| dc.description.abstract | Penyu merupakan jenis satwa langka yang dilindungi akibat keberadaannya
yang mulai terancam punah hal ini dikarenakan pemburuan telur dan daging penyu
secara besar-besaran oleh masyarakat sekitar untuk dikonsumsi dan
diperdagangkan. Selain itu faktor biologi yang mempengaruhi ketidakberhasilan
penetasan telur antara lain adanya gangguan dari hewan-hewan predator seperti
anjing hutan, biawak, babi, musang, semut dan kepiting (ghost crab) yang
memangsa telur dalam sarang. Faktor penting yang menentukan kelangsungan
hidup populasi Penyu Hijau adalah tersedianya habitat. Populasi Penyu Hijau di
Indonesia terus menerus mengalami penurunan, penurunan populasi Penyu Hijau
di alam disebabkan oleh pencurian telur dan anak penyu semakin meningkat, lalu
lintas air yang semakin ramai oleh para nelayan serta para pengunjung dan
banyaknya vegetasi yang rusak akibat terjadinya abrasi yang mengakibatkan
terjadinya degradasi habitat penyu. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya
konservasi Penyu Hijau. Salah satu upaya mengurangi penurunana populasi Penyu
Hijau adalah dengan melakukan pembinaan dan perlindungan terhadap habitat
tempat bertelur Penyu Hijau. Sebagai kegiatan awal dari usaha penangkaran adalah
penetasan telur secara terkontrol yang juga berfungsi untuk mengantisipasi adanya
permasalahan, seperti pengambilan telur secara liar, perusakan habitat peneluran,
predator telur penyu dan perluasan pemukiman. Salah satu usaha untuk
menghindari permasalahan tersebut adalah melalui pemindahan tempat
pengeraman telur-telur penyu dari sarang alami ke sarang semi alami. Kedalaman
dan lokasi sarang yang tepat dalam proses inkubasi sangat diperlukan untuk
memperoleh daya tetas maksimal. Sehingga perlu diketahui pengaruh kedalaman
sarang terhadap lama inkubasi telur Penyu Hijau, pengaruh daerah terekspos dan
daerah ternaung (intensitas cahaya) terhadap lama inkubasi telur Penyu Hijau.
Kegiatan penelitian ini dilaksakan pada bulan November 2014 sampai Januari
2015 di kawasan konservasi penyu Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap,
Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini mengkaji tentang
pengaruh lokasi sarang (naungan) yang berbeda yaitu daerah terekspos (terkena
cahaya matahari langsung) dan lokasi ternaung (terlindung dari cahaya mata hari
langsung) dan kedalaman yang berbeda yaitu kedalaman 30 cm, 50 cm, 70 cm, 90
cm, serta sarang kontrol (K) dimana sarang ini merupakan sarang semi alami yang
kedalaman sarangnya sesuai dengan kedalaman sarang alami yang dibuat oleh
induk Penyu Hijau. Hal ini dilakukan sebagai pembanding antara sarang alami dan
sarang semi alami yang akan di perlakukan.
Hasil menunjukkan bahwa kemiringan pantai pada lokasi penelitian hampir
dikatakan landai dengan sudut kemiringan pantai berkisar antara 0.182o – 2.457o.
Hasil penelitian juga menunjukkan pada pos 3 batas, pos 3 tengah, pos 4 batas
memiliki sudut kemiringan yang lebih curam dibandingkan dengan pos-pos yang
lain. Sedangkan sudut kemiringan pantai yang sangat terlandai terdapat pada pos 6
ujung.
Berdasarkan analisis PCA ini diperoleh sarang di daerah ternaung kedalaman
memiliki korelasi positif terhadap lama masa inkubasi, dimana pada kedalaman
kontrol (alami), 30 cm dan 90 cm masa inkubasi lebih lama dengan persentase
penetasan dan suhu sarangnya lebih rendah. Sebaliknya pada daerah terekspos pada
kedalaman 30 cm, kedalaman 50 cm dan kedalaman 90 cm memiliki masa inkubasi
lebih pendek dengan persentase penetasan dan suhu sarang lebih tinggi. Semakin
lama masa inkubasi pada sarang, maka semakin rendah persentase penetasan dan
suhu pada sarang. Hal ini dapat dijelaskan bahwa suhu berperan penting dalam
proses inkubasi dan tingkat keberhasilan tetas telur. Kedalaman 70 cm pada daerah
tanpa naungan / terbuka dan daerah ternaung memiliki korelasi positif terhadap
panjang dan berat tukik yang menetas, dimana pada sarang tersebut besar tukik
lebih panjang dan berat, sebaliknya pada kedalaman kontrol (alami) pada daerah
ternaung panjang tukik yang menetas lebih pendek dan beratnya lebih ringan
dibandingkan pada kedalaman 70 cm pada daerah ternaung dan tanpa naungan.
Kedalaman sarang memiliki pengaruh terhadap lama inkubasi telur Penyu Hijau. | id |