Show simple item record

dc.contributor.advisorBaga, Lukman Muhammad
dc.contributor.advisorBurhanuddin
dc.contributor.authorLisma, Yunandar
dc.date.accessioned2019-02-12T02:28:55Z
dc.date.available2019-02-12T02:28:55Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/96874
dc.description.abstractNilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu komoditas penghasil minyak atsiri yang memiliki peranan penting di bidang industri. Minyak nilam mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Komoditas ini digunakan sebagai bahan baku agroindustri parfum, kosmetik, sabun, obat-obatan, dan lain-lain. Tingginya kebutuhan minyak nilam dalam industri dikarenakan minyak nilam dapat mengikat bau wangi, tidak cepat hilang dan tahan lama. Selain itu, minyak nilam juga dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Limbah dari hasil penyulingan minyak nilam yang terdiri dari ampas daun dan batang berpotensi sebagai bahan pembuatan dupa, obat nyamuk bakar dan pupuk kompos. Air dari hasil penyulingan setelah dipekatkan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk aroma terapi. Oleh karena itu, budidaya nilam menjadi target usaha dengan nilai keuntungan yang besar. Provinsi Aceh merupakan penghasil utama minyak nilam. Data dari BPS menunjukkan bahwa Aceh Barat merupakan kabupaten yang memiliki luas lahan terbesar di Provinsi Aceh. Salah satu lembaga yang berperan dalam mengembangkan agroindustri nilam di Aceh Barat yaitu Koperasi Industri Nilam Aceh (KINA) atau disebut dengan KINA Barat. Koperasi ini memiliki peluang untuk menjual produknya ke beberapa perusahaan baik domestik maupun internasional. Akan tetapi, besarnya peluang pasar ini belum dapat diraih oleh KINA Barat, sehingga diperlukan alternatif strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan model bisnis yang sekarang, menganalisis serta merumuskan alternatif strategi baru berdasarkan Business Model Canvas (BMC). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari hasil wawancara yang berpedoman pada kuesioner sedangkan data sekunder didapatkan dari profil dan laporan KINA Barat serta,dinas atau instansi terkait. Untuk memetakan model bisnis dilakukan dengan menggunakan 9 komponen BMC, kemudian dilakukan analisis SWOT pada setiap komponen tersebut serta menentukan strategi prioritas dari berbagai kendala yang ada. Selanjutnya dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan pihak internal KINA Barat. Hasil FGD tersebut disempurnakan dengan Blue Ocean Strategy untuk menghasilkan model bisnis yang baru. Berdasarkan hasil penelitian, pemetaan BMC pada KINA Barat saat ini menunjukkan bahwa perlu adanya perubahan strategi karena masih terdapat segmentasi pasar yang berpotensi dan belum terlayani dengan baik. Isu internal dan eksternal yang diidentifikasi dengan analisis SWOT saat ini masih belum sempurna karena masih memiliki kelemahan strategis seperti KINA Barat pemenuhan permitaan pasar yang belum maksimal, adakalanya anggota KINA Barat beralih untuk menanam tanaman atsiri lain, minimnya media penyebar informasi, dan melonjaknya biaya produksi nilam. Oleh karena itu perlu memperbaiki dengan memanfaatkan peluang-peluang strategis diantaranya pangsa pasar nilam yang masih terbuka lebar, kualitas minyak atsiri terbaik ada pada nilam, dan adanya fasilitator yang mendampingi anggota KINA Barat dalam menstandarisasi aktivitas kunci. Adapun ancaman strategis yang perlu diperhatikan yaitu munculnya kompetitor baik di dalam maupun luar daerah, adanya subtitusi produk dari minyak atsiri lainnya, berpindahnya pelanggan ke produsen lain, kurangnya kegiatan evaluasi yang mengakibatkan kualitas dari aktivitas kunci menjadi rendah serta adanya gangguan dalam pasokan nilam baik secara kualitas maupun kuantitas. KINA Barat perlu menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman tersebut. Adapun kekuatannya terdiri dari pelanggan yang sudah disegmentasikan, memiliki standar mutu, jaringan pemasok yang terintegrasi antar Tempat Pelayanan Anggota (TPA) dan adanya hubungan baik antara KINA Barat dengan mitra. Alternatif strategi yang lebih baik pada KINA Barat yaitu dengan memfokuskan peningkatan segmentasi pelanggan baru dan meningkatkan proposisi nilam. Menambah dan meningkatkan proposisi nilai, ini akan meningkatkan kegiatan utama, mitra utama, aliran pendapatan, dan struktur biaya ke KINA Barat. Komponen Model Bisnis Kanvas secara komprehensif berubah, tetapi ada beberapa komponen tetap termasuk proposisi nilai dalam bentuk layanan kepada pelanggan dan sumber daya utama yang diperlukan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcManagementid
dc.subject.ddcStrategyid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcAceh Baratid
dc.titleStrategi Pengembangan Agroindustri Nilam (Studi Kasus: Koperasi Industri Nilam Aceh di Kabupaten Aceh Barat).id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAnalisis SWOTid
dc.subject.keywordBusiness Model Canvasid
dc.subject.keywordKoperasiid
dc.subject.keywordStrategiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record