Show simple item record

dc.contributor.advisorJusadi, Dedi
dc.contributor.advisorZairin, Muhammad
dc.contributor.advisorSuprayudi, Muhammad Agus
dc.contributor.authorMubarak, Ahmad Shofy
dc.date.accessioned2018-04-18T07:12:06Z
dc.date.available2018-04-18T07:12:06Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91462
dc.description.abstractMoina macrocopa adalah zooplankton yang memiliki ukuran dan kadar protein yang mirip dengan naupli Artemia. Pemanfaatan moina sebagai pakan alami larva ikan dan udang belum maksimal karena budidaya Moina dilakukan seperti budidaya ikan. Oleh karena itu perlu dicari terobosan baru agar Moina tidak lagi dibudidayakan, tetapi menggunakan ephipia yang ditetaskan seperti praktisya penggunaan Artemia sebagai pakan alami. Ephipia adalah produk dari reproduksi seksual Moina yang berisi embrio dalam kondisi dorman, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lama dan dapat ditetaskan setiap saat. Teknologi produksi ephipia pada spesies kladosera saat ini banyak dikembangkan menggunakan faktor induksi seperti; kualitas dan kuantitas pakan, kepadatan populasi, suhu, kualitas air dan kairomon ikan. Produksi ephipia Moina berbeda dengan spesies kladosera lainnya. Induksi produksi ephipia pada betina partenogenesis Moina tidak secara langsung menghasilkan ephipia tetapi menghasilkan anak jantan dan betina seksual yang akan menghasilkan ephipia. Teknologi produksi ephipia Moina masih memiliki permasalahan tentang; ketersediaan betina partenogenesis, ketersediaan anak jantan dan betina seksual untuk dapat menghasilkan ephipia, serta bagaimana meningkatkan kuantitas dan kualitas ephipia Moina. Dengan demikian, faktor induksi yang telah dilakukan pada kladosera lain perlu dikaji optimasinya pada produksi ephipia Moina. Tujuan khusus penelitian adalah: 1) mengkaji kualitas dan kuantitas pakan terhadap pertumbuhan populasi, efisiensi pakan dan status gizi serta produksi anak jantan dan ephipia Moina, 2) mengkaji kepadatan induk budidaya Moina untuk menghasilkan anak jantan dan betina yang menghasilkan ephipia, 3) mengkaji peningkatan produksi anak jantan dan ephipia menggunakan kombinasi beberapa faktor induksi, yaitu kuantitas pakan, kepadatan, “kairomon” feses ikan mas dan oksigen terlarut, 4) mengkaji peningkatan kualitas dan kuantitas ephipia Moina dengan penambahan sumber asam lemak n-3 di pakan. Penelitian terdiri atas tiga tahap penelitian: 1. Evaluasi pemanfaatan suspensi dedak dan ketela pohon pada populasi produksi anak jantan dan ephipia Moina macrocopa. 2.a. Kepadatan induk Moina untuk menghasilkan anak jantan dan betina yang menghasilkan ephipia. 2.b. Peningkatan produksi anak jantan dan ephipia Moina melalui kombinasi kepadatan induk, konsentrasi pakan, feses ikan mas dan oksigen terlarut. 3. Peningkatan nilai derajat penetasan ephipia Moina melalui penambahan sumber asam lemak n-3 di pakan. Budidaya Moina menggunakan pakan suspensi dedak dengan kandungan protein 11,16 % dan lemak 10,62 % menghasilkan populasi, produksi anak per induk, persentase dewasa dan biomasa yang lebih tinggi dibanding menggunakan pakan supensi ketela pohon. Moina yang dibudidaya dengan pakan suspensi dedak, memiliki konversi pakan yang lebih rendah, total RNA, total DNA dan nisbah RNA/DNA, serta konsentrasi protein dan asam amino yang lebih tinggi dibandingkan moina dengan pakan suspensi ketela pohon. Budidaya Moina menggunakan pakan suspensi dedak dapat anak jantan dan ephipia, sedangkan budidaya Moina menggunakan pakan suspensi ketela pohon tidak menghasilkan anak jantan dan ephipia. Dari penelitian ini didapatkam konsentrasi pakan suspensi dedak untuk menghasilkan produksi anak jantan (504 ind/L) dan konsentrasi pakan suspensi dedak untuk menghasilkan ephipia. Kedua konsentrasi tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan kepadatan induk optimal untuk produksi ephipia dan anak jantan yang lebih tinggi. Budidaya Moina dengan kepadatan induk 660 ind/L menghasilkan produksi anak jantan dan ephipia yang tinggi. Budidaya Moina dengan kepadatan induk 660 ind/L menggunakan pakan yang tinggi (induksi ephipia) menghasilkan total produksi ephipia (3052 ±199 butir/L) yang lebih tinggi dibandingkan menggunakan pakan yang lebih rendah (induksi ephipia) (663±5 butir/L). Produksi anak jantan yang rendah (48±6 ind/L) dan nisbah jantan betina yang rendah (<1,00%), menyebabkan produksi ephipia berisi dua telur yang rendah, sebesar 14,22± 2,08%, sebaliknya budidaya Moina dengan konsentrasi suspensi dedak yang rendah dengan total produksi anak jantan yang tinggi (116±9 ind/L) dan nisbah jantan betina yang tinggi (±4,00%) menghasilkan produksi ephipia berisi dua telur yang tinggi (78,29±2,41%). Faktor induksi kepadatan induk dan konsentrasi pakan selanjutnya akan dikombinasikan dengan faktor induksi lain yaitu “kairomon feses ikan mas dan kelarutan oksigen untuk meningkatkan produksi anak jantan dan ephipia Moina. Budidaya Moina dengan kepadatan induk 660 ind/L menggunakan aerasi dan pakan suspensi dedak yang dikombinasikan dengan feses ikan mas (kairomon) konsentrasi induksi ephipia, menghasilkan produksi total ephipia yang lebih tinggi (6069±453 butir/L). Produksi anak jantan meningkat sebanyak 253±26 ind/L pada budidaya Moina dengan kepadatan induk 660 ind/L menggunakan pakan suspensi dedak konsentrasi induksi anak jantan dengan tanpa penambahan aerasi. Peningkatan produksi anak jantan meningkatkan produksi ephipia berisi dua telur, tetapi tidak mempengaruhi derajat penetasan ephipia (6,5-18%). Peningkatan kualitas dan kuantitas ephipia Moina dapat dilakukan dengan peningkatan asam lemak n-3 suspensi dedak melalui substitusi dengan sumber pakan yang kaya asam lemak n-3 (tepung ikan). Subtitusi suspensi dedak dengan suspensi tepung ikan sebesar 30% dan 40% dalam perkawinan Moina menghasilkan produksi ephipia dengan derajat penetasan yang tinggi. Subtitusi suspensi dedak dengan suspensi tepung ikan sebesar 30%, meningkatkan konsentrasi asam lemak n-3 pada telur ephipia, diduga menjadi salah satu sebab meningkatnya derajat penetasan ephipia hingga sebesarr 55,7-55,9%. Subtitusi suspensi dedak dengan suspensi tepung ikan sebesar 30% dan 45% dalam perkawinan Moina menghasilkan produksi ephipia dengan derajat penetasan yang tinggi. Subtitusi suspensi dedak dengan suspensi tepung ikan sebesar 30%, meningkatkan konsentrasi asam lemak n-3 pada telur ephipia, diduga menjadi salah satu sebab meningkatnya derajat penetasan ephipia hingga sebesarr 55,7-55,9%.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcAquacultureid
dc.subject.ddcFish Feedingid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcBogor, Jawa Baratid
dc.titleProduksi Ephipia Moina macrocopa dengan Manipulasi Pakan, Kepadatan, “Kairomon” Ikan dan Kelarutan Oksigen.id
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordMoinaid
dc.subject.keywordephipiaid
dc.subject.keywordderajat penetasanid
dc.subject.keywordfeses ikan masid
dc.subject.keyworddedakid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record