Show simple item record

dc.contributor.advisorFariyanti, Anna
dc.contributor.advisorRifin, Amzul
dc.contributor.authorRahmawati, Astuti
dc.date.accessioned2019-01-14T07:19:37Z
dc.date.available2019-01-14T07:19:37Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95388
dc.description.abstractBawang merah adalah komoditas hortikultura penting bagi masyarakat Indonesia yang memiliki nilai ekonomis dan strategis tinggi. Namun, wilayah produksi bawang merah hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Perbedaan waktu panen dan karakteristiknya yang mudak rusak menambah ketidakpastian jumlah pasokan yang dapat memenuhi permintaan bawang merah. Ketidakseimbangan pasokan dan konsumsi ini menyebabkan wilayah Indonesia ada yang mengalami kelebihan dan kekurangan bawang merah yang kemudian perdampak pada perbedaan harga. Perbedaan harga mendorong terjadinya perdagangan antar provinsi dan merupakan indikasi adanya integrasi pasar. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis integrasi pasar spasial bawang merah tingkat produsen di Indonesia dan faktor-faktor penentu integrasi pasar spasial bawang merah tingkat produsen di Indonesia. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka di Badan Pusat Statistik, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan. Pasar produsen yang dianalisis adalah 28 provinsi asal dan tujuan distribusi bawang merah yang diperoleh dari Survei Pola Distribusi (POLDIS) Perdagangan Komoditas Bawang merah Indonesia 2015 Badan Pusat Statistik. Data harga tingkat produsen bulanan periode Januari 2008-Desember 2014 digunakan untuk menganalisis integrasi pasar spasial bawang merah di Indonesia. Kemudian, analisis faktor-faktor penentu integrasi pasar spasial bawang merah di Indonesia menggunakan data sekunder cross-section. Metode analisis yang digunakan adalah kointegrasi Johansen, Kausalitas Granger, Error Corection Model (ECM), dan regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terjadi integrasi pasar yang menyeluruh antar pasar produsen bawang merah di Indonesia. Terdapat 40 pasang pasar produsen (44.944%) terkointegrasi dan sisanya 49 pasang pasar produsen (55.056%) tidak terkointegrasi. Hal ini berarti bahwa pasar produsen bawang merah antar provinsi di Indonesia tidak efisien. Pasar produsen bawang merah yang tidak terintegrasi ini menyebabkan harga bawang merah tingkat produsen di Indonesia memiliki fluktuasi harga yang paling tinggi. Berdasarkan hasil uji kausalitas bahwa Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat merupakan pemimpin harga. Terdapat 74 (83.146%) pasang pasar produsen bawang merah yang terintegrasi pada jangka pendek. Faktor penentu integrasi pasar spasial bawang merah tingkat produsen di Indonesia adalah jumlah produksi bawang merah provinsi tujuan. Sedangkan, faktor-faktor penentu lainnya seperti jumlah pasar (pasar tradisional, restaurant, dan hotel), populasi penduduk, panjang jalan beraspal, jarak antar provinsi, dan pendapatan domestik regional bruto tidak signifikan memengaruhi integrasi pasar spasial bawang merah tingkat produsen di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa faktor yang dapat meningkatkan integrasi pasar bawang merah hanya pada sisi penawaran yaitu peningkatan produksi bawang merah khususnya untuk daerah-daerah yang rendah produksinya.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcAgribusinessid
dc.subject.ddcMarket Integrationid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcIndonesiaid
dc.titleIntegrasi Pasar Spasial Komoditas Bawang Merah di Indonesia.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordbawang merahid
dc.subject.keywordfaktor penentuid
dc.subject.keywordintegrasi spasialid
dc.subject.keywordpasar produsenid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record