Show simple item record

dc.contributor.advisorHarianto
dc.contributor.advisorPurwono, Joko
dc.contributor.authorMaemunah, A. Anna
dc.date.accessioned2018-10-04T01:30:20Z
dc.date.available2018-10-04T01:30:20Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/93936
dc.description.abstractGula merupakan salah satu komoditas perkebunan yang banyak diperdagangkan dan diproduksi oleh 120 negara diseluruh dunia. Indonesia menjadi salah satu produsen sekaligus sebagai pengimpor gula dunia. Laju konsumsi gula Indonesia cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan laju produksi menjadi salah satu pemicu meningkatnya volume impor gula Indonesia. Hal ini akan berpengaruh terhadap defisit pasokan gula di Indonesia. Gula yang paling banyak diimpor yaitu dalam bentuk raw sugar. Jenis gula ini digunakan sebagai bahan baku bagi industri gula rafinasi. Terdapat tiga negara pemasok terbesar gula ke Indonesia dalam bentuk raw sugar yaitu Thailand, Australia, dan Brazil dengan pangsa pasarnya pada tahun 2015 sebesar 97.73 persen. Pada dasarnya, impor dilakukan untuk memenuhi kelebihan permintaan gula domestik yang tidak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Namun berdasarkan data dari USDA (2014), pada tahun 2013 terjadi kelebihan impor mencapai angka tertinggi sebesar 1.13 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa faktor produksi gula dalam negeri bukan merupakan satu-satunya faktor yang memengaruhi meningkatnya volume impor gula Indonesia. Selain itu, adanya defisit gula di Indonesia memberikan peluang bagi negara produsen gula dunia dalam memasok gulanya ke Indonesia. Kondisi tersebut secara tidak langsung akan menimbulkan kompetisi diantara tiga negara pemasok yang akan bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar gula di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan analisis untuk mengetahui pola permintaan impor raw sugar Indonesia dan menganalisis tingkat persaingan diantara ketiga negara eksportir tersebut berdasarkan pada pangsa pasar dan nilai elastisitasnya yang terdiri dari elastisitas harga sendiri, elastisitas harga silang, dan elastisitas pengeluaran. Pendekatan ekonometrika digunakan dalam penelitian ini untuk menjawab permasalahan tersebut, dimana model yang digunakan yaitu model Almost Ideal Demand System (AIDS) dengan jenis data berupa data deret waktu (time series) selama 23 tahun (1994-2016). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang tidak berpengaruh nyata pada semua negara sumber impor yaitu harga raw sugar Australia, dan total nilai impor Indonesia, sedangkan variabel harga raw sugar Brazil, dan krisis ekonomi hanya berpengaruh nyata di Thailand. Thailand memiliki pangsa pasar terbesar di Indonesia, kemudian disusul oleh Australia, Brazil, dan rest of world (ROW). Nilai elastisitas harga sendiri Thailand bersifat inelastis, sementara elastisitas harga sendiri Australia dan Brazil bersifat elastis. Nilai elastisitas harga silang diantara ketiga negara sumber impor saling bersubtitusi dan komplementer. Nilai elastisitas pengeluaran di Thailand, Australia, dan Brasil bersifat elastis.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcAgribusinessid
dc.subject.ddcimport Demandsid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcIndonesiaid
dc.titlePola Permintaan Impor Raw Sugar Indonesia di Kawasan Asean dan Non Aseanid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAIDSid
dc.subject.keywordpermintaan imporid
dc.subject.keywordraw sugarid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record