakan salah satu hal yang harus
dipertimbangkan agar usaha peternakan dapat beroperasi secara efektif dan
efisien. Lokasi pemeliharaan juga mempunyai implikasi terhadap teknologi
pemeliharaan yang digunakan pada usaha ternak sapi potong. Berdasarkan BPS
(2017), usaha ternak sapi potong di wilayah barat Indonesia sebagian besar
peternak memelihara ternak sapi dengan dikandangkan. Sedangkan di wilayah
timur Indonesia, sebagian besar peternak memelihara sapi potong dengan cara
dilepas atau dikandangkan dan dilepas.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi dan kesenjangan
teknologi usaha ternak sapi potong di Indonesia dengan pendekatan fungsi
produksi meta-frontier. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat produksi dan
menganalisis efisiensi teknis usaha ternak sapi potong di Indonesia, dan
menganalisis kesenjangan teknologi usaha ternak sapi potong di Indonesia.
Penggunaan analisis meta-frontier dapat digunakan oleh pengambil kebijakan
untuk menilai potensi hasil yang akan diperoleh dari suatu kebijakan ataupun
program yang diimplementasikan secara lebih baik (O’Donnell et al. 2008).
Penelitian ini menggunakan data cross section yang diambil dari hasil
Survei Rumah Tangga Usaha Peternakan (ST2013-STU) tahun 2014 yang
dilakukan oleh Badan Pusat Statistik. Jumlah sampel dalam survei untuk
keperluan penelitian ini sebanyak 32,867 rumah tangga peternakan sapi potong.
Berdasarkan sebarannya, sampel berasal dari sepuluh Provinsi yang merupakan
sentra pengembangan peternakan sapi potong di Indonesia, yaitu Lampung
(2,448), Jawa Barat (1,193), Jawa Tengah (4,865), Daerah Istimewa Yogyakarta
(2,267), Jawa Timur (10,367), Banten (143), Bali (3,748), Nusa Tenggara Barat
(2,808), Nusa Tenggara Timur (1,681), dan Sulawesi Selatan (3,347).
Hasil estimasi membuktikan bahwa produktivitas usaha ternak sapi potong
sangat ditentukan oleh faktor-faktor produksi yang digunakan. Pada penelitian ini,
variabel jumlah ternak yang dipelihara berpengaruh paling dominan dalam
memengaruhi produksi sapi potong dibandingkan variabel input produksi lainnya
(pakan hijauan, pakan konsentrat, tenaga kerja, dan input pemeliharaan kesehatan
hewan) di seluruh provinsi.
v
Efisiensi teknis usaha ternak sapi potong sangat juga ditentukan oleh
berbagai faktor manajerial atau faktor sosial ekonomi peternak. Berbagai variabel
tersebut yang digunakan dalam penelitian ini memberikan pengaruh yang beragam
pada inefisiensi teknis di masing-masing provinsi. Variabel pengalaman beternak
memberikan pengaruh negatif pada nilai inefisiensi usaha ternak sapi potong di
semua provinsi. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin lama pengalaman
beternak maka usaha ternak sapi potong semakin efisien.
Peternak sapi potong di provinsi Jabar dan Sulsel mempunyai rata-rata nilai
efisiensi teknis meta-frontier sekitar 50 persen atau belum efisien. Peternak di
kedua provinsi tersebut disarankan untuk mengoptimalkan penggunaan input
produksi di daerah tersebut yang pengaruhnya positif (pakan hijauan, pakan
konsentrat, tenaga kerja, input pemeliharaan kesehatan ternak, dan jumlah ternak
yang dipelihara) agar mencapai tingkat produksi maksimum (frontier).
Nilai rata-rata efisiensi teknis meta-frontier peternak sapi potong di provinsi
Jatim, Banten, dan Lampung di atas 80 persen atau sudah efisien. Peternak di
Provinsi-provinsi tersebut sudah mampu menggunakan input-input produksi yang
ada untuk mencapai produksi maksimum (frontier). Oleh karena itu perlu
dikenalkan penggunaan input-input produksi yang lebih inovatif dan mutakhir
seperti penggunaan pakan konsentrat dengan kandungan gizi berimbang, feed
additive, feed supplement, dan input produksi mutakhir lainnya yang belum
tersedia di Provinsi tersebut.
Collections
- MT - Economic and Management [3196]
