Show simple item record

dc.contributor.advisorHernowo, Jarwadi Budi
dc.contributor.advisorPrasetyo, Lilik Budi
dc.contributor.authorPramatana, Fadlan
dc.date.accessioned2018-04-20T06:55:18Z
dc.date.available2018-04-20T06:55:18Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92009
dc.description.abstractJalak bali (Leucopsar rothschildi) merupakan jenis burung yang termasuk kedalam kategori terancam punah (Critically Endangered) menurut kategori keterancaman satwa (IUCN), kategori Appendix I menurut (CITES), dan dilindungi sejak 1971 oleh Pemerintah Indonesia. Hal ini mendorong banyak pihak untuk melakukan upaya peningkatan populasi, dan salah satunya melalui penangkaran di TNBB. Perkembangan populasi di penangkaran menghasilkan dampak yang positif, sehingga burung jalak bali dapat dilepasliarkan setiap tahunnya. Metode yang digunakan dalam pelepasliaran burung jalak bali di TNBB yaitu metode soft release. Metode ini dilakukan dengan cara memberikan semua kebutuhan jalak bali termasuk burung pengikat agar persebarannya tidak terlalu jauh dan masih dapat terpantau. Metode ini mengakibatkan pergeseran pemilihan habitat oleh jalak bali di TNBB. Pelepasliaran juga pernah dilakukan di luar habitat alaminya, yaitu Nusa Penida. Walaupun Nusa Penida memiliki kondisi habitat berbeda dengan habitat alaminya, jalak bali di Nusa Penida mampu berkembang biak tanpa adanya perlakuan tambahan. Keberhasilan perkembangan ini sempat mengalami penurunan secara drastis pada tahun 2010 hingga individu jalak bali hanya mencapai 19 ekor di Nusa Penida. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan populasi jalak bali di TNBB dan Nusa Penida, membentuk model kesesuaian habitat jalak bali di TNBB dan Nusa Penida, dan menganalisis penurunan populasi jalak bali di TNBB dan Nusa Penida. Jumlah individu jalak bali di TNBB berada pada angka 63 individu dengan angka kelahiran berjumlah 6 individu, sedangkan di Nusa Penida jumlah jalak bali berada pada angka 12 individu dengan angka kelahiran berjumlah 3 individu. Variabel yang mempengaruhi kesesuaian habitat jalak bali di TNBB diantaranya, jarak dari jalan, jarak dari desa, ketinggian, NDVI, suhu permukaan, jarak dari nest box, jarak dari lokasi pelepasliaran, kerapatan tumbuhan pakan, kerapatan tumbuhan cover, dan variabel lanskap mean patch edge. Model kesesuaian yang terbentuk memiliki nilai R2 sebesar 40.9 %. Analisis di Nusa Penida menghasilkan variabel yang mempengaruhi kesesuaian habitat jalak bali diantaranya, jarak dari jalan, ketinggian, kemiringan lereng, jarak dari nest box, dan variabel lanskap shannon’s diversity index. Model kesesuaian yang terbentuk memiliki nilai R2 sebesar 55.0 %. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat faktor yang tidak dapat dikuantitatifkan ikut serta dalam mempengaruhi pemilihan habitat jalak bali, seperti pemberian kebutuhan jalak bali di TNBB, sumberdaya yang tersedia sepanjang tahun di alam Nusa Penida, perilaku adat masyarakat Nusa Penida, maupun faktor sosial diantaranya kegiatan perburuan ilegal. Habitat jalak bali di kedua lokasi tidak mengalami perubahan yang signifikan, sehingga perubahan habitat tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab penurunan populasi. Penurunan populasi jalak bali di TNBB dan Nusa Penida dikarenakan faktor kegiatan perburuan yang hingga saat ini mungkin tidak diketahui oleh seluruh pihak di Nusa Penida.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcBiodivesityid
dc.subject.ddcHabitatid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcBali-Bali Baratid
dc.titlePerkembangan Populasi dan Perubahan Lanskap Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) di Taman Nasional Bali Barat dan Nusa Penida Baliid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordjalak baliid
dc.subject.keywordkesesuaian habitatid
dc.subject.keywordpopulasiid
dc.subject.keywordsistem informasi geografisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record