Show simple item record

dc.contributor.advisorWidayati, Kanthi Arum
dc.contributor.advisorJuliandi, Berry
dc.contributor.authorSyah, Moh Jafron
dc.date.accessioned2018-04-18T05:11:33Z
dc.date.available2018-04-18T05:11:33Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91352
dc.description.abstractMacaca fascicularis merupakan salah satu primata yang mudah beradaptasi terhadap berbagai tipe habitat, sebagai contoh habitat terganggu seperti taman wisata alam. M. fascicularis juga menjadi salah satu jenis hama di berbagai wilayah seperti Borneo, Malaysia, Mauritus, Sumatra dan Thailand karena merusak kebun sayuran dan buah-buahan di wilayah tersebut. Konflik antara M. fascicularis dengan manusia saat ini meningkat karena adanya perubahan ekologi, salah satunya M. fascicularis yang hidup di taman wisata alam. Beberapa taman wisata alam tidak memiliki zona penyangga (buffer zone) dengan area pemukiman. Hal ini menyebakan konflik antara M. fascicularis dengan manusia meningkat karena M. fascicularis mudah menjangkau area pemukiman. Penelitian mengenai interaksi antara M. fascicularis dengan manusia ini dilakukan di Taman Wisata Alam Grojogan Sewu (TWA GS) Tawangmangu yang berada di kabupaten Karanganyar, provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Agustus sampai November tahun 2016 pada kelompok patapan yang memiliki jumlah komposisi kelompok 79 individu, terdiri dari 18 individu jantan dewasa, 23 individu betina dewasa, 33 individu remaja dan 5 individu bayi. Interaksi antara M. fascicularis dengan manusia diamati secara langsung dan wawancara terhadap pengunjung, pekerja dan warga sekitar. Berdasarkan pengamatan secara langsung, frekuensi interaksi afiliasi antara mausia dengan M. fascicularis lebih tinggi jika dibandingkan dengan interaksi agonistiknya. Interaksi afiliasi paling dominan adalah duduk berdekatan diikuti oleh kontak fisik tanpa kekerasan. Interaksi agonistik yang paling dominan adalah mencuri barang, diikuti mengancam dengan mimik muka dan suara, meneriaki dan mengejar, mencakar, menggigit, dan yang paling sedikit adalah mengepung. Hasil wawancara menunjukan bahwa interaksi afiliasi paling dominan adalah M. fascicularis duduk berdekatan dengan manusia, kemudian interaksi agonistik paling dominan adalah interaksi pencurian barang yang dikarenakan M. fascicularis tertarik dengan makanan. Seluruh responden dalam wawancara menyatakan bahwa M. fascicularis di TWA GS perlu dibiarkan hidup dan menurut mereka upaya konservasi atau perlindungan terhadap M. fascicularis di tempat tersebut penting untuk dilakukan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcAnimal Bioscienceid
dc.subject.ddcMacaquesid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcKarang Anyar-JATENGid
dc.titleInteraksi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dengan Manusia di Taman Wisata Alam Grojogan Sewu (TWA GS), Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengahid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordafiliasiid
dc.subject.keywordagonistikid
dc.subject.keywordkonservasiid
dc.subject.keywordinteraksiid
dc.subject.keywordtaman wisata alamid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record