Show simple item record

dc.contributor.advisorImpron
dc.contributor.advisorPerdinan
dc.contributor.authorKurniasih, Endah
dc.date.accessioned2018-04-18T05:02:33Z
dc.date.available2018-04-18T05:02:33Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91310
dc.description.abstractAlat monitoring kekeringan yang efektif dan handal yang mampu menyediakan peringatan dini kekeringan di bidang pertanian merupakan komponen strategi nasional yang penting dalam menghadapi kekeringan. Namun selama ini akurasi alat ini sulit diperkirakan karena keterbatasan data hasil tanaman di lapangan. Di sini kami mencoba menganalisis karakteristik kekeringan dengan menggunakan indeks kekeringan dan mengukur akurasinya dengan menghubungkan indeks tersebut dengan estimasi hasil tanaman keluaran model tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis kekeringan berdasarkan metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI) serta menganalisis dampak kekeringan terhadap potensi penurunan hasil jagung di empat wilayah di Provinsi Jawa Barat. Perhitungan SPI dan SPEI dilakukan pada skala waktu 1, 2 dan 3 bulanan. Nilai evapotranspirasi potensial (ETP) dalam perhitungan SPEI dihitung berdasarkan metode Thorthwaite (SPEITho), Hargreaves (SPEIHar) dan FAO Penman-Monteith (SPEIPen). Estimasi hasil jagung dilakukan menggunakan model tanaman, AquaCrop. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara perhitungan SPI dan SPEI (SPEITho, SPEIHar dan SPEIPen) di semua lokasi penelitan pada semua skala waktu. Kedua metode memiliki korelasi yang sangat kuat (nilai R berkisar 0.94- 0.99 dengan tingkat kepercayaan 99%). Namun apabila dianalisis dengan lebih detail, hasil perhitungan SPEI menghasilkan jumlah bulan kering yang lebih banyak dan penilaian kekeringan SPI cenderung lebih berat dibandingkan SPEI. Perbedaan metode perhitungan menyebabkan perbedaan penilaian panjang durasi, tingkat keparahan dan intensitas kekeringan tertinggi serta kapan waktu terjadinya kekeringan terparah. Berdasarkan skala waktu, terlihat bahwa makin panjang skala waktu yang dipakai dalam perhitungan SPI atau SPEI, maka makin sedikit jumlah kejadian kekeringannya namun makin besar tingkat keparahan dan makin panjang durasinya. Hubungan indeks kekeringan dan potensi penurunan hasil jagung bervariasi antara 0.0-0.68 (tingkat kepercayaan 95%). Peningkatan korelasi terjadi saat musim tanam melalui musim kemarau. Secara umum, dampak kekeringan terhadap potensi penurunan hasil jagung tergantung pada durasi dan intensitas kekeringan serta fase pertumbuhan jagung ketika kekeringan terjadi. Semakin panjang durasinya dan makin tinggi intensitasnya, maka makin besar pula potensi penurunan hasil jagungnya. Dibandingkan fase lain, kekeringan pada fase generatif menyebabkan potensi penurunan hasil jagung yang lebih tinggi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcClimatologyid
dc.subject.ddcDrought Indexid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcBogor, Jawa Baratid
dc.titlePenggunaan Indeks Kekeringan dan Model Tanaman untuk Analisis Dampak Kekeringan terhadap Potensi Penurunan Hasil Jagungid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAquaCropid
dc.subject.keywordindeks kekeringanid
dc.subject.keywordpotensi penurunan hasilid
dc.subject.keywordSPIid
dc.subject.keywordSPEIid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record