Show simple item record

dc.contributor.advisorAdrianto, Luky
dc.contributor.advisorKamal, Mohammad Mukhlis
dc.contributor.authorSetiyaningsih, Nanik
dc.date.accessioned2018-04-18T08:14:05Z
dc.date.available2018-04-18T08:14:05Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91594
dc.description.abstractTuna Sirip Biru Selatan (Southern Bluefin Tuna - SBT) merupakan ikan yang beruaya jauh (highly migratory fish) dengan satu daerah pemijahan (spawning ground) di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Nilai ekonomis sumberdaya ikan SBT yang tinggi menyebabkan tingkat eksploitasi sumberdaya ikan ini sangat tinggi. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 45 tahun 2011 menunjukkan bahwa saat ini status tingkat eksploitasi beberapa jenis tuna sudah sangat mengkhawatirkan, yaitu tereksploitasi penuh (fully exploited) hingga tereksploitasi berlebih (over exploited). Untuk tuna jenis SBT sendiri berada dalam kondisi yang over exploited. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kondisi terkini pengelolaan dan pemanfaatan perikanan tuna sirip biru selatan di Indonesia, mengestimasi Target dan Limit Reference Point untuk tuna sirip biru selatan di WPP-NRI 573, dan menyusun strategi pengelolaan perikanan tuna sirip biru selatan di Indonesia sesuai hasil estimasi terhadap Target dan Limit Reference Point. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai bulan November 2016 di Pelabuhan Benoa, Bali. Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan Harvest Control Rules (HCR), Analisis Spasial Sederhana dan Analisis Distribusi Rantai Pasok. Secara garis besar penelitian ini menghasilkan kesimpulan (1) Kondisi terkini perikanan SBT di Pelabuhan Benoa Bali daerah fishing ground SBT sebagian berada dalam area spawning ground SBT, pemasaran SBT 18% ekspor ke Jepang, 82% pemasaran lokal. (2) Berdasarkan analisis HCR berada dalam kondisi tereksploitasi sedang (moderate exploited) dengan tingkat pemanfaatan 82,99% dari nilai MSY dan tingkat upaya penangkapan 123,72%. Pengendalian output control dapat dilakukan dengan mengendalikan hasil tangkapan SBT di Indonesia adalah dengan mempertahankan pada jumlah dibawah 750 ton per tahun atau 61% dari nilai MSY. Dan pengendalian input control, dapat dilakukan dengan mempertahankan jumlah kapal penangkap SBT dalam jumlah dibawah 411 unit kapal per tahun. (3) Strategi pengelolaan perikanan tuna sirip biru selatan di Indonesia dapat dilakukan dengan menjaga hasil tangkapan SBT dibawah kuota yang ditetapkan CCSBT dan dengan memperketat pemberian izin terhadap kapalkapal penangkapan ikan SBT..id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcCoastalid
dc.subject.ddcFisheries managementid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcIndonesiaid
dc.titleTarget and Limit Reference Point Estimation of Southern Bluefin Tuna (Thunnus maccoyii) at Indonesian Fisheries Management Zone-573.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordPengelolaan Perikananid
dc.subject.keywordTuna Sirip Biru Selatanid
dc.subject.keywordHarvest Control Rulesid
dc.subject.keywordTambahan Kuotaid
dc.subject.keywordIjin Penangkapanid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record