Show simple item record

dc.contributor.advisorWibowo, Cahyo
dc.contributor.advisorBudi, Sri Wilarso
dc.contributor.authorPrasetyawati, Yan Eka
dc.date.accessioned2018-10-08T04:22:58Z
dc.date.available2018-10-08T04:22:58Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/94040
dc.description.abstractBuluh bambu betung digunakan sebagai bahan baku kertas dengan tingkat rendemen tinggi, furnitur, kerajinan, peralatan rumah tangga, bahan baku partikel, papan serat, serta arang. Buluh bambu muda atau rebung bambu betung dapat dimanfaatkan sebagai sayuran karena rasanya yang manis dan kandungan gizinya tinggi (rebung). Kebutuhan bahan baku bambu semakin meningkat seiring dengan meningkatknya laju pertumbuhan penduduk dan perkembangan ilmu pengetahuan. Peningkatan kebutuhan di masa yang akan datang tidak bisa dipenuhi dengan mengandalkan persediaan bambu dari alam, oleh karena itu, perlu didukung upaya penanaman atau budidaya bambu. Dalam rangka menunjang industri berbasis bahan baku bambu, diperlukan tegakan-tegakan rumpun dengan produktivitas dan kualitas yang lestari. Produktivitas bambu memiliki kendala dalam hal pemenuhan bibit tanaman bambu. Bambu betung cenderung sulit dikembangbiakkan, dapat dilihat dari keberhasilan perbanyakan melalui stek cabang yang relatif rendah yaitu sekitar 52% dan 60%. Salah satu karakteristik bambu betung adalah memiliki akar adventitious, yang tumbuh pada pangkal cabang. Akar adventitious banyak ditemukan di masyarakat pemilik tanaman bambu dalam keadaan sudah kering, yang ditandai dengan akar berwarna kecokelatan. Penggunaan media yang tepat menentukan keberhasilan perakaran stek. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji pengaruh kondisi cabang yang telah memiliki akar adventitious yang sudah kering dan mengkaji pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan stek cabang bambu betung. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama mengkaji pengaruh keberadaan akar adventitious terhadap pertumbuhan stek cabang. Percobaan pertama menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK), terdiri atas 3 kelompok, 2 perlakuan, dan 10 polybag untuk setiap perlakuan, sehingga jumlah total unit percobaan yang diamati adalah 60 stek cabang. Percobaan kedua mengkaji pengaruh media tanam dan keberadaan akar adventitious terhadap pertumbuhan stek cabang. Percobaan kedua menggunakan RAK faktorial, terdiri atas 3 kelompok, 2 faktor, 3 perlakuan, dan 10 polybag untuk masing-masing perlakuan, sehingga jumlah total unit percobaan yang diamati adalah 180 stek cabang. Satu polybag berisi satu stek cabang untuk masing-masing percobaan. Peubah yang diamati pada kedua percobaan tersebut adalah panjang tunas, jumlah tunas, jumlah daun, berat kering oven akar dan persentase hidup. Panjang tunas diukur setiap 2 minggu sekali, sebanyak 11 kali pengamatan, jumlah tunas, jumlah daun dan persentase hidup diukur pada saat akhir pengamatan, yaitu 22 MST (minggu setelah tanam). Berat akar kering oven diukur setelah akar dikeringkan dalam oven dengan suhu 80⁰ C selama 48 jam sampai mendapatkan berat konstan dan berat kering oven akar diperoleh setelah akar didiamkan terlebih dahulu selama 3x24 jam untuk mencapai berat konstan. Hasil penelitian percobaan pertama menunjukkan bahwa bahan stek cabang yang telah memiliki akar adventitious berpengaruh secara signifikan pada peubah panjang tunas, jumlah daun dan berat kering oven akar. Keberadaan akar adventitious tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan jumlah tunas dan persentase hidup. Pada kondisi bahan stek cabang yang telah memiliki akar adventitious, ditemukan panjang tunas tertinggi 91.40 cm, jumlah daun tertinggi 19.3 helai daun dan berat kering oven akar tertinggi 2.26 gram. Percobaan kedua menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh secara signifikan terhadap peubah jumlah daun, sedangkan keberadaan akar adventitious berpengaruh secara signifikan terhadap seluruh peubah yang diukur, baik panjang tunas, jumlah tunas, jumlah daun, berat kering oven akar maupun persentase hidup. Media terbaik ditemukan pada penggunaan campuran tanah dan arang sekam, dengan melihat nilai tertinggi pada peubah jumlah tunas 1.88 tunas, jumlah daun 12.9 helai daun, berat kering oven akar 0.52 gram dan persentase hidup 68.33%.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcSilvicultureid
dc.subject.ddcBambooid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titlePengaruh Keberadaan Akar Adventitious terhadap Pertumbuhan Stek Cabang Bambu Betung (Dendrocalamus asper Schult Backer ex Heyne).id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordakar adventitiousid
dc.subject.keywordDendrocalamus asperid
dc.subject.keywordmedia tanamid
dc.subject.keywordstek cabangid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record