Show simple item record

dc.contributor.advisorSyamsu, Khaswar
dc.contributor.advisorDwi, Setyaningsih,
dc.contributor.authorAstriandari, Ayu
dc.date.accessioned2019-01-16T10:02:28Z
dc.date.available2019-01-16T10:02:28Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95645
dc.description.abstractMedia kultivasi mikroalga merupakan komponen penting yang berkaitan dengan segi ekonomis dan pengaruhnya terhadap kehidupan sel didalam kultur. Media sintetik yang banyak digunakan harganya kurang ekonomis, sehingga perlu dicari media alternatif pengganti. Media alternatif pengganti ini dapat berasal dari limbah industri maupun rumah tangga. Beberapa media organik untuk kultivasi mikroalga Spirulina platensis sudah mulai banyak diteliti. Salah satu sumber limbah organik dari industri lainnya adalah berasal dari kelapa sawit. Perkembangan industri kelapa sawit Indonesia terus meningkat dan menjadi negara produsen CPO terbesar di dunia dengan total produksi sebesar 32 juta ton atau sekitar 46,6% dari total produksi CPO dunia. Permintaan pasar dunia terhadap CPO terus meningkat. Data dari world statistik menyebutkan bahwa estimasi kebutuhan CPO dunia pada tahun 2020 sebesar 95,7 juta ton. Efek samping dari meningkatnya permintaan tersebut adalah jumlah limbah yang semakin banyak. Pengolahan 1 (satu) ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit akan menghasilkan limbah berupa tandan kosong kelapa sawit sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang (shell) sebanyak 6,5% atau 65 kg, wet decanter solid (lumpur sawit) 4 % atau 40 kg, serabut (fiber) 13% atau 130 kg serta limbah cair berupa POME sebanyak 50%. Palm Oil Mill Effluent (POME) merupakan limbah dengan jumlah terbanyak, untuk itu kajian mengenai pemanfaatannya perlu dilakukan. Nilai (μ max) tertinggi berdasarkan hasil penelitiam dimiliki oleh media Walne dengan fotoperiod 24 jam dengan nilai sebesar 0,13/hari, sedangkan yang terendah adalah media Slurry pada fotoperiod 12 jam sebesar 0,03/hari. Secara keseluruhan dari segi media yang digunakan dapat diketahui bahwa Walne tetap menjadi yang terbaik untuk produksi biomassa, dan fotoperiod yang terbaik adalah 24 jam. Biomassa tertinggi yang dihasilkan berdasarkan data tersebut dimiliki oleh media Walne pada fotoperiod 24 jam dengan nilai sebesar (0,6833±0,001) g/L yang dicapai pada kultivasi hari ke-10 sedangkan yang terendah adalah media Slurry pada fotoperiod 12 jam sebesar (0,3303±0,002) g/L yang dicapai pada kultivasi hari ke-10. Nilai rendemen biomassa sel terhadap substrat (Y x/s) tertinggi pada penelitian ini dimiliki oleh media slurry+urea pada fotoperiod 24 jam sebesar (0.182±0,003) mg biomassa/mg substrat dan terendah pada media Slurry fotoperiod 24 jam sebesar (0.017±0,0008) mg biomassa/mg substrat. Nilai tersebut menunjukkan bahwa subsrat berupa media slurry untuk produksi biomassa tidak termanfaatkan dengan baik, hal itu dapat dilihat dari nilai yield yang kecil. Media terpilih yang memiliki nilai laju pembentukan biomassa tertinggi adalah Walne dengan fotoperiod 24:00 sebesar (0.0575±0,001) mg/ml/hari. Nilai laju pembentukan biomassa terendah dimiliki oleh media slurry dengan fotoperiod 12:12 sebesar (0.0218±0,0016) mg/ml/hari. Secara keseluruhan media yang memiliki laju pembentukan biomassa paling tingggi adalah Walne. Secara keseluruhan fotoperiod terbaik untuk pembentukan biomassa adalah 24:00. Konsentrasi fikosianin tertinggi yang dihasilkan berdasarkan data tersebut dimiliki oleh media Walne pada fotoperiod 12 jam dengan nilai sebesar (0,0514 mg±0,0000) mg/mL yang dicapai pada kultivasi hari ke-10, sedangkan yang terendah adalah media Slurry pada fotoperiod 24 jam sebesar (0,0230±0,000018) mg/mL yang dicapai pada kultivasi hari ke-10. Secara keseluruhan fotoperiod yang terbaik untuk produksi fikosianin dengan konsentrasi tinggi adalah 12:12 jam. Nilai rendemen produk (fikosianin) terhadap substrat (Y p/s) tertinggi pada penelitian ini dimiliki oleh media Slurry+Urea pada fotoperiod 16:8 jam sebesar (0,0079±0,0003) mg fikosianin/mg substrat. Nilai laju pembentukan fikosianin tertinggi pada media kombinasi slurry+urea dengan fotoperiod 24:00 di hari ke-12, fotoperiod 12:12 di hari ke-10 dan fotoperiod 16:8 di hari ke-8. Nilai laju pembentukan fikosianin media kombinasi slurry+urea dengan fotoperiod 12:12 sebesar (0,0038±0,0001) mg/ml/hari. Media Walne yang merupakan media sintetik masih lebih unggul dibandingkan media organik yang digunakan. Slurry memiliki kemampuan yang cukup baik sebagai media kultivasi. Kombinasi media slurry+urea memiliki kemampuan yang yang lebih baik dan mampu bersaing dengan Walne untuk produksi biomassa dan fikosianin sehingga dapat dijadikan salah satu media alternatif.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcBiotechnologyid
dc.subject.ddcWaste Managementid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titlePemanfaatan Limbah Slurry POME untuk Produksi Biomassa dan Fikosianin dari Mikroalga Spirulina platensisid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordFikosianinid
dc.subject.keywordmediaid
dc.subject.keywordSpirulina platensisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record