Show simple item record

dc.contributor.advisorOktaviani, Rina
dc.contributor.advisorRifin, Amzul
dc.contributor.authorFebriningtyas, Miranda
dc.date.accessioned2018-06-26T04:25:39Z
dc.date.available2018-06-26T04:25:39Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92360
dc.description.abstractRules of Origin mulai berlaku semenjak pangsa produksi internasional dan inovasi teknologi dalam bidang transportasi dan telekomunikasi meningkat. Sangat sedikit produk saat ini yang bisa diproduksi di suatu negara saja. Hal ini membuat RoO menjadi perhatian utama dalam negosiasi FTA tidak terkecuali pada ASEAN+1 FTAs. RoO menentukan kriteria minimum agar suatu barang dapat dianggap “berasal” pada anggota FTA dan memenuhi syarat untuk preferensi perdagangan. Penentuan pada produk pertanian pada ASEAN+1 FTA lebih sulit bila dibandingkan dengan produk manufaktur. Sebagian besar, produk pertanian, memiliki aturan RoO wholly obtained. Sedangkan, tidak semua faktor produksi bisa didapatkan di suatu negara, membuat potensi peningkatan biaya produksi menjadi bertambah, sehingga penentuan RoO yang restriktif untuk produk pertanian, lebih memungkinkan untuk meningkatkan biaya produksi sebagai suatu proteksi dan mempengaruhi ekspor produk tersebut ke pasar ASEAN+1 FTAs. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat hambatan RoO produk pertanian ASEAN+1 FTAs melalui restrictiveness index dan pengaruhnya terhadap perdagangan komoditas tersebut di Indonesia. Berdasarkan analisis restrictiveness index, ASEAN-China Free Trade Agreement memiliki tingkat hambatan RoO yang paling besar bila dibandingkan dengan ASEAN-KOREA Free Trade Agreement dan ASEAN-JEPANG Comprehensive Economic Partenership Agreement. Hasil ini sesuai dengan hipotesis, bahwa kesepakatan yang telah lebih dulu ada memiliki tingkat hambatan yang lebih besar bila dibandingkan dengan kesepakatan lain yang baru muncul. Namun tingkat hambatan ini cenderung lebih besar pada negara anggota ASEAN sendiri, disebabkan oleh adanya perbedaan tarif. Negara ASEAN memiliki tarif rata-rata yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara mitra dagang ASEAN (Jepang, Korea Selatan dan Cina) dalam hal produk pertanian. Estimasi pengaruh tingkat hambatan RoO direpresentasikan oleh restrictiveness index dengan menggunakan gravity model. Hasil analisis data panel dapat diketahui, perdagangan produk pertanian di Indonesia sensitif terhadap perubahan RoO di ASEAN+1 FTAs. Dampak RoO pada perdagangan ini memiliki efek negatif berapa pun tingkat hambatan RoO yang ada pada produk pertanian. Semakin tinggi tingkat hambatan pada RoO, maka akan semakin mengurangi ekspor produk pertanian Indonesia. Indonesia sebagai negara yang memiliki komoditas unggulan ekspor yakni pertanian mentah, akan lebih baik untuk mengekspor produk pertanian yang telah diolah. Produk pertanian mentah cenderung memiliki aturan wholly obtained bila dibandingkan dengan produk olahan. Sehingga resiko untuk peningkatan biaya produksi dan dampak terhadap ekspor juga akan berkurang.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomicsid
dc.subject.ddcExportid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcASEANid
dc.titleDampak Rules of Origin pada Kesepakatan Perdagangan Bebas ASEAN+1 terhadap Ekspor Komoditas Pertanian Indonesia.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordRules of Originid
dc.subject.keywordKomoditas Pertanianid
dc.subject.keywordASEAN+1 FTAsid
dc.subject.keywordRestrictiveness Indexid
dc.subject.keywordModel gravitasiid
dc.subject.keywordData Panelid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record