| dc.description.abstract | Aktivitas perikanan di perairan Utara Jawa didominasi perikanan pelagis
kecil yang memegang peranan penting dalam pembangunan perikanan di
Indonesia. Meskipun secara nasional potensi ikan pelagis kecil belum
dimanfaatkan secara optimal, namun di beberapa wilayah perairan tingkat
pemanfaatannya telah melampaui potensi lestari. Laju penangkapan ikan yang
terus mengalami peningkatan dikhawatirkan akan menyebabkan tangkap lebih.
Pengetahuan tentang status kerentanan ikan perlu dikaji dalam rangka
mengevaluasi keberlanjutan stok di alam. Maka dari itu, kajian kerentanan
produktivitas perikanan (intrinsic vulnerability) menjadi kebutuhan utama dalam
pengelolaan beberapa jenis ikan di berbagai lokasi di perairan utara Jawa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kerentanan intrinsik beberapa
ikan pelagis kecil dan alat tangkap yang dioperasikan serta mengkaji rencana dan
strategi pengelolaan sumberdaya ikan pelagis kecil yang berkelanjutan di perairan
Utara Jawa.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai status
kerentanan beberapa jenis ikan pelagis kecil untuk dapat dijadikan sebagai
pertimbangan dalam pengelolaan yang berkelanjutan. Melalui pendekatan aspek
biologi dan penangkapan, data yang terbatas dikaji untuk menentukan strategi
pengelolaan multi spesies ikan pelagis kecil yang berkelanjutan. Pengambilan
ikan contoh dilaksanakan pada bulan April hingga September 2017di PPN
Karangantu, Serang, PPP Blanakan, Subang, dan PPP Eretan, Indramayu. Analisis
ikan contoh dilakukan di Laboratorium Biologi Perikanan, Divisi Manajemen
Sumberdaya Perikanan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Data yang dikumpulkan
antara lain panjang total, tinggi badan, bobot ikan, dan tingkat kematangan gonad.
Selain itu, dilakukan juga wawancara dengan kuesioner kepada 26 responden
untuk Analisis Hierarki Proses (AHP) dalam rangka menentukan prioritas
alternatif pengelolaan ikan pelagis kecil di Perairan Utara Jawa.
Ikan-ikan pelagis yang diteliti antara lain ikan selar bentong (Selar
crumenophthalmus), japuh (Dussumeria acuta), kembung perempuan
(Rastrelliger brachysoma), selar kuning (Selaroides leptolepis), selar komo (Atule
mate), dan tembang (Sardinella fimbriata). Pola pertumbuhan ikan selar bentong,
selar komo, dan tembang adalah isometrik. Sementara itu untuk pola pertumbuhan
ikan japuh dan kembung perempuan adalah alometrik positif, sedangkan ikan
selar kuning adalah alometrik negatif. Jumlah total ikan contoh yang diamati
sebanyak 1602 ekor. Dari jumlah tersebut, diketahui persentase ikan dengan
ukuran panjang kurang dari Lm50 berturut-turut dari ikan selar bentong, japuh,
kembung, selar kuning, selar komo, dan tembang adalah sebesar 96%, 96%, 63%,
92%, 99% dan 96%. Berdasarkan laju eksploitasinya, secara umum dapat
diketahui bahwa semua jenis ikan pelagis kecil yang diamati telah mengalami
over eksploitasi. Hal ini diduga terjadi karena banyaknya jenis alat tangkap yang
menangkap ikan pelagis kecil baik sebagai spesies target maupun hasil tangkapan
sampingan (by catch).
Jenis alat tangkap yang beroperasi di PPP Karangantu, Serang lebih
beranekaragam. Dari jenis 9 jenis alat tangkap yang beroperasi di Teluk Banten,
sebanyak 8 jenis alat tangkap digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil.
Sementara di PPP Blanakan, Subang dan PPP Eretan, Indramayu ikan pelagis
kecil tertangkap oleh 2 jenis alat tangkap. Alat tangkap yang menangkap ikan
tidak sesuai dengan target seharusnya antara lain jaring dogol, bagan apung, dan
bagan tancap. Sedangkan untuk alat tangkap dengan hasil tangkapan paling sesuai
dengan targetnya yaitu jaring payang, dan pukat cincin. Berdasarkan perhitungan
tingkat kerentanan produksi ikan per jenis alat tangkap, bagan apung memiliki
nilai IV catch paling tinggi yaitu sebesar 52,21 dan dikategorikan sebagai rentan
tinggi. Artinya, alat tangkap yang paling beresiko menyebabkan sumberdaya ikan
pelagis kecil rentan adalah bagan apung. Selain karena frekuensi penangkapan
tinggi (one day fishing), bagan apung mampu menangkap jumlah dan jenis ikan
non target yang paling tinggi pula dengan ukuran mata jaring sangat kecil.
Beberapa parameter kunci seperti jumlah jenis alat tangkap, jumlah
produksi tahunan, laju eksploitasi, dan ukuran pertama kali matang gonad
dianalisis untuk mengetahui potensi resiko ikan pelagis kecil terhadap deplesi.
Ikan japuh tergolong berpotensi resiko sedang karena hanya tertangkap dengan 4
jenis alat tangkap dalam jumlah yang sedikit. Sementara itu ikan kembung, selar,
dan tembang tergolong berpotensi resiko tinggi karena tertangkap dengan 9 jenis
alat tangkap, di mana yang dominan menangkapnya (bagan apung) tergolong
rentan tinggi. Hal ini memunculkan rekomendasi pengelolaan berupa
pengurangan jumlah upaya oleh kapal bagan apung. Selain itu, pengoperasian
bagan apung harus disesuaikan dengan musim penangkapan ikan target dengan
tujuan mengurangi by catch. Namun, mengacu pada hasil AHP diperoleh hasil
alternatif prioritas yaitu sosialisasi kebijakan kepada nelayan dan pelaku usaha
perikanan. Mengingat bahwa pada dasarnya semua pemangku kepentingan masih
mengutamakan kriteria kelestarian sumber daya ikan dalam mencapai tujuan
pengelolaan ikan pelagis kecil. Hal ini perlu dijadikan pertimbangan dalam
perumusan kebijakan supaya pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil tetap
lestari dan mensejahterakan semua pihak. | id |